• Latest
  • Trending
  • All
Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Maret 18, 2026

“Kisruh KNPI Waropen, GMNI Warning Keras: Tolak Kepengurusan Tanpa SK Kemenkumham”

Maret 26, 2026

“GMNI Biak Numfor Tegaskan: MRP Harus Kembali ke Roh Perjuangan atau Kehilangan Legitimasinya”

Maret 26, 2026

“Hegemoni Pembangunan di Mimika: Antara Klaim Keberhasilan dan Realitas yang Tersembunyi”

Maret 26, 2026

Gereja Baptis West Papua Gelar Komperensi Pilih Pimpinan Wilayah Yang Baru

Maret 25, 2026

GMNI Desak Sanksi Tegas Selly Kareth: Ucapan Rasis Ganggu SARA dan Picu Konflik

Maret 25, 2026

“Gubernur di Persimpangan: Lindungi Rakyat atau Gusur Tanah Adat Demi Polda?”

Maret 25, 2026

PERAN PEREMPUAN DALAM DINAMIKA MODERN:Refleksi dan Gagasan Vinechya D. Munua pada Dies Natalis GMNI ke-72

Maret 23, 2026

Meritokrasi ASN Mimika Dipertanyakan, Cipayung Terbelah: Aktivis Soroti Cacat Prosedur dan Krisis Integritas

Maret 20, 2026

Bupati Mimika Paparkan Mekanisme Rotasi ASN di Forum Alumni Cipayung

Maret 19, 2026

GMNI MERAUKE: PEMBANGUNAN HARUS BERPIHAK, BUKAN MENINGGALKAN RAKYAT

Maret 19, 2026

Personil Koramil 06 Agimuga dan Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXV Kodim 1710/Mimika Menggelar Aksi Berbagi Takjil.

Maret 18, 2026
Menanam Harapan di Jantung Jayawijaya: Aksi Naila M. Wenda Melawan Krisis Iklim

Menanam Harapan di Jantung Jayawijaya: Aksi Naila M. Wenda Melawan Krisis Iklim

Maret 18, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, Maret 27, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Budaya

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

in Budaya, Opini
0
Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok
26
SHARES
294
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Arief Rahzen, pekerja budaya

SETIAP tahun di Gilimanuk dan Padangbai terbentang sebuah narasi perpindahan manusia yang kolosal. Mudik. Jika Bali jadi jantung yang memompa gairah ekonomi pariwisata, maka arus mudik jadi momentum di mana darah itu mengalir kembali ke hulu. Orang-orang kembali ke tanah kampungnya di Jawa dan Lombok. Pulang sejenak.

RelatedPosts

Membedah Paradoks Kwamki Narama, Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Simfoni Hidup Kaum Rebahan

Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer

Penyeberangan dari Gilimanuk ke Ketapang menunjukkan ironi puitis. Pekerja migran asal Jawa, mulai dari seniman tato di Kuta hingga kuli bangunan, kembali menelusuri Selat Bali untuk pulang. Bagi pemudik, Bali ialah Ruang Ketiga (Homi K. Bhabha). Bali bukan sepenuhnya rumah, namun bukan pula tanah asing yang dingin. Bali tampak seperti laboratorium hibriditas di mana identitas dinegosiasikan setiap hari. Di pasar-pasar Denpasar hingga proyek konstruksi di Gianyar, para perantau ini hidup dalam tegangan antara etos kerja global pariwisata dan memori tradisional yang mereka bawa dari desa.

Secara sosiologis, perjalanan ini pun bukan sekadar perpindahan titik koordinat. Di sini, ada pula pertaruhan identitas sebagai “perantau sukses”. Lihatlah bagaimana sepeda motor dimodifikasi sedemikian rupa, memuat beban yang melampaui kapasitasnya: kardus-kardus berisi belanjaan dari toko oleh-oleh di Bali. Inilah performa identitas. Motor tersebut bukan sekadar alat transportasi, melainkan monumen berjalan sebagai pernyataan kepada orang di kampung: “Aku telah bertahan hidup di tanah Dewata.”

