• Latest
  • Trending
  • All
Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

Januari 7, 2026

DEWAN ADAT DAERAH MIMIKA PAPUA TENGAH PERSIAPKAN KONFERENSI WILAYAH MEEPAGO TAHUN 2026

April 15, 2026

Menuju Lomba Dayung, Pembersihan Kolam Nawaripi Masuki Tahap Akhir

April 15, 2026

“Kami Bukan Objek!” Aliansi OAP Semprot Keras Sosialisasi Perda UMKM Mimika

April 15, 2026

Motor Listrik dan Kaus Kaki disorot GMNI, Belanja Negara Dipertanyakan

April 14, 2026

“Pemerintah Kampung Nawaripi Wujudkan Peningkatan Pendidikan Anak Usia Dini, TK/PAUD Resmi Gunakan Gedung Baru”

April 14, 2026

Berkunjung ke Kadis PU Kepala Kampung Nawaripi Sampaikan BUMDes Nawaripi Terdaftar Kemenkumham, Bisa Ikut Tender Proyek

April 13, 2026

Kreativitas Persit Mimika Jadikan Batu Pyrite Papua, Aksesori Bernilai Tinggi

April 13, 2026

“Antara Data dan Derita: Jutaan Anak Belajar di Sekolah Rusak, Negara Diminta Bertindak”

April 12, 2026
‎Dies Natalis ke-72 GMNI, Teguhkan Semangat Gotong Royong dan Perjuangan Ideologis Bangsa

‎Dies Natalis ke-72 GMNI, Teguhkan Semangat Gotong Royong dan Perjuangan Ideologis Bangsa

April 11, 2026
DPP GMNI Gelar Bakti Sosial Ekologis di Cilegon, Tegaskan Komitmen Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan

DPP GMNI Gelar Bakti Sosial Ekologis di Cilegon, Tegaskan Komitmen Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan

April 11, 2026

Menolak Tunduk pada Instruksi Sesat Gub, Menjaga Harga diri Pansel dari Nafsu Politik.

April 10, 2026
UMKABA Gelar Job Fair, Perkuat Skema Kuliah Sambil Kerja bagi Lulusan SMA/SMK

UMKABA Gelar Job Fair, Perkuat Skema Kuliah Sambil Kerja bagi Lulusan SMA/SMK

April 10, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Rabu, April 15, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

in Opini
0
Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer
33
SHARES
364
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

IPA BAHYA
Alumni Universitas Gadjah Mada.

Doro Londa di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, sering dipuji sebagai anomali ekologis: sebuah kawasan perbukitan yang masih hijau, dipenuhi pepohonan besar, dan relatif bebas dari alih fungsi lahan. Namun pujian ini kerap berhenti pada kekaguman visual, tanpa keberanian mengkritik mengapa kelestarian itu bisa terjadi dan apa yang sesungguhnya dipertaruhkan di baliknya. Fakta bahwa Doro Londa tetap lestari bukan terutama karena kesadaran ekologis modern, melainkan karena ketakutan kolektif terhadap mitos hantu dan jin, justru membuka ironi besar dalam cara manusia modern memahami alam.

RelatedPosts

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Membedah Paradoks Kwamki Narama, Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Mitos tentang jin dan makhluk halus yang mendiami Doro Londa sering dicemooh sebagai takhayul. Namun jika dilihat secara kritis, mitos ini justru berfungsi lebih efektif daripada berbagai kebijakan lingkungan formal. Ketika negara gagal menghadirkan perlindungan ekologis yang tegas, mitos mengambil alih peran tersebut. Dalam konteks ini, hantu dan jin bukan sekadar entitas supranatural, melainkan alat kontrol sosial yang mengekang keserakahan manusia. Ketakutan menjadi mekanisme disipliner yang menjaga hutan tetap utuh. Ini memperlihatkan paradoks: rasionalitas modern yang mengklaim diri lebih maju justru sering menjadi aktor utama kerusakan lingkungan.

