• Latest
  • Trending
  • All
Perempuan Gubuk di Pesisir Pantai

Perempuan Gubuk di Pesisir Pantai

Januari 10, 2024

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Januari 18, 2026

Ibadah Syukur ke-89 Tahun Pekabaran Injil, Keluarga Besar A3 Mimika Teguhkan Iman dan Persaudaraan Lewat Ibadah Bersama

Januari 18, 2026

“YESUS – Sang Pencipta Impian” Karya Yulianus Mote Hadirkan Perspektif Rohani tentang Makna Impian

Januari 18, 2026

DPC GMNI Kabupaten Mimika dan Pemerintah Distrik Mimika Barat Jauh Perkuat Sinergi Pembangunan

Januari 18, 2026

MUSRENBANG KAMPUNG NAWARIPI TAHUN 2025 DESA MANDIRI NAWARIPI MENUJU DESA SWASEMBADA NAWARIPI

Januari 15, 2026
Tim Advokasi untuk Demokrasi Melawan Pembungkaman, Merawat Demokrasi: Aktivis dan Konten Kreator Laporkan Teror ke Polisi

Tim Advokasi untuk Demokrasi Melawan Pembungkaman, Merawat Demokrasi: Aktivis dan Konten Kreator Laporkan Teror ke Polisi

Januari 15, 2026

Ketua KNPI Jayawijaya Hengky Hilapok Temui Wapres Gibran, Dorong Pusat Konsolidasi Pemuda di Wamena

Januari 15, 2026

Dari Wamena, Pemuda Papua Pegunungan dan Wapres Gibran Satukan Harapan Pembangunan

Januari 14, 2026

Sinergi Pemerintah Pusat dan Desa, Bantuan Sembako Disalurkan ke Nawaripi Jaya

Januari 15, 2026

Gerbang Tertutup, Cita-Cita Tertahan: Aksi Pemalangan dan Darurat Pendidikan di Mimika

Januari 15, 2026

Musdus Nawaripi, Pemerintah Kampung Ingatkan Program Harus Berpihak ke Warga

Januari 15, 2026
Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Januari 11, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, Januari 19, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Perempuan Gubuk di Pesisir Pantai

in Opini
0
Perempuan Gubuk di Pesisir Pantai
35
SHARES
394
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Penulis: Suradin, Penggerak Literasi Selatan Dompu

Semburan mentari pagi menyapa semesta. Perempuan itu duduk memandangi tenangnya laut di teluk Cempi. Di bawah pohon rindang dengan gubuk-gubuk sederhana mengitarinya. Di pesisir yang kurang satu kilometer dari perkampungan warga. Perahu yang ditambatkan bergoyang mengikuti irama ombak yang menghempas. Ada pula beberapa perahu di sepanjang pesisir pantai dengan tali panjang yang diikatkan di salah satu pohon.

RelatedPosts

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

Di temani kopi shacet yang di simpannya di papan sebagai meja, ia sesekali melepas pandang pada luasnya lautan. Bersama para penghuni gubuk yang lain, ia membersemai hari di pesisir ini. Mengambil rumput laut, lalu dijualnya ke pengepul. Menjaring ikan lalu dijualnya ke Desa Jala, sebuah kampung terdekat yang sebagian masyarakatnya juga mencari nafkah dengan menjadi nelayan.

Saat aku datang mendekati, ia terlihat tersenyum sumringah. Tak ada kecurigaan di raut wajahnya. Ia orang darat yang memilih menjadi orang laut. Menjadikan laut sebagai mata pencahariannya. Dia belajar berkarib dengan laut yang sudah sekian tahun memberinya kehidupan. Ekonomi keluarga berjalan stabil walau resiko sewaktu-waktu bisa menghampirinya jika sedang berada di lautan.

Namannya Jubaidah. Umurnya sudah 40 tahun. Ia tinggal di Desa Daha, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu – NTB. Sudah enam tahun tinggal di pesisir pantai ini yang umumnya masyarakat kenal dengan sebutan Soro Ta’a. Sebuah wilayah pesisir dimana dirinya dan puluhan kepala keluarga mengadu nasib pada laut. Tinggal berdekatan membuat dirinya dengan warga lain serupa satu rumpun keluarga besar. Benar saja mereka memiliki hubungan darah jika dirunut satu persatu silsisalah di antara mereka.