Di Gilimanuk, sistem e-ticketing berbenturan dengan mentalitas antrean konvensional. Di sini, teknologi (modernitas) dipaksa melayani hasrat primordial (tradisi). Terjadi sebuah cultural lag di mana efisiensi digital sering kali kalah oleh ledakan volume rindu yang tak terbendung.

Sedikit berbeda, mudik dari Padangbai ke Lembar jadi perjalanan menembus batas biologis dan kultural yang lebih purba: Garis Wallace. Selat Lombok jauh lebih dalam dan jauh, mencerminkan kedalaman hubungan sejarah antara Bali dan Lombok.

Bagi masyarakat Sasak yang bekerja di Bali, mudik ialah wujud penyatuan kembali (reintegrasi). Pekerja Lombok di Bali sering kali membawa pulang etos kerja pariwisata. Mereka yang terbiasa dengan standar hospitality di Seminyak atau Ubud, membawa pulang cara berkomunikasi dan berorganisasi yang baru ke desa-desa di Lombok Tengah atau Timur. Remitansi mereka bukan hanya berupa uang tunai, melainkan pergeseran paradigma tentang bagaimana mengelola lingkungan dan potensi lokal. Inilah cara perantau menanam jejak pengalamannya di tanah kelahiran.

Secara filosofis, mudik di Bali ini merupakan jawaban atas alienasi (keterasingan) Marxian. Di Bali, para pekerja migran sering kali menjadi bagian kecil dari mesin besar industri pariwisata. Mereka mengambil posisi sekrup dalam sistem global. Mereka mungkin merasa terasing di tengah kemewahan hotel yang mereka bangun namun tak pernah sekali pun mereka tinggali.

Mudik pun jadi momen di mana mereka merebut kembali kemanusiaannya. Di meja makan di Banyuwangi atau di teras rumah di Praya, mereka bukan lagi buruh, pedagang atau staf. Mereka kembali menjadi subjek yang utuh.

“Mudik adalah cara manusia Indonesia berdamai dengan kenyataan bahwa kota (atau tempat merantau) hanyalah tempat meminjam hidup, sementara kampung halaman adalah tempat menyimpan jiwa,” begitulah kira-kira.

Lautan yang memisahkan Bali, Jawa, dan Lombok merupakan jembatan yang menyatukan memori kolektif kita. Setiap kapal feri yang membelah ombak di tengah malam mewakili sebuah kapsul waktu yang membawa harapan dari masa depan (Bali yang modern) menuju masa lalu yang hangat (kampung halaman).

Dinamika migrasi ini menunjukkan Indonesia bukanlah sekadar kumpulan daratan, melainkan jaringan arus manusia yang tak pernah berhenti berdenyut. Selama Selat Bali dan Selat Lombok masih menawarkan jalan untuk pulang, identitas kita sebagai manusia Indonesia yang dinamis akan terus terjaga.

Tags: BaliJawamudik
Share10SendShare
Siasat ID

Siasat ID

surel: siasatindonesia [at] gmail.com

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Rolling Jabatan di Mimika Dipertanyakan, GMNI: Dimana Keterlibatan OAP Dimana Hak Kesulungan Amungme, Kamoro, dan 5 Suku Kerabat

Maret 11, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

“Kisruh KNPI Waropen, GMNI Warning Keras: Tolak Kepengurusan Tanpa SK Kemenkumham”

Maret 26, 2026

“GMNI Biak Numfor Tegaskan: MRP Harus Kembali ke Roh Perjuangan atau Kehilangan Legitimasinya”

Maret 26, 2026

“Hegemoni Pembangunan di Mimika: Antara Klaim Keberhasilan dan Realitas yang Tersembunyi”

Maret 26, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In