• Latest
  • Trending
  • All

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

April 1, 2026
PNM Akan Dikelola Kementerian Keuangan, GMNI : PNM Harus Tetap Dengan Wajah Aslinya

PNM Akan Dikelola Kementerian Keuangan, GMNI : PNM Harus Tetap Dengan Wajah Aslinya

April 30, 2026

Gandeng Pemprov Bali, PT Aksara Cristy Legal Siap Luncurkan Mesin Olah Sampah Tanpa Asap

April 30, 2026

Atasi Krisis Sampah, PT Aksara Cristy Legal Siapkan Mesin Pirolisis Tanpa Pembakaran

April 30, 2026

Kuasa Hukum Dr. Togar Situmorang Sebut Vonis Tendensius, Ungkap DM ‘Siap Dipenjara’ Sebelum Palu Diketuk

April 30, 2026

“Perpustakaan Merah Putih Nawaripi Dapat Perhatian, Dinas Perpustakaan Mimika Lakukan Peninjauan”

April 30, 2026

“Akar Kegagalan Jakarta di Papua: Mengapa Aktivis Cipayung, BEM, dan KNPI Mulai Suarakan Papua Merdeka?”

April 29, 2026

YLBH Papua Tengah Desak Presiden Prabowo Minta Maaf Kepada Pihak Keuskupan Timika

April 29, 2026

DAD dan Korem 173/PVB Perkuat Ketahanan Pangan di Papua Tengah, Dorong Pangan Lokal dalam Program MBG

April 29, 2026

Salah satu Bakal Calon Ketua KNPI MIMIKA buka suara terkait Aksi agresif yang menghantui pemuka agama di mimika

April 29, 2026

TK/PAUD Merah Putih Nawaripi Terima Bantuan Printer dan ATK dari Pemerintah Kampung

April 29, 2026

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026

DPP GMNI MENDESAK KEMENTERIAN KEHUTANAN MENINJAU KEMBALI STATUS TAMAN NASIONAL MUTIS TIMAU

April 28, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, April 30, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

in Opini, Peristiwa
0
27
SHARES
299
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Arief Rahzen, pekerja budaya

Dunia kini menyerupai panggung teater yang skenarionya digurat dengan tinta darah dan air mata. Para pemeran utamanya pun sibuk memoles topeng retorika di balik tirai kekuasaan. Di Timur Tengah, catatan sejarah kembali ditindih oleh babak-babak kehancuran yang brutal. Eskalasi konflik antara Israel yang disokong Amerika Serikat melawan poros pengaruh Iran bukan sekadar pergeseran geopolitik rutin. Ini jadi manifestasi dari kebangkrutan kemanusiaan.

RelatedPosts

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Membedah Paradoks Kwamki Narama, Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Pimpinan DPR Sahkan RUU PPRT Menjadi RUU Inisiatif DPR

Kita pernah membayangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai mercu suar pasca-Perang Dunia II, sebuah janji kolektif agar horor perang tidak berulang. Namun, di hadapan dentum artileri di Gaza atau ancaman rudal balistik lintas batas, PBB tampak seperti lembaga plang nama. Perserikatan yang hanya jadi birokrasi tanpa taring, hanya mampu memproduksi resolusi tanpa daya ikat.

Dalam narasi kuasa, PBB telah tereduksi jadi arena teater diplomatik. Hanya panggung bicara. Di sana, bahasa kemanusiaan digunakan hanya untuk negosiasi kepentingan hegemoni. Ketika veto menjadi tameng bagi agresi, dan hukum internasional hanya berlaku bagi yang lemah, kita sedang menyaksikan runtuhnya kontrak sosial universal. Kemanusiaan hanya variabel yang dikorbankan demi stabilitas kekuasaan elit global.

Ironi terbesar abad ini yakni bagaimana “demokrasi” terkooptasi untuk melegitimasi penghancuran. Demokrasi yang sering dikhotbahkan sebagai nilai luhur yang wajib diperjuangkan, sayangnya, kemudian jadi buah ludah. Ketika demokrasi itu berkaitan kepentingan strategis penguasa, demokrasi kehilangan esensi moralnya.

