• Latest
  • Trending
  • All
Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Maret 18, 2026

DEWAN ADAT DAERAH MIMIKA PAPUA TENGAH PERSIAPKAN KONFERENSI WILAYAH MEEPAGO TAHUN 2026

April 15, 2026

Menuju Lomba Dayung, Pembersihan Kolam Nawaripi Masuki Tahap Akhir

April 15, 2026

“Kami Bukan Objek!” Aliansi OAP Semprot Keras Sosialisasi Perda UMKM Mimika

April 15, 2026

Motor Listrik dan Kaus Kaki disorot GMNI, Belanja Negara Dipertanyakan

April 14, 2026

“Pemerintah Kampung Nawaripi Wujudkan Peningkatan Pendidikan Anak Usia Dini, TK/PAUD Resmi Gunakan Gedung Baru”

April 14, 2026

Berkunjung ke Kadis PU Kepala Kampung Nawaripi Sampaikan BUMDes Nawaripi Terdaftar Kemenkumham, Bisa Ikut Tender Proyek

April 13, 2026

Kreativitas Persit Mimika Jadikan Batu Pyrite Papua, Aksesori Bernilai Tinggi

April 13, 2026

“Antara Data dan Derita: Jutaan Anak Belajar di Sekolah Rusak, Negara Diminta Bertindak”

April 12, 2026
‎Dies Natalis ke-72 GMNI, Teguhkan Semangat Gotong Royong dan Perjuangan Ideologis Bangsa

‎Dies Natalis ke-72 GMNI, Teguhkan Semangat Gotong Royong dan Perjuangan Ideologis Bangsa

April 11, 2026
DPP GMNI Gelar Bakti Sosial Ekologis di Cilegon, Tegaskan Komitmen Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan

DPP GMNI Gelar Bakti Sosial Ekologis di Cilegon, Tegaskan Komitmen Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan

April 11, 2026

Menolak Tunduk pada Instruksi Sesat Gub, Menjaga Harga diri Pansel dari Nafsu Politik.

April 10, 2026
UMKABA Gelar Job Fair, Perkuat Skema Kuliah Sambil Kerja bagi Lulusan SMA/SMK

UMKABA Gelar Job Fair, Perkuat Skema Kuliah Sambil Kerja bagi Lulusan SMA/SMK

April 10, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, April 15, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Budaya

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

in Budaya, Opini
0
Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok
27
SHARES
298
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Arief Rahzen, pekerja budaya

SETIAP tahun di Gilimanuk dan Padangbai terbentang sebuah narasi perpindahan manusia yang kolosal. Mudik. Jika Bali jadi jantung yang memompa gairah ekonomi pariwisata, maka arus mudik jadi momentum di mana darah itu mengalir kembali ke hulu. Orang-orang kembali ke tanah kampungnya di Jawa dan Lombok. Pulang sejenak.

RelatedPosts

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

Membedah Paradoks Kwamki Narama, Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Simfoni Hidup Kaum Rebahan

Penyeberangan dari Gilimanuk ke Ketapang menunjukkan ironi puitis. Pekerja migran asal Jawa, mulai dari seniman tato di Kuta hingga kuli bangunan, kembali menelusuri Selat Bali untuk pulang. Bagi pemudik, Bali ialah Ruang Ketiga (Homi K. Bhabha). Bali bukan sepenuhnya rumah, namun bukan pula tanah asing yang dingin. Bali tampak seperti laboratorium hibriditas di mana identitas dinegosiasikan setiap hari. Di pasar-pasar Denpasar hingga proyek konstruksi di Gianyar, para perantau ini hidup dalam tegangan antara etos kerja global pariwisata dan memori tradisional yang mereka bawa dari desa.