Melalui lensa ekologi politik (political ecology), kelestarian Doro Londa dapat dibaca sebagai hasil absennya kepentingan ekonomi berskala besar, bukan karena komitmen moral kolektif terhadap alam. Selama Doro Londa belum sepenuhnya “bernilai” secara kapital—misalnya untuk tambang, properti, atau infrastruktur—ia dibiarkan hidup di bawah selubung mitos. Namun sejarah di banyak tempat menunjukkan bahwa ketika nilai ekonomi muncul, mitos akan segera didelegitimasi. Jin dianggap khayalan, hantu dianggap kebodohan, dan bulldozer pun masuk tanpa rasa bersalah. Dengan demikian, mitos hanya bertahan selama ia tidak mengganggu kepentingan kuasa dan modal.

Dari sudut antropologi kritis, mitos Doro Londa berfungsi sebagai bentuk perlawanan kultural yang tidak disadari. Ia menciptakan batas simbolik terhadap eksploitasi, terutama oleh masyarakat lokal sendiri. Namun batas ini rapuh, karena tidak dilindungi oleh sistem hukum yang kuat. Ketika negara dan pasar hadir dengan bahasa “pembangunan”, mitos kehilangan legitimasi. Di sinilah letak tragedinya: pengetahuan lokal yang selama ini terbukti menjaga ekologi justru disingkirkan oleh narasi kemajuan yang eksploitatif.

Pendekatan rasionalisasi Max Weber juga relevan untuk membaca fenomena ini. Modernitas berupaya “menyihir ulang” dunia dengan logika kalkulasi dan efisiensi, menyingkirkan yang dianggap irasional. Tetapi dalam prosesnya, dunia menjadi “tercerabut dari makna”. Doro Londa, yang sebelumnya dilihat sebagai ruang hidup penuh makna spiritual, direduksi menjadi objek ekonomi. Hasilnya bukan kesejahteraan ekologis, melainkan kerusakan sistematis. Ironisnya, apa yang disebut irasional—ketakutan terhadap hantu—justru lebih rasional secara ekologis dibanding logika pembangunan modern.

Lebih tajam lagi, mitos Doro Londa juga mengungkap kemunafikan diskursus lingkungan kontemporer. Kampanye pelestarian sering datang dari luar, berbalut bahasa ilmiah dan proyek donor, tetapi mengabaikan sistem kepercayaan lokal yang telah bekerja selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ketika hutan rusak, masyarakat lokal disalahkan; ketika hutan lestari, kontribusi mereka tidak diakui karena dianggap berbasis takhayul.

Doro Londa pada akhirnya menjadi cermin kegagalan manusia modern dalam merawat alam tanpa rasa takut. Ia bertahan bukan karena cinta ekologis, melainkan karena horor kultural. Pertanyaannya bukan apakah mitos itu benar atau salah, melainkan: mengapa manusia membutuhkan ketakutan terhadap makhluk gaib untuk menahan hasrat merusaknya sendiri? Selama pertanyaan ini tidak dijawab secara jujur, maka Doro Londa hanyalah jeda sementara sebelum nalar eksploitatif kembali menang—dan hantu pun akan terusir, bersama pepohonan yang selama ini mereka “jaga”.

Tags: EkologisIpa BahyaUniversitas Gadjah Mada
Share13SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Rolling Jabatan di Mimika Dipertanyakan, GMNI: Dimana Keterlibatan OAP Dimana Hak Kesulungan Amungme, Kamoro, dan 5 Suku Kerabat

Maret 11, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

DEWAN ADAT DAERAH MIMIKA PAPUA TENGAH PERSIAPKAN KONFERENSI WILAYAH MEEPAGO TAHUN 2026

April 15, 2026

Menuju Lomba Dayung, Pembersihan Kolam Nawaripi Masuki Tahap Akhir

April 15, 2026

“Kami Bukan Objek!” Aliansi OAP Semprot Keras Sosialisasi Perda UMKM Mimika

April 15, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In