• Latest
  • Trending
  • All

Motor Listrik dan Kaus Kaki disorot GMNI, Belanja Negara Dipertanyakan

April 14, 2026

Senator PFM: Operasi 49 Alat Berat di Imeko Ilegal, Stop Sebelum Ada Izin

April 21, 2026

Dugaan Korupsi Keuangan MRP PBD, DAP Doberai: Temuan Pansus LKPJ Gubernur Pintu Masuk Periksa Seklis MRP

April 21, 2026

Kenapa Senator PFM Fokus Berantas Korupsi di PBD? Karena Uang Rakyat Di Curi ( Korupsi) oleh Oknum Pejabat di PBD

April 21, 2026

Senator PFM Minta Wapres Gibran Selesaikan 310 Rumah Jokowi yang Belum Selesai di Sorong

April 21, 2026

Momen Hari Kartini 2026, Monika Priska Wanma: Perempuan Asli Papua Harus Rebut Peluang di Industri, Tambang, dan Konstruksi

April 21, 2026

Di Hadapan Wapres, Sekjend Forum Alumni Pimpinan Cipayung Dorong Pemerintah Bangun BLK Secara Masif

April 21, 2026

Forum Alumni Pimpinan Cipayung Mimika, Apresiasi kedatangan Wapres Di Papua Tengah Mimika

April 21, 2026

ANATOMI OTSUS DI PAPUA TENGAH: ANTARA ILUSI ARITMATIKADAN PENYANDERAAN KEWENANGAN

April 21, 2026

GMNI DKI Jakarta: MDCP RI–AS Jangan Jadi Pintu Ketergantungan Pertahanan

April 20, 2026

Dana Jemaat Raib Rp28,8 M hingga Teror Pinjol, YPKIM Sebut Konsumen Keuangan Belum Terlindungi

April 20, 2026

Soroti Dana Kompensasi KLH Rp10 Miliar, Tokoh Intelektual Raja Ampat Minta MRP PBD Beberkan Rincian

April 20, 2026

Pemuda Adat Kamoro Apresiasi Kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Dorong Agenda Strategis Pembangunan Berbasis Adat

April 20, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, April 21, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Motor Listrik dan Kaus Kaki disorot GMNI, Belanja Negara Dipertanyakan

in Uncategorized
0
29
SHARES
325
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Jakarta | Pengadaan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan. Di sisi lain, penggunaan anggaran Rp 6,9 M oleh BGN untuk belanja kaus kaki memunculkan perhatian masyarakat. Dua kebijakan ini membuka kembali pertanyaan, ke mana arah prioritas anggaran negara sebenarnya ditujukan.

Ketua Bidang Politik Dewan Pimpinan Pusat GMNI, Dhipa Satwika Oey, menilai dua kebijakan ini tidak bisa dilihat secara terpisah, menurut dia, publik cenderung melihatnya sebagai rangkaian keputusan yang memperlihatkan cara negara menyusun prioritas.

RelatedPosts

Senator PFM: Operasi 49 Alat Berat di Imeko Ilegal, Stop Sebelum Ada Izin

Dugaan Korupsi Keuangan MRP PBD, DAP Doberai: Temuan Pansus LKPJ Gubernur Pintu Masuk Periksa Seklis MRP

Kenapa Senator PFM Fokus Berantas Korupsi di PBD? Karena Uang Rakyat Di Curi ( Korupsi) oleh Oknum Pejabat di PBD

Pengadaan motor listrik dalam program MBG, kata Dhipa, semestinya memiliki keterkaitan langsung dengan tujuan utamanya program, yaitu pemenuhan gizi. Sementara itu, penggunaan anggaran miliaran rupiah untuk belanja kaus kaki oleh BGN memunculkan pertanyaan tentang relevansi di tengah kebutuhan lain yang lebih mendesak.

“Dalam situasi seperti sekarang, setiap keputusan anggaran akan selalu dibandingkan. Bukan hanya soal apa yang dibelanjakan, tapi apakah itu memang yang paling dibutuhkan,” ujar Dhipa.

