Arief Rahzen, pekerja budaya
SETIAP tahun di Gilimanuk dan Padangbai terbentang sebuah narasi perpindahan manusia yang kolosal. Mudik. Jika Bali jadi jantung yang memompa gairah ekonomi pariwisata, maka arus mudik jadi momentum di mana darah itu mengalir kembali ke hulu. Orang-orang kembali ke tanah kampungnya di Jawa dan Lombok. Pulang sejenak.
Penyeberangan dari Gilimanuk ke Ketapang menunjukkan ironi puitis. Pekerja migran asal Jawa, mulai dari seniman tato di Kuta hingga kuli bangunan, kembali menelusuri Selat Bali untuk pulang. Bagi pemudik, Bali ialah Ruang Ketiga (Homi K. Bhabha). Bali bukan sepenuhnya rumah, namun bukan pula tanah asing yang dingin. Bali tampak seperti laboratorium hibriditas di mana identitas dinegosiasikan setiap hari. Di pasar-pasar Denpasar hingga proyek konstruksi di Gianyar, para perantau ini hidup dalam tegangan antara etos kerja global pariwisata dan memori tradisional yang mereka bawa dari desa.
Secara sosiologis, perjalanan ini pun bukan sekadar perpindahan titik koordinat. Di sini, ada pula pertaruhan identitas sebagai “perantau sukses”. Lihatlah bagaimana sepeda motor dimodifikasi sedemikian rupa, memuat beban yang melampaui kapasitasnya: kardus-kardus berisi belanjaan dari toko oleh-oleh di Bali. Inilah performa identitas. Motor tersebut bukan sekadar alat transportasi, melainkan monumen berjalan sebagai pernyataan kepada orang di kampung: “Aku telah bertahan hidup di tanah Dewata.”
Di Gilimanuk, sistem e-ticketing berbenturan dengan mentalitas antrean konvensional. Di sini, teknologi (modernitas) dipaksa melayani hasrat primordial (tradisi). Terjadi sebuah cultural lag di mana efisiensi digital sering kali kalah oleh ledakan volume rindu yang tak terbendung.
Sedikit berbeda, mudik dari Padangbai ke Lembar jadi perjalanan menembus batas biologis dan kultural yang lebih purba: Garis Wallace. Selat Lombok jauh lebih dalam dan jauh, mencerminkan kedalaman hubungan sejarah antara Bali dan Lombok.
Bagi masyarakat Sasak yang bekerja di Bali, mudik ialah wujud penyatuan kembali (reintegrasi). Pekerja Lombok di Bali sering kali membawa pulang etos kerja pariwisata. Mereka yang terbiasa dengan standar hospitality di Seminyak atau Ubud, membawa pulang cara berkomunikasi dan berorganisasi yang baru ke desa-desa di Lombok Tengah atau Timur. Remitansi mereka bukan hanya berupa uang tunai, melainkan pergeseran paradigma tentang bagaimana mengelola lingkungan dan potensi lokal. Inilah cara perantau menanam jejak pengalamannya di tanah kelahiran.
Secara filosofis, mudik di Bali ini merupakan jawaban atas alienasi (keterasingan) Marxian. Di Bali, para pekerja migran sering kali menjadi bagian kecil dari mesin besar industri pariwisata. Mereka mengambil posisi sekrup dalam sistem global. Mereka mungkin merasa terasing di tengah kemewahan hotel yang mereka bangun namun tak pernah sekali pun mereka tinggali.
Mudik pun jadi momen di mana mereka merebut kembali kemanusiaannya. Di meja makan di Banyuwangi atau di teras rumah di Praya, mereka bukan lagi buruh, pedagang atau staf. Mereka kembali menjadi subjek yang utuh.
“Mudik adalah cara manusia Indonesia berdamai dengan kenyataan bahwa kota (atau tempat merantau) hanyalah tempat meminjam hidup, sementara kampung halaman adalah tempat menyimpan jiwa,” begitulah kira-kira.
Lautan yang memisahkan Bali, Jawa, dan Lombok merupakan jembatan yang menyatukan memori kolektif kita. Setiap kapal feri yang membelah ombak di tengah malam mewakili sebuah kapsul waktu yang membawa harapan dari masa depan (Bali yang modern) menuju masa lalu yang hangat (kampung halaman).
Dinamika migrasi ini menunjukkan Indonesia bukanlah sekadar kumpulan daratan, melainkan jaringan arus manusia yang tak pernah berhenti berdenyut. Selama Selat Bali dan Selat Lombok masih menawarkan jalan untuk pulang, identitas kita sebagai manusia Indonesia yang dinamis akan terus terjaga.