Secara sosiologis, perjalanan ini pun bukan sekadar perpindahan titik koordinat. Di sini, ada pula pertaruhan identitas sebagai “perantau sukses”. Lihatlah bagaimana sepeda motor dimodifikasi sedemikian rupa, memuat beban yang melampaui kapasitasnya: kardus-kardus berisi belanjaan dari toko oleh-oleh di Bali. Inilah performa identitas. Motor tersebut bukan sekadar alat transportasi, melainkan monumen berjalan sebagai pernyataan kepada orang di kampung: “Aku telah bertahan hidup di tanah Dewata.”

Di Gilimanuk, sistem e-ticketing berbenturan dengan mentalitas antrean konvensional. Di sini, teknologi (modernitas) dipaksa melayani hasrat primordial (tradisi). Terjadi sebuah cultural lag di mana efisiensi digital sering kali kalah oleh ledakan volume rindu yang tak terbendung.

Sedikit berbeda, mudik dari Padangbai ke Lembar jadi perjalanan menembus batas biologis dan kultural yang lebih purba: Garis Wallace. Selat Lombok jauh lebih dalam dan jauh, mencerminkan kedalaman hubungan sejarah antara Bali dan Lombok.

Bagi masyarakat Sasak yang bekerja di Bali, mudik ialah wujud penyatuan kembali (reintegrasi). Pekerja Lombok di Bali sering kali membawa pulang etos kerja pariwisata. Mereka yang terbiasa dengan standar hospitality di Seminyak atau Ubud, membawa pulang cara berkomunikasi dan berorganisasi yang baru ke desa-desa di Lombok Tengah atau Timur. Remitansi mereka bukan hanya berupa uang tunai, melainkan pergeseran paradigma tentang bagaimana mengelola lingkungan dan potensi lokal. Inilah cara perantau menanam jejak pengalamannya di tanah kelahiran.

Secara filosofis, mudik di Bali ini merupakan jawaban atas alienasi (keterasingan) Marxian. Di Bali, para pekerja migran sering kali menjadi bagian kecil dari mesin besar industri pariwisata. Mereka mengambil posisi sekrup dalam sistem global. Mereka mungkin merasa terasing di tengah kemewahan hotel yang mereka bangun namun tak pernah sekali pun mereka tinggali.

Mudik pun jadi momen di mana mereka merebut kembali kemanusiaannya. Di meja makan di Banyuwangi atau di teras rumah di Praya, mereka bukan lagi buruh, pedagang atau staf. Mereka kembali menjadi subjek yang utuh.

“Mudik adalah cara manusia Indonesia berdamai dengan kenyataan bahwa kota (atau tempat merantau) hanyalah tempat meminjam hidup, sementara kampung halaman adalah tempat menyimpan jiwa,” begitulah kira-kira.

Lautan yang memisahkan Bali, Jawa, dan Lombok merupakan jembatan yang menyatukan memori kolektif kita. Setiap kapal feri yang membelah ombak di tengah malam mewakili sebuah kapsul waktu yang membawa harapan dari masa depan (Bali yang modern) menuju masa lalu yang hangat (kampung halaman).

Dinamika migrasi ini menunjukkan Indonesia bukanlah sekadar kumpulan daratan, melainkan jaringan arus manusia yang tak pernah berhenti berdenyut. Selama Selat Bali dan Selat Lombok masih menawarkan jalan untuk pulang, identitas kita sebagai manusia Indonesia yang dinamis akan terus terjaga.

Tags: BaliJawamudik
Share11SendShare
Siasat ID

Siasat ID

surel: siasatindonesia [at] gmail.com

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Rolling Jabatan di Mimika Dipertanyakan, GMNI: Dimana Keterlibatan OAP Dimana Hak Kesulungan Amungme, Kamoro, dan 5 Suku Kerabat

Maret 11, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

DEWAN ADAT DAERAH MIMIKA PAPUA TENGAH PERSIAPKAN KONFERENSI WILAYAH MEEPAGO TAHUN 2026

April 15, 2026

Menuju Lomba Dayung, Pembersihan Kolam Nawaripi Masuki Tahap Akhir

April 15, 2026

“Kami Bukan Objek!” Aliansi OAP Semprot Keras Sosialisasi Perda UMKM Mimika

April 15, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In