Arief Rahzen, pekerja budaya
Dunia kini menyerupai panggung teater yang skenarionya digurat dengan tinta darah dan air mata. Para pemeran utamanya pun sibuk memoles topeng retorika di balik tirai kekuasaan. Di Timur Tengah, catatan sejarah kembali ditindih oleh babak-babak kehancuran yang brutal. Eskalasi konflik antara Israel yang disokong Amerika Serikat melawan poros pengaruh Iran bukan sekadar pergeseran geopolitik rutin. Ini jadi manifestasi dari kebangkrutan kemanusiaan.
Kita pernah membayangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai mercu suar pasca-Perang Dunia II, sebuah janji kolektif agar horor perang tidak berulang. Namun, di hadapan dentum artileri di Gaza atau ancaman rudal balistik lintas batas, PBB tampak seperti lembaga plang nama. Perserikatan yang hanya jadi birokrasi tanpa taring, hanya mampu memproduksi resolusi tanpa daya ikat.
Dalam narasi kuasa, PBB telah tereduksi jadi arena teater diplomatik. Hanya panggung bicara. Di sana, bahasa kemanusiaan digunakan hanya untuk negosiasi kepentingan hegemoni. Ketika veto menjadi tameng bagi agresi, dan hukum internasional hanya berlaku bagi yang lemah, kita sedang menyaksikan runtuhnya kontrak sosial universal. Kemanusiaan hanya variabel yang dikorbankan demi stabilitas kekuasaan elit global.
Ironi terbesar abad ini yakni bagaimana “demokrasi” terkooptasi untuk melegitimasi penghancuran. Demokrasi yang sering dikhotbahkan sebagai nilai luhur yang wajib diperjuangkan, sayangnya, kemudian jadi buah ludah. Ketika demokrasi itu berkaitan kepentingan strategis penguasa, demokrasi kehilangan esensi moralnya.
Demokrasi hari ini hanya jadi ilusi yang rajin didengung-dengungkan. Teori yang dibayangkan terbaik untuk bernegara. Kita berbicara tentang hak asasi manusia di forum-forum resmi, sementara pada saat yang sama, pengiriman senjata terus mengalir untuk memastikan mesin perang tetap panas. Dalam konteks ini, demokrasi bukan lagi sebuah kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan modal dan mesiu.
Pembicaraan tentang kemanusiaan pun menjadi hampa. Seolah-olah nyawa manusia memiliki nilai tukar yang berbeda tergantung pada koordinat geografis dan afiliasi politiknya. Ada semacam hierarki kesedihan yang diciptakan oleh media dan kebijakan luar negeri. Air mata di satu belahan dunia dianggap suci, sementara darah di belahan lain dianggap sebagai “biaya sampingan” (collateral damage) yang niscaya.
Fenomena ini semakin diperparah oleh cara kita mengonsumsi kekerasan. Perang di Timur Tengah kini hadir dalam siaran langsung di layar gawai kita. Namun, alih-alih memicu aksi kemanusiaan yang masif, banjir visual kekerasan ini sering kali justru melahirkan kelelahan empati.
Darah yang tumpah tersaring oleh piksel, dan jeritan ibu yang kehilangan anaknya teredam oleh algoritma yang segera menyuguhkan konten hiburan di guliran berikutnya. Digitalitas telah mengubah tragedi eksistensial menjadi tontonan konsumsi sesaat. Kita menjadi penonton yang pasif, yang merasa telah “berbuat sesuatu” hanya dengan menyematkan tagar, sementara struktur kekuasaan yang menyebabkan peperangan itu tetap kokoh tak tersentuh.
Perang antara kepentingan Israel-AS dan Iran hanyalah puncak gunung es dari dunia yang kehilangan kompas moralnya. Jika kemanusiaan hanya catatan kaki dalam laporan penguasa, dan demokrasi hanya dekorasi dalam pidato politik, maka kita sebenarnya sedang menuju masa depan yang suram. Masa depan di mana kekuatan adalah satu-satunya kebenaran.
Membangun kembali kemanusiaan memerlukan keberanian kita untuk membongkar kemunafikan diskursus global. Kita harus berani bertanya: Masihkah ada nurani di meja perundingan antar negara? Masih adakah nurani di perundingan kepentingan ekonomi negara?
Tanpa redefinisi radikal terhadap apa itu “manusia” dan “keadilan,” kita hanya terus berputar dalam lingkaran kekerasan yang sama. Sejarah pasti akan mengingat kita dari seberapa mampu kita menjaga api kemanusiaan. Apalagi keberanian jaga api kemanusiaan ketika badai kekuasaan sedang bertiup kencang. Hanya kesadaran kolektif manusia, yang melintasi batas negara dan ideologi, yang mungkin mampu menyelamatkan dari kehancuran total.
Gianyar, 1 April 2026








