• Latest
  • Trending
  • All
Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

Januari 7, 2026

“Akar Kegagalan Jakarta di Papua: Mengapa Aktivis Cipayung, BEM, dan KNPI Mulai Suarakan Papua Merdeka?”

April 29, 2026

YLBH Papua Tengah Desak Presiden Prabowo Minta Maaf Kepada Pihak Keuskupan Timika

April 29, 2026

DAD dan Korem 173/PVB Perkuat Ketahanan Pangan di Papua Tengah, Dorong Pangan Lokal dalam Program MBG

April 29, 2026

Salah satu Bakal Calon Ketua KNPI MIMIKA buka suara terkait Aksi agresif yang menghantui pemuka agama di mimika

April 29, 2026

TK/PAUD Merah Putih Nawaripi Terima Bantuan Printer dan ATK dari Pemerintah Kampung

April 29, 2026

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026

DPP GMNI MENDESAK KEMENTERIAN KEHUTANAN MENINJAU KEMBALI STATUS TAMAN NASIONAL MUTIS TIMAU

April 28, 2026

Darurat Sampah Bali, Made Hiroki Luncurkan Mesin “Solusi Aksara”: Olah 100 Ton Sehari Tanpa Asap Jadi Paving Block

April 28, 2026

Respons Aliansi Peduli Pengusaha Orang Asli Papua terhadap Sosialisasi Penguatan Peran PA, KPA, dan PPK di Mimika

April 28, 2026

“Otsus Papua Dinilai Mati, Arah Kebijakan Kini Ditentukan Investasi”

April 28, 2026

Soroti Oknum DPD RI, Made Hiroki Minta Tak Ada Intervensi Kasus Dugaan KDRT Rumah Tangganya

April 26, 2026

MENAGIH JANJI KEDEWASAAN; MENGAWAL MANDAT KONSTITUSIONAL CARETAKER KNPI MIMIKAOleh: Louis Fernando Afeanpah (Ketua Cabang GMKI Timika)

April 26, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, April 30, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

in Opini
0
Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer
33
SHARES
368
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

IPA BAHYA
Alumni Universitas Gadjah Mada.

Doro Londa di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, sering dipuji sebagai anomali ekologis: sebuah kawasan perbukitan yang masih hijau, dipenuhi pepohonan besar, dan relatif bebas dari alih fungsi lahan. Namun pujian ini kerap berhenti pada kekaguman visual, tanpa keberanian mengkritik mengapa kelestarian itu bisa terjadi dan apa yang sesungguhnya dipertaruhkan di baliknya. Fakta bahwa Doro Londa tetap lestari bukan terutama karena kesadaran ekologis modern, melainkan karena ketakutan kolektif terhadap mitos hantu dan jin, justru membuka ironi besar dalam cara manusia modern memahami alam.

RelatedPosts

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Membedah Paradoks Kwamki Narama, Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Mitos tentang jin dan makhluk halus yang mendiami Doro Londa sering dicemooh sebagai takhayul. Namun jika dilihat secara kritis, mitos ini justru berfungsi lebih efektif daripada berbagai kebijakan lingkungan formal. Ketika negara gagal menghadirkan perlindungan ekologis yang tegas, mitos mengambil alih peran tersebut. Dalam konteks ini, hantu dan jin bukan sekadar entitas supranatural, melainkan alat kontrol sosial yang mengekang keserakahan manusia. Ketakutan menjadi mekanisme disipliner yang menjaga hutan tetap utuh. Ini memperlihatkan paradoks: rasionalitas modern yang mengklaim diri lebih maju justru sering menjadi aktor utama kerusakan lingkungan.

Melalui lensa ekologi politik (political ecology), kelestarian Doro Londa dapat dibaca sebagai hasil absennya kepentingan ekonomi berskala besar, bukan karena komitmen moral kolektif terhadap alam. Selama Doro Londa belum sepenuhnya “bernilai” secara kapital—misalnya untuk tambang, properti, atau infrastruktur—ia dibiarkan hidup di bawah selubung mitos. Namun sejarah di banyak tempat menunjukkan bahwa ketika nilai ekonomi muncul, mitos akan segera didelegitimasi. Jin dianggap khayalan, hantu dianggap kebodohan, dan bulldozer pun masuk tanpa rasa bersalah. Dengan demikian, mitos hanya bertahan selama ia tidak mengganggu kepentingan kuasa dan modal.

Dari sudut antropologi kritis, mitos Doro Londa berfungsi sebagai bentuk perlawanan kultural yang tidak disadari. Ia menciptakan batas simbolik terhadap eksploitasi, terutama oleh masyarakat lokal sendiri. Namun batas ini rapuh, karena tidak dilindungi oleh sistem hukum yang kuat. Ketika negara dan pasar hadir dengan bahasa “pembangunan”, mitos kehilangan legitimasi. Di sinilah letak tragedinya: pengetahuan lokal yang selama ini terbukti menjaga ekologi justru disingkirkan oleh narasi kemajuan yang eksploitatif.

Pendekatan rasionalisasi Max Weber juga relevan untuk membaca fenomena ini. Modernitas berupaya “menyihir ulang” dunia dengan logika kalkulasi dan efisiensi, menyingkirkan yang dianggap irasional. Tetapi dalam prosesnya, dunia menjadi “tercerabut dari makna”. Doro Londa, yang sebelumnya dilihat sebagai ruang hidup penuh makna spiritual, direduksi menjadi objek ekonomi. Hasilnya bukan kesejahteraan ekologis, melainkan kerusakan sistematis. Ironisnya, apa yang disebut irasional—ketakutan terhadap hantu—justru lebih rasional secara ekologis dibanding logika pembangunan modern.

Lebih tajam lagi, mitos Doro Londa juga mengungkap kemunafikan diskursus lingkungan kontemporer. Kampanye pelestarian sering datang dari luar, berbalut bahasa ilmiah dan proyek donor, tetapi mengabaikan sistem kepercayaan lokal yang telah bekerja selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ketika hutan rusak, masyarakat lokal disalahkan; ketika hutan lestari, kontribusi mereka tidak diakui karena dianggap berbasis takhayul.

Doro Londa pada akhirnya menjadi cermin kegagalan manusia modern dalam merawat alam tanpa rasa takut. Ia bertahan bukan karena cinta ekologis, melainkan karena horor kultural. Pertanyaannya bukan apakah mitos itu benar atau salah, melainkan: mengapa manusia membutuhkan ketakutan terhadap makhluk gaib untuk menahan hasrat merusaknya sendiri? Selama pertanyaan ini tidak dijawab secara jujur, maka Doro Londa hanyalah jeda sementara sebelum nalar eksploitatif kembali menang—dan hantu pun akan terusir, bersama pepohonan yang selama ini mereka “jaga”.

Tags: EkologisIpa BahyaUniversitas Gadjah Mada
Share13SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

“Akar Kegagalan Jakarta di Papua: Mengapa Aktivis Cipayung, BEM, dan KNPI Mulai Suarakan Papua Merdeka?”

April 29, 2026

YLBH Papua Tengah Desak Presiden Prabowo Minta Maaf Kepada Pihak Keuskupan Timika

April 29, 2026

DAD dan Korem 173/PVB Perkuat Ketahanan Pangan di Papua Tengah, Dorong Pangan Lokal dalam Program MBG

April 29, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In