Cikeas, Siasat ID— Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang juga merupakan alumnus Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), menyatakan kesediaannya menjadi mentor dan pembina organisasi tersebut. Kesediaan ini disampaikan saat menerima kunjungan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GSNI di kediamannya, Cikeas, Selasa (3/11/2026).
Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membangun kesinambungan sejarah, pemikiran, dan perjuangan antargenerasi. Bagi DPP GSNI, kesediaan SBY merupakan peluang memperkuat kapasitas organisasi melalui pengalaman langsung dari seorang tokoh bangsa yang tumbuh bersama organisasi tersebut.
Kesediaan SBY, Kehormatan sekaligus Tanggung Jawab Besar
Ketua Umum DPP GSNI, M. Fadil Tegar Syafian, menyambut baik dan mengapresiasi langkah tersebut.

“Pertama-tama tentu kami bersyukur dan gembira akhirnya Pak SBY bersedia menerima permohonan kami para juniornya untuk beraudiensi langsung dengan beliau. Apalagi ketika beliau menyampaikan bahwa beliau berkenan menjadi mentor GSNI. Ini bukan sekadar bentuk dukungan moral, tetapi juga menjadi jembatan penting bagi generasi pelajar hari ini untuk belajar dari pengalaman, pemikiran, dan perjalanan perjuangan generasi sebelumnya,” ujar Fadil.
Ia menegaskan, kehadiran SBY diharapkan membantu GSNI tidak kehilangan akar sejarahnya, sekaligus tetap mampu membaca perkembangan zaman dan menjawab tantangan masa depan. GSNI juga akan terus menjadi ruang pendidikan politik, pembentukan karakter, serta penguatan kesadaran kritis pelajar.
Pendidikan Sebagai Proses Memanusiakan Manusia
Dalam dialog yang berlangsung hangat, SBY dan jajaran DPP GSNI membahas sejumlah isu strategis. Salah satunya adalah pentingnya mengembalikan hakikat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Pendidikan tidak boleh semata-mata diarahkan untuk melayani kebutuhan industri dan pasar kerja, melainkan harus membentuk manusia yang merdeka berpikir, berkarakter, memiliki kesadaran sosial, dan mampu berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pertemuan juga menyoroti maraknya perundungan di lingkungan pendidikan. Sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi setiap pelajar. Penanganannya memerlukan penguatan pendidikan karakter, empati, dan solidaritas — bukan hanya pendekatan penghukuman semata.
Selain itu, turut dibahas tantangan generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi. Generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kemandirian, dan kesadaran kebangsaan agar mampu ikut menentukan arah masa depan Indonesia.
Jembatan Antargenerasi untuk Indonesia yang Lebih Baik
GSNI memandang pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan upaya nyata mempertemukan pengalaman dan gagasan lintas generasi dalam satu kesinambungan perjuangan. Kesediaan SBY untuk mendampingi GSNI diharapkan menjadi penguatan bagi organisasi untuk terus bertumbuh, menjaga nilai-nilai historisnya, serta memperluas kontribusinya bagi dunia pendidikan dan kebangsaan.