Teluk Cempi serupa ibu bagi puluhan warga di Soro Ta’a ini. Mereka memandang laut serupa tanah gembur yang menumbuhkan benih-benih pengharapan akan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Mengambil isi di dalamnya dengan cara tradisional tanpa harus merusak habitat laut. Melepas jaring untuk menangkap ikan dan lobster. Mengambil rumput laut dengan tangan kosong tanpa bantuan alat-alat canggih. Jika perahu sudah penuh langsung putar haluan. Menepi di pantai, lalu memikulnya untuk dijemur di atas hamparan pasir putih yang memanjang.

Jika ombak datang mengamuk, angin kencang menghempas, hujan konsisten datang membasahi bumi. Di saat tidak memungkinkan untuk kembali ke laut. Di saat itulah dirinya kembali memilih menjadi orang agraris. Kembali menjadi petani. Menanam tanaman musiman seperti padi, jagung dan kacang. Menggarap sawah dengan harapan hasilnya melimpah.

Namun saat ini laut masih cukup bersahabat. Cuaca masih memberi harapan untuk kembali melaut. Dua bulan yang lalu ia sudah menghasilkan jutaan rupiah dari kerja kerasnya mengambil rumput laut di tengah lautan. Cincin dan gelang emas yang dikenakannya adalah buah dari hasil kerjanya. Laut sangat menjanjikan perbaikan ekonomi. Menjadikan kehidupan yang bisa merangkak lebih baik dari sebelumnya.

Hidup digubuk yang jauh dari kata layak. Tidak ada aliran listik. Air bersih diambil dari sumber-sumber rawa terdekat. Hidup berhimpitan dengan gubuk yang tidak seberapa besar. Tapi tak membuatnya berkecil hati. Tak ada alasan untuk mengeluh. Yang terpenting baginya pekerjaan yang kini dilakoninya memiliki penghasilan dan memberi kehidupan pada keluarganya.

“Ini merupakan salah satu sumber penghasilan saya” ucapnya datar.

Tak soal dirinya perempuan. Toh apa yang dilakukan laki-laki bisa pula dikerjakannya. Mendayung. Memikul. Bahkan berlayar di kejauhan laut tak membuat dirinya merasa was-was dan memendam khawatiran yang berlebihan. Pasalnya, saat di laut dirinya tidak sendiri. Ada banyak nelayan yang bisa disapa. Bahkan di antaranya tidak jarang memberinya bantuan kala diminta pertolongan.

Laut serupa terminal dimana para nelayan bisa bertegur sapa. Jika pun ada bahaya yang mengancam, semua seolah terpanggil untuk mengulurkan bantuan. Disadarinya cuaca dan bahaya tidak bisa diprediksi datangnya. Tapi jika terlalu memikirkan bahaya, maka tidak satu pun yang berani melaut. Namun pengalaman telah menjadi guru terhebat dalam mendidik. Mengajari segala kemungkinan terburuk yang datang tanpa kabar sekali pun. Semua orang memiliki tanggungan nasib masing-masing.

“Kalau itu tidak terlalu dipikirkan. Semua orang bisa celaka dimana pun ia berada” ujarnya penuh keyakinan sembari sesekali menyeruput kopi yang mulai tandas.

Cerita nelayan yang pernah tenggelam di lautan tak pernah membuat nyali Jubaidah ciut. Tak sedikit pun keyakinannya menjadi gentar dalam menghadapi segala resiko yang menghujam jika itu terjadi. Pengalaman dan pembacaan terhadap tanda-tanda alam menjadi modal besar baginya sebelum mengarungi lautan. Tidak jarang dirinya bersama suami tercinta. Saling menguatkan satu sama lain jika sesuatu yang terburuk terjadi.

Tapi dirinya bersyukur selama ini belum pernah terjadi sesuatu yang membahayakan nyawanya. Semua masih berjalan seperti biasa. Melaut jika air tenang dan memutuskan berhenti jika laut belum benar-benar bersahabat. Dan bagi Jubaidah ada banyak yang bisa ia lakukan dari hasilnya melaut. Rumah batu dibangun, biaya sekolah anak, beberapa sawah dapat digadaikan serta untuk biaya kehidupan sehari-hari masih sangat cukup.

