• Latest
  • Trending
  • All

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

April 1, 2026

DEWAN ADAT DAERAH MIMIKA PAPUA TENGAH PERSIAPKAN KONFERENSI WILAYAH MEEPAGO TAHUN 2026

April 15, 2026

Menuju Lomba Dayung, Pembersihan Kolam Nawaripi Masuki Tahap Akhir

April 15, 2026

“Kami Bukan Objek!” Aliansi OAP Semprot Keras Sosialisasi Perda UMKM Mimika

April 15, 2026

Motor Listrik dan Kaus Kaki disorot GMNI, Belanja Negara Dipertanyakan

April 14, 2026

“Pemerintah Kampung Nawaripi Wujudkan Peningkatan Pendidikan Anak Usia Dini, TK/PAUD Resmi Gunakan Gedung Baru”

April 14, 2026

Berkunjung ke Kadis PU Kepala Kampung Nawaripi Sampaikan BUMDes Nawaripi Terdaftar Kemenkumham, Bisa Ikut Tender Proyek

April 13, 2026

Kreativitas Persit Mimika Jadikan Batu Pyrite Papua, Aksesori Bernilai Tinggi

April 13, 2026

“Antara Data dan Derita: Jutaan Anak Belajar di Sekolah Rusak, Negara Diminta Bertindak”

April 12, 2026
‎Dies Natalis ke-72 GMNI, Teguhkan Semangat Gotong Royong dan Perjuangan Ideologis Bangsa

‎Dies Natalis ke-72 GMNI, Teguhkan Semangat Gotong Royong dan Perjuangan Ideologis Bangsa

April 11, 2026
DPP GMNI Gelar Bakti Sosial Ekologis di Cilegon, Tegaskan Komitmen Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan

DPP GMNI Gelar Bakti Sosial Ekologis di Cilegon, Tegaskan Komitmen Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan

April 11, 2026

Menolak Tunduk pada Instruksi Sesat Gub, Menjaga Harga diri Pansel dari Nafsu Politik.

April 10, 2026
UMKABA Gelar Job Fair, Perkuat Skema Kuliah Sambil Kerja bagi Lulusan SMA/SMK

UMKABA Gelar Job Fair, Perkuat Skema Kuliah Sambil Kerja bagi Lulusan SMA/SMK

April 10, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, April 15, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

in Opini, Peristiwa
0
27
SHARES
298
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Arief Rahzen, pekerja budaya

Dunia kini menyerupai panggung teater yang skenarionya digurat dengan tinta darah dan air mata. Para pemeran utamanya pun sibuk memoles topeng retorika di balik tirai kekuasaan. Di Timur Tengah, catatan sejarah kembali ditindih oleh babak-babak kehancuran yang brutal. Eskalasi konflik antara Israel yang disokong Amerika Serikat melawan poros pengaruh Iran bukan sekadar pergeseran geopolitik rutin. Ini jadi manifestasi dari kebangkrutan kemanusiaan.

RelatedPosts

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Membedah Paradoks Kwamki Narama, Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Pimpinan DPR Sahkan RUU PPRT Menjadi RUU Inisiatif DPR

Kita pernah membayangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai mercu suar pasca-Perang Dunia II, sebuah janji kolektif agar horor perang tidak berulang. Namun, di hadapan dentum artileri di Gaza atau ancaman rudal balistik lintas batas, PBB tampak seperti lembaga plang nama. Perserikatan yang hanya jadi birokrasi tanpa taring, hanya mampu memproduksi resolusi tanpa daya ikat.

Dalam narasi kuasa, PBB telah tereduksi jadi arena teater diplomatik. Hanya panggung bicara. Di sana, bahasa kemanusiaan digunakan hanya untuk negosiasi kepentingan hegemoni. Ketika veto menjadi tameng bagi agresi, dan hukum internasional hanya berlaku bagi yang lemah, kita sedang menyaksikan runtuhnya kontrak sosial universal. Kemanusiaan hanya variabel yang dikorbankan demi stabilitas kekuasaan elit global.