Terkait pengadaan motor listrik, alasan kuat kepala BGN yang beredar menyebut:
“Program ini akan menjangkau daerah-daerah yang nanti akan sangat sulit. Menjangkau desa-desa, daerah-daerah yang hanya bisa dengan motor. Itu untuk menunjang operasional,”

Bagi Dhipa, alasan itu tidak cukup. Dia melihat ruang yang belum dijawab terkait efektivitas dan ketepatan sasaran.

“Kalau memang tujuannya untuk menjangkau daerah sulit, maka harus jelas dulu daerah mana yang benar-benar sulit dijangkau. Jangan disamaratakan semua, dan datanya harus dilihatkan ke publik, biar semua masyarakat bisa melihat dan menilai” kata dia.

Ia menekankan, kebijakan tidak bisa seragam. Wilayah dengan akses terbatas harus diperhatikan dan diprioritaskan, tetapi untuk wilayah yang masih dengan akses mudah, tidak serta-merta membutuhkan prioritas yang sama

“Bisa saja difokuskan hanya pada wilayah yang memang benar-benar membutuhkan. Daerah yang aksesnya sudah mudah, tidak perlu dipaksakan mendapat perlakuan yang sama. Di situ letak efisiensinya,” ujarnya.

Tanpa pemetaan yang jelas, kata dia, kebijakan berisiko melebar tanpa arah. Di titik itu, bukan hanya efektivitas yang dipersoalkan, tetapi juga ketepatan prioritas.

“Pertanyaannya bukan pada niatnya, tetapi pada ketepatan kebijakannya,” kata dia.

GMNI meminta pemerintah dan BGN membuka secara rinci dasar pengambilan keputusan, termasuk urgensi, skema pengadaan, serta efektivitas dari masing-masing kebijakan. Transparansi, menurut Dhipa, bukan sekedar pelengkap, melainkan salah satu syarat dasar dalam pengelolaan anggaran negara

“Kalau memang ada Urgensinya jelaskan, tapi kalau tidak, publik akan membaca ini sebagai sesuatu yang sangat tidak tepat sasaran,” kata dia.

Dalam beberapa waktu terakhir, isu efisiensi anggaran kembali menguat. Sejumlah kebijakan belanja negara menjadi perhatian karena dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan sensitivitas terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Dhipa mengingatkan, kepercayaan publik tidak dibangun dari kebijakan besar saja, tetapi dari akumulasi keputusan-keputusan yang dianggap konsisten atau sebaliknya.

“Kepercayaan publik itu bukan dibangun dari satu kebijakan besar saja. Tapi dari kumpulan keputusan-keputusan kecil, yang kalau konsisten akan menguatkan, kalau tidak, justru bisa meruntuhkan.” tutupnya

Motor listrik sudah berjalan, anggaran kaus kaki telah digunakan. Penjelasan pihak terkait, sejauh ini, tidak sepenuhnya menjawab. Di titik ini, publik tidak lagi sekedar melihat dua kebijakan yang berbeda, melainkan publik telah mulai membaca arah prioritas negara, dan ketika arah itu terasa menjauh dari kebutuhan rakyat, yang terjadi bukan hanya kritik saja, melainkan keraguan yang pelan-pelan berubah menjadi ketidakpercayaan.Motor Listrik dan Kaus Kaki disorot GMNI, Belanja Negara Dipertanyakan

Pengadaan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan. Di sisi lain, penggunaan anggaran Rp 6,9 M oleh BGN untuk belanja kaus kaki memunculkan perhatian masyarakat. Dua kebijakan ini membuka kembali pertanyaan, ke mana arah prioritas anggaran negara sebenarnya ditujukan.

Ketua Bidang Politik Dewan Pimpinan Pusat GMNI, Dhipa Satwika Oey, menilai dua kebijakan ini tidak bisa dilihat secara terpisah, menurut dia, publik cenderung melihatnya sebagai rangkaian keputusan yang memperlihatkan cara negara menyusun prioritas.

Pengadaan motor listrik dalam program MBG, kata Dhipa, semestinya memiliki keterkaitan langsung dengan tujuan utamanya program, yaitu pemenuhan gizi. Sementara itu, penggunaan anggaran miliaran rupiah untuk belanja kaus kaki oleh BGN memunculkan pertanyaan tentang relevansi di tengah kebutuhan lain yang lebih mendesak.

