
Oleh : Ketua KNPI Jayawijaya Hengky Hilapok.
Mengapa Suara Papua Merdeka Bergaung di Organisasi OKP/Cipayung, BEM, dan KNPI?
Ini Alasan.
Teriakan Papua Merdeka yang muncul dari HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, BEM, dan KNPI, seharusnya tidak dibaca sebagai tindakan makar semata, melainkan sebagai kegagalan total pendekatan keamanan di Tanah Papua.
Ketika organisasi yang selama ini menjadi dasar ideologi bangsa mulai bersuara keras, maka ada beberapa realitas tajam yang perlu Negara Perbaiki sebagai bentuk kasih sayang terhadap Rakyat Papua.
Selama dekade terakhir, Jakarta terlalu percaya diri bahwa, pembangunan infrastruktur dapat membungkam luka sejarah. Namun, teriakan dari aktivis mahasiswa dan Pemuda membuktikan bahwa pembangunan fisik tanpa keadilan martabat adalah sia-sia. Mahasiswa dan Pemuda melihat ada diskoneksi antara kemegahan angka ekonomi dengan realitas represi di lapangan.

Keterlibatan organisasi mahasiswa dan Pemuda dalam isu PAPUA ZONA DARURAT MILITER & KEMANUSIAAN merupakan Papua dalam Ancaman Militerisme. Issue Papua Merdeka telah berpindah dari hutan-hutan ke meja diskusi intelektual di Tanah Papua.
Kehadiran militer yang masif dianggap bukan lagi sebagai pelindung, melainkan sebagai instrumen pembungkaman suara kritis dan ancaman bagi Rakyat Papua.
Kami melihat bahwa, pendekatan senjata hanya melanggengkan siklus kekerasan yang tidak akan pernah selesai jika akar masalah seperti pelanggaran HAM berat papua terus diabaikan.
Kami memiliki warna ideologi yang berbeda. Namun, ketika kami bersatu dalam isu Papua, maka ini menunjukkan adanya krisis kemanusiaan yang bersifat universal diatas Tanah Papua.

Jika organisasi yang berasaskan kebangsaan sudah mulai meragukan cara negara mengelola Papua, maka moralitas negara dalam mempertahankan wilayah tersebut sedang dipertanyakan di hadapan hukum moral mahasiswa dan Pemuda Papua.
Kesimpulan.
Jangan kaget jika teriakan PAPUA MERDEKA muncul dari OKP/Cipayung, BEM, dan KNPI. Hal itu adalah reaksi logis dari kebijakan yang lebih mengedepankan moncong senjata daripada dialog yang setara.
Jika negara terus menjawab kegelisahan Rakyat Papua dengan stigma atau represi tambahan, maka negara sebenarnya sedang mempercepat hilangnya kepercayaan dari generasi muda dan Rakyat papua terhadap keutuhan NKRI itu sendiri. Karena Papua tidak sedang diancam oleh pihak asing, melainkan sedang tercekik oleh bayang-bayang militerisme yang gagal membedakan mana aspirasi kemanusiaan dan mana ancaman kedaulatan.