Ironi terbesar abad ini yakni bagaimana “demokrasi” terkooptasi untuk melegitimasi penghancuran. Demokrasi yang sering dikhotbahkan sebagai nilai luhur yang wajib diperjuangkan, sayangnya, kemudian jadi buah ludah. Ketika demokrasi itu berkaitan kepentingan strategis penguasa, demokrasi kehilangan esensi moralnya.

Demokrasi hari ini hanya jadi ilusi yang rajin didengung-dengungkan. Teori yang dibayangkan terbaik untuk bernegara. Kita berbicara tentang hak asasi manusia di forum-forum resmi, sementara pada saat yang sama, pengiriman senjata terus mengalir untuk memastikan mesin perang tetap panas. Dalam konteks ini, demokrasi bukan lagi sebuah kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan modal dan mesiu.

Pembicaraan tentang kemanusiaan pun menjadi hampa. Seolah-olah nyawa manusia memiliki nilai tukar yang berbeda tergantung pada koordinat geografis dan afiliasi politiknya. Ada semacam hierarki kesedihan yang diciptakan oleh media dan kebijakan luar negeri. Air mata di satu belahan dunia dianggap suci, sementara darah di belahan lain dianggap sebagai “biaya sampingan” (collateral damage) yang niscaya.

Fenomena ini semakin diperparah oleh cara kita mengonsumsi kekerasan. Perang di Timur Tengah kini hadir dalam siaran langsung di layar gawai kita. Namun, alih-alih memicu aksi kemanusiaan yang masif, banjir visual kekerasan ini sering kali justru melahirkan kelelahan empati.

Darah yang tumpah tersaring oleh piksel, dan jeritan ibu yang kehilangan anaknya teredam oleh algoritma yang segera menyuguhkan konten hiburan di guliran berikutnya. Digitalitas telah mengubah tragedi eksistensial menjadi tontonan konsumsi sesaat. Kita menjadi penonton yang pasif, yang merasa telah “berbuat sesuatu” hanya dengan menyematkan tagar, sementara struktur kekuasaan yang menyebabkan peperangan itu tetap kokoh tak tersentuh.

Perang antara kepentingan Israel-AS dan Iran hanyalah puncak gunung es dari dunia yang kehilangan kompas moralnya. Jika kemanusiaan hanya catatan kaki dalam laporan penguasa, dan demokrasi hanya dekorasi dalam pidato politik, maka kita sebenarnya sedang menuju masa depan yang suram. Masa depan di mana kekuatan adalah satu-satunya kebenaran.

Membangun kembali kemanusiaan memerlukan keberanian kita untuk membongkar kemunafikan diskursus global. Kita harus berani bertanya: Masihkah ada nurani di meja perundingan antar negara? Masih adakah nurani di perundingan kepentingan ekonomi negara?

Tanpa redefinisi radikal terhadap apa itu “manusia” dan “keadilan,” kita hanya terus berputar dalam lingkaran kekerasan yang sama. Sejarah pasti akan mengingat kita dari seberapa mampu kita menjaga api kemanusiaan. Apalagi keberanian jaga api kemanusiaan ketika badai kekuasaan sedang bertiup kencang. Hanya kesadaran kolektif manusia, yang melintasi batas negara dan ideologi, yang mungkin mampu menyelamatkan dari kehancuran total.

Gianyar, 1 April 2026

Tags: demokrasikemanusiaanperang
Share11SendShare
Siasat ID

Siasat ID

surel: siasatindonesia [at] gmail.com

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Rolling Jabatan di Mimika Dipertanyakan, GMNI: Dimana Keterlibatan OAP Dimana Hak Kesulungan Amungme, Kamoro, dan 5 Suku Kerabat

Maret 11, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

DEWAN ADAT DAERAH MIMIKA PAPUA TENGAH PERSIAPKAN KONFERENSI WILAYAH MEEPAGO TAHUN 2026

April 15, 2026

Menuju Lomba Dayung, Pembersihan Kolam Nawaripi Masuki Tahap Akhir

April 15, 2026

“Kami Bukan Objek!” Aliansi OAP Semprot Keras Sosialisasi Perda UMKM Mimika

April 15, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In