
Suara tembakan kembali memecah sunyi pegunungan Tembagapura. Di tengah situasi keamanan yang terus memanas, warga sipil kembali menjadi korban. Sedikitnya beberapa warga dilaporkan meninggal dunia dan lainnya mengalami luka-luka dalam insiden penembakan yang terjadi di kawasan Kali Kabur, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.
Peristiwa tragis ini memicu kepanikan besar-besaran. Ratusan warga memilih meninggalkan lokasi dan mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman. Tangisan keluarga korban, kepanikan anak-anak, hingga ketakutan masyarakat menjadi gambaran nyata dari situasi mencekam yang kembali menghantui tanah Papua, khususnya Mimika.
Menurut keterangan warga setempat, korban diduga merupakan masyarakat sipil yang sedang beraktivitas di sekitar area pendulangan. Namun hingga kini, penyebab pasti dan kronologi lengkap kejadian masih simpang siur. Aparat keamanan disebut telah melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak.
Insiden ini kembali memunculkan pertanyaan besar tentang jaminan keamanan masyarakat sipil di wilayah konflik. Di saat rakyat kecil hanya ingin bekerja dan bertahan hidup, nyawa mereka justru berada di tengah ancaman kekerasan bersenjata yang terus berulang.
Pemuda Muslim Mimika mendesak agar seluruh pihak menahan diri dan mengutamakan keselamatan warga sipil. Mereka menilai konflik berkepanjangan hanya akan meninggalkan trauma, ketakutan, dan penderitaan bagi masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam pertikaian.
“Jangan jadikan rakyat kecil sebagai korban dari konflik yang tidak mereka inginkan. Tanah ini butuh kedamaian, bukan darah yang terus tumpah,” ujar salah satu Pemuda Muslim Mimika.
Hingga berita ini diterbitkan, situasi di beberapa titik sekitar Tembagapura dilaporkan masih dalam pengawasan aparat keamanan. Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi, serta mengutamakan keselamatan diri dan keluarga.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keamanan dan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama di Tanah Papua. Sebab ketika warga sipil kembali menjadi korban, maka sesungguhnya kemanusiaan sedang dipertaruhkan.







