
Merenung di Tengah Genangan: Cermin Krisis Ekologi Kota Mimika Kondisi jalanan protokol di Mimika yang kerap berubah menjadi aliran sungai saat hujan deras bukan sekadar masalah cuaca, melainkan sebuah peringatan alam.
Fenomena ini adalah akumulasi dari tiga kelalaian yang saling berkelindan:
- Sampah: Monumen Kelalaian Kita Sungai yang tersumbat oleh tumpukan sampah plastik dan limbah rumah tangga adalah refleksi dari rendahnya kesadaran lingkungan. Setiap sampah yang dibuang sembarangan ke aliran air bukan berarti hilang, melainkan “menabung” bencana. Sampah tersebut menyumbat nadi kota (drainase), memaksa air mencari jalannya sendiri ke permukaan aspal dan masuk ke rumah-rumah warga.
- Penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS): Ruang yang Terampas Pembangunan pemukiman yang mengokupasi bantaran sungai demi tuntutan ekonomi dan tempat tinggal telah mengorbankan daya serap alam. Sungai-sungai di Mimika yang dulunya lebar kini terjepit oleh beton dan bangunan permanen. Kehilangan DAS berarti kehilangan benteng pertahanan pertama dalam menghadapi volume air hujan yang tinggi. Kota yang terus tumbuh secara fisik tanpa mengindahkan koridor air hanya akan menciptakan siklus banjir yang abadi.
- Infrastruktur yang Tertinggal: Selokan yang Tak Lagi Berfungsi Sistem drainase dan selokan di beberapa wilayah dalam kota Mimika saat ini tampak sudah melampaui kapasitasnya (overload). Dimensi selokan yang sempit, ditambah dengan sedimentasi (pendangkalan) akibat pasir dan sampah, membuatnya gagal menjadi penyalur air yang efektif. Ketika kapasitas tampung lebih kecil dari curah hujan, maka banjir adalah keniscayaan teknis.Penutup Menyelesaikan masalah ini tidak cukup hanya dengan mengeruk selokan setahun sekali. Dibutuhkan ketegasan pemerintah dalam menata tata ruang pemukiman, perbaikan infrastruktur drainase yang terintegrasi, dan yang paling krusial: perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Jika kita terus membiarkan sungai menyempit dan tersumbat, maka kita sedang mewariskan kota yang rapuh bagi generasi mendatang.Sudahkah kita memperlakukan saluran air di depan rumah kita sebagai bagian dari sistem kehidupan, atau justru sebagai tempat sampah tersembunyi?

Dengan demikian Ketua GMNI MIMIKA Bung Christo Toffy Mengapresiasi Langkah-langkah yang dilakukan oleh Bupati Mimika Yang terjun langsung untuk Melihat kondisi yang dirasakan Oleh Masyarakat saat Datang Musim Hujan, dan juga langkah yang telah dilakukan Oleh Kadistrik MIRU Ibu Merlin Temorubun
Harapannya Tindakan ini menjadi contoh untuk Kadistrik dan Dinas Lainnya yang selalu harus turun melihat kondisi masyarakat lalu mencoba memberikan terobosan kerja guna memastikan Masyarakat merasakan kehadiran Pemerintah.