“Dalam situasi seperti sekarang, setiap keputusan anggaran akan selalu dibandingkan. Bukan hanya soal apa yang dibelanjakan, tapi apakah itu memang yang paling dibutuhkan,” ujar Dhipa.

Terkait pengadaan motor listrik, alasan kuat kepala BGN yang beredar menyebut:
“Program ini akan menjangkau daerah-daerah yang nanti akan sangat sulit. Menjangkau desa-desa, daerah-daerah yang hanya bisa dengan motor. Itu untuk menunjang operasional,”

Bagi Dhipa, alasan itu tidak cukup. Dia melihat ruang yang belum dijawab terkait efektivitas dan ketepatan sasaran.

“Kalau memang tujuannya untuk menjangkau daerah sulit, maka harus jelas dulu daerah mana yang benar-benar sulit dijangkau. Jangan disamaratakan semua, dan datanya harus dilihatkan ke publik, biar semua masyarakat bisa melihat dan menilai” kata dia.

Ia menekankan, kebijakan tidak bisa seragam. Wilayah dengan akses terbatas harus diperhatikan dan diprioritaskan, tetapi untuk wilayah yang masih dengan akses mudah, tidak serta-merta membutuhkan prioritas yang sama

“Bisa saja difokuskan hanya pada wilayah yang memang benar-benar membutuhkan. Daerah yang aksesnya sudah mudah, tidak perlu dipaksakan mendapat perlakuan yang sama. Di situ letak efisiensinya,” ujarnya.

Tanpa pemetaan yang jelas, kata dia, kebijakan berisiko melebar tanpa arah. Di titik itu, bukan hanya efektivitas yang dipersoalkan, tetapi juga ketepatan prioritas.

“Pertanyaannya bukan pada niatnya, tetapi pada ketepatan kebijakannya,” kata dia.

GMNI meminta pemerintah dan BGN membuka secara rinci dasar pengambilan keputusan, termasuk urgensi, skema pengadaan, serta efektivitas dari masing-masing kebijakan. Transparansi, menurut Dhipa, bukan sekedar pelengkap, melainkan salah satu syarat dasar dalam pengelolaan anggaran negara

“Kalau memang ada Urgensinya jelaskan, tapi kalau tidak, publik akan membaca ini sebagai sesuatu yang sangat tidak tepat sasaran,” kata dia.

Dalam beberapa waktu terakhir, isu efisiensi anggaran kembali menguat. Sejumlah kebijakan belanja negara menjadi perhatian karena dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan sensitivitas terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Dhipa mengingatkan, kepercayaan publik tidak dibangun dari kebijakan besar saja, tetapi dari akumulasi keputusan-keputusan yang dianggap konsisten atau sebaliknya.

“Kepercayaan publik itu bukan dibangun dari satu kebijakan besar saja. Tapi dari kumpulan keputusan-keputusan kecil, yang kalau konsisten akan menguatkan, kalau tidak, justru bisa meruntuhkan.” tutupnya

Motor listrik sudah berjalan, anggaran kaus kaki telah digunakan. Penjelasan pihak terkait, sejauh ini, tidak sepenuhnya menjawab. Di titik ini, publik tidak lagi sekedar melihat dua kebijakan yang berbeda, melainkan publik telah mulai membaca arah prioritas negara, dan ketika arah itu terasa menjauh dari kebutuhan rakyat, yang terjadi bukan hanya kritik saja, melainkan keraguan yang pelan-pelan berubah menjadi ketidakpercayaan.

Share12SendShare
Redaksi Papua

Redaksi Papua

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Rolling Jabatan di Mimika Dipertanyakan, GMNI: Dimana Keterlibatan OAP Dimana Hak Kesulungan Amungme, Kamoro, dan 5 Suku Kerabat

Maret 11, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Senator PFM: Operasi 49 Alat Berat di Imeko Ilegal, Stop Sebelum Ada Izin

April 21, 2026

Dugaan Korupsi Keuangan MRP PBD, DAP Doberai: Temuan Pansus LKPJ Gubernur Pintu Masuk Periksa Seklis MRP

April 21, 2026

Kenapa Senator PFM Fokus Berantas Korupsi di PBD? Karena Uang Rakyat Di Curi ( Korupsi) oleh Oknum Pejabat di PBD

April 21, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In