Sebagai perempuan, dirinya tidak pernah menuntut banyak hal pada suaminya. Ia tak pernah mempertanyakan bahwa kerja-kerja berat mestinya harus dilakoni oleh suaminya saja. Baginya suami adalah partner. Saling melengkapi dan mendukung demi ekonomi keluarga. Lagi pula tidak hanya dirinya yang melakoni profesi ini. Ada beberapa perempuan yang meretas jalan yang sama. Menjadi nelayan yang hanya dikenal melekat pada kaum Adam, namun di pesisir Soro Ta’a nampaknya tidak berlaku.

Persepsi publik bahwa hanya laki-laki saja yang melaut dan menangkap ikan di ruang samudra, nampaknya perlu dikoreksi kembali. Konsep itu tidak bisa menjustifikasi pada semua masyarakat pesisir. Karena ada sekelabat kenyataan seperti di Soro Ta’a ini bahwa perempuan juga bisa menjadi nelayan.

Dalam satu publikasi tentang perempuan yang dikeluarkan oleh institut Kapal Perempuan NTB (2016) dengan gamblang menerangkan tentang penguatan dan kapasitas serta kepemimpinan perempuan di komunitas telah mengubah kehidupan perempuan dan komunitasnya.

Lebih terang dijelaskan bahwa peran perempuan tidak saja mengentaskan kemiskinan tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat tentang perempuan, kesetaraan gender dan pandangan bahwa nelayan, petani dan kepala keluarga yang selama ini dilekatkan pada laki-laki telah berubah. Bahkan pemerintah daerah telah mengakui bahwa nelayan bukan hanya laki-laki, juga perempuan sehingga mereka berhak mendapat bantuan program yang selama ini diberikan kepada laki-laki.

Perempuan seperti Jubaidah merupakan satu di antara perempuan yang memiliki peran yang strategis dalam keluarganya. Perempuan seperti dirinya tidak mempersoalkan tentang pemetaan peran laki-laki dan perempuan sebagaimana yang diperjuangkan oleh sebagian kaum feminisme. Tetapi sepanjang mereka bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki, sepanjang itu pula dilakukannya.

Pengalaman dalam melayari ruang samudra, mengajari perempuan hebat seperti Jubaidah matang dalam menantang nasib. Merubahnya dengan tindakan nyata. Merubah streotib banyak orang yang sudah terlanjut dilekatkan pada perempuan bahwa hanya bisa diranjang, disumur dan di dapur. Sementara pada kenyataannya mereka melakukan sesuatu melampaui kapasitasnya sebagai perempuan.

Ketika aku bertanya kepadanya tentang pekerjaan yang sedang dilakoninya, Jubaidah hanya tersenyum lebar. Baginya, sepanjang itu bisa dilakukan kenapa harus mempersoalkan apakah itu tugas perempuan atau hanya khusus dilakukan oleh laki-laki. Yang terpenting menurutnya, suami dan istri harus saling mengerti dan saling menopang satu sama lain, terlebih ketika sudah memiliki anak sebagai tanggung jawab dalam rumah tangga.

Semua harus memiliki tanggung jawab yang sama. Membedakan tanggung jawab di luar kodrat tidak lantas menjadi penting jika bisa membawa kebahagiaan bersama. Kebahagiaan tidak bisa hanya terjebak pada definisi-definisi akademisi, tetapi kebahagiaan akan melekat pada hati-hati yang pandai mensyukuri kehidupan yang dijalaninya.

Dan Jubaibadah telah membuktikannya. Pada dirinya ada embun-embun inspirasi yang dapat menggugah hati pada banyak insan di luar sana, karena tidak lama lagi dirinya akan merajuk harapan pada luasnya lautan. Aku akan memandangnya dari kejauhan saat perahunya mulai menerjang ombak. Ia dengan penuh cekatan mendayung sebelum mesin di buritan perahu di hidupkan.

Penulis: Suradin Penggerak Literasi Selatan Dompu

Tags: Dompu
Share14SendShare
Siasat ID

Siasat ID

surel: siasatindonesia [at] gmail.com

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PT. TAS. Gelar Pertemuan Lanjutan dengan Masyarakat Adat Mimika Barat Jauh, Bahas Operasional Perkebunan Kelapa Sawit

Desember 15, 2025
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Januari 18, 2026

Ibadah Syukur ke-89 Tahun Pekabaran Injil, Keluarga Besar A3 Mimika Teguhkan Iman dan Persaudaraan Lewat Ibadah Bersama

Januari 18, 2026

“YESUS – Sang Pencipta Impian” Karya Yulianus Mote Hadirkan Perspektif Rohani tentang Makna Impian

Januari 18, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In