Demokrasi hari ini hanya jadi ilusi yang rajin didengung-dengungkan. Teori yang dibayangkan terbaik untuk bernegara. Kita berbicara tentang hak asasi manusia di forum-forum resmi, sementara pada saat yang sama, pengiriman senjata terus mengalir untuk memastikan mesin perang tetap panas. Dalam konteks ini, demokrasi bukan lagi sebuah kedaulatan rakyat, melainkan kedaulatan modal dan mesiu.

Pembicaraan tentang kemanusiaan pun menjadi hampa. Seolah-olah nyawa manusia memiliki nilai tukar yang berbeda tergantung pada koordinat geografis dan afiliasi politiknya. Ada semacam hierarki kesedihan yang diciptakan oleh media dan kebijakan luar negeri. Air mata di satu belahan dunia dianggap suci, sementara darah di belahan lain dianggap sebagai “biaya sampingan” (collateral damage) yang niscaya.

Fenomena ini semakin diperparah oleh cara kita mengonsumsi kekerasan. Perang di Timur Tengah kini hadir dalam siaran langsung di layar gawai kita. Namun, alih-alih memicu aksi kemanusiaan yang masif, banjir visual kekerasan ini sering kali justru melahirkan kelelahan empati.

Darah yang tumpah tersaring oleh piksel, dan jeritan ibu yang kehilangan anaknya teredam oleh algoritma yang segera menyuguhkan konten hiburan di guliran berikutnya. Digitalitas telah mengubah tragedi eksistensial menjadi tontonan konsumsi sesaat. Kita menjadi penonton yang pasif, yang merasa telah “berbuat sesuatu” hanya dengan menyematkan tagar, sementara struktur kekuasaan yang menyebabkan peperangan itu tetap kokoh tak tersentuh.

Perang antara kepentingan Israel-AS dan Iran hanyalah puncak gunung es dari dunia yang kehilangan kompas moralnya. Jika kemanusiaan hanya catatan kaki dalam laporan penguasa, dan demokrasi hanya dekorasi dalam pidato politik, maka kita sebenarnya sedang menuju masa depan yang suram. Masa depan di mana kekuatan adalah satu-satunya kebenaran.

Membangun kembali kemanusiaan memerlukan keberanian kita untuk membongkar kemunafikan diskursus global. Kita harus berani bertanya: Masihkah ada nurani di meja perundingan antar negara? Masih adakah nurani di perundingan kepentingan ekonomi negara?

Tanpa redefinisi radikal terhadap apa itu “manusia” dan “keadilan,” kita hanya terus berputar dalam lingkaran kekerasan yang sama. Sejarah pasti akan mengingat kita dari seberapa mampu kita menjaga api kemanusiaan. Apalagi keberanian jaga api kemanusiaan ketika badai kekuasaan sedang bertiup kencang. Hanya kesadaran kolektif manusia, yang melintasi batas negara dan ideologi, yang mungkin mampu menyelamatkan dari kehancuran total.

Gianyar, 1 April 2026

Tags: demokrasikemanusiaanperang
Share11SendShare
Siasat ID

Siasat ID

surel: siasatindonesia [at] gmail.com

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1
PNM Akan Dikelola Kementerian Keuangan, GMNI : PNM Harus Tetap Dengan Wajah Aslinya

PNM Akan Dikelola Kementerian Keuangan, GMNI : PNM Harus Tetap Dengan Wajah Aslinya

April 30, 2026

Gandeng Pemprov Bali, PT Aksara Cristy Legal Siap Luncurkan Mesin Olah Sampah Tanpa Asap

April 30, 2026

Atasi Krisis Sampah, PT Aksara Cristy Legal Siapkan Mesin Pirolisis Tanpa Pembakaran

April 30, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In