• Latest
  • Trending
  • All
Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer

Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer

Februari 4, 2026

PENGURUS DAERAH KARANG TARUNA MIMIKA Apresiasi Dukungan Dinas Sosial dan Koorwil Papua

April 17, 2026

GMNI Mimika Apresiasi Dinas Koperasi dan BRIDA, Dorong Kolaborasi Riset untuk UMKM

April 17, 2026

GSNI Lumajang Kobarkan Semangat Nasionalisme Melalui Seminar “Rise of Young Patriots

April 16, 2026

“Terkuak! Dugaan ‘Permainan Kotor’ di Balik Proyek Jila, Nama OAP Diduga Dipakai!”

April 16, 2026

DEWAN ADAT DAERAH MIMIKA PAPUA TENGAH PERSIAPKAN KONFERENSI WILAYAH MEEPAGO TAHUN 2026

April 15, 2026

Menuju Lomba Dayung, Pembersihan Kolam Nawaripi Masuki Tahap Akhir

April 15, 2026

“Kami Bukan Objek!” Aliansi OAP Semprot Keras Sosialisasi Perda UMKM Mimika

April 15, 2026

Motor Listrik dan Kaus Kaki disorot GMNI, Belanja Negara Dipertanyakan

April 14, 2026

“Pemerintah Kampung Nawaripi Wujudkan Peningkatan Pendidikan Anak Usia Dini, TK/PAUD Resmi Gunakan Gedung Baru”

April 14, 2026

Berkunjung ke Kadis PU Kepala Kampung Nawaripi Sampaikan BUMDes Nawaripi Terdaftar Kemenkumham, Bisa Ikut Tender Proyek

April 13, 2026

Kreativitas Persit Mimika Jadikan Batu Pyrite Papua, Aksesori Bernilai Tinggi

April 13, 2026

“Antara Data dan Derita: Jutaan Anak Belajar di Sekolah Rusak, Negara Diminta Bertindak”

April 12, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer

in Opini
0
Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer
28
SHARES
315
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

(Sebuah Interpretasi Sosiologis)

Oleh: Imam Sutrisno (Tau Samawa di Perantauan).

RelatedPosts

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Membedah Paradoks Kwamki Narama, Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Selalu ada sesuatu yang melampaui nada pada tiupan Serunai, Ia tak pernah gagal
menghadirkan nuansa magis yang terasa lampau sekaligus sakral. Pun demikian, ketika Ia
bersekongkol dan membahana bersama tabuh Rabana serta serak vokal yang menghentak
pada intro lagu “Tau Samawa”, seolah ingin menarik paksa imajinasi kita mengarungi kepingan- kepingan ingatan kolektif tentang “sapuan ana” yang guyub, yang royong yang intim dan
bersahabat – sebuah potret yang di gambarkan oleh Ferdinand Tönnies sebagai masyarakat
‘gemeinschaft’.

Menariknya, lagu “Tau Samawa” yang di nyanyikan dengan penuh Harmoni oleh Iqbal dan Widi
tak ingin berhenti pada sekedar melantunkan kerinduan atas nilai dan keluhuran dari yang
‘sapuan ana’. Mereka berdua melalui lirik yang menohok, memprovokasi kita untuk melihat
secara objektif realitas antropologis ‘Tana Samawa’ kontemporer dan sekaligus mengajak kita
menancapkan jangkar etos kolektif dalam menghadapi corak sosiologis yang ‘mungkin’ mulai
menunjukkan gejala pergeseran menuju masyarakat ‘Gesellschaft’ — sebuah tatanan
patembayan yang dingin, anonim, dan kerap kali membuat kita kehilangan navigasi moral.

Arketipe Inklusivitas “Tana Samawa” sebagai etos kolektif

Pengungkapan realitas antropologis dimulai sejak lagu ini berusaha mengetengahkan ontologi
muasal “Tana Samawa” dengan frasa “Tau Ka Ada, Tau Ka Datang”. Dan dengan cara ini lagu
“Tau Samawa” mengkalibrasi gelombang kesadaran kita agar beresonansi di frekuensi yang
sama. Frekuensi yang didalamnya terdapat keyakinan akan dua hal mendasar; Pertama, keberagaman yang tediri dari variabel ‘Ka Ada’ dan ‘Ka Datang’ adalah dua entitas yang padu
dan sinergi lalu melebur menjadi satu identitas baru bernama masyarakat sumbawa
kontemporer. Kedua, Identitas baru inilah yang wajib di insafi menjadi bagian dari arketipe
peradaban kita hari ini.

Dengan demikian, lagu “Tau Samawa” dalam batasan tertentu dapat pula dimaknai sebagai
sebuah upaya serius untuk mengaktivasi landasan etos baru yang lebih objektif dan realistis, juga inklusif. Etos yang mengakui secara tegas bahwa keberagaman adalah bagian dari “yang
ontologis”. Sebuah ikhtiar yang krusial, mengingat upaya pembangunan peradaban (kini dan
kedepannya) — jika hendak mengarah pada pencapaian yang adiluhung — mensyaratkan
tersedianya algoritma sosial yang akurat dan relevan. Yang membuka kemungkinan dan menggerakkan setiap individu dalam masyarakat untuk “Sasopo Diri – Sasopo Riri”, yakni yang
berpijak pada realitas objektif yang inklusif dan fleksibel—bukan hanya pada ilusi standart
modernitas yang bias (footloose).

Mantra “Restorasi Nilai” yang Preskriptif

Bait ke-tiga hingga akhir, lagu “Tau Samawa” nampak melampaui batas-batas seni dan
kesusastraan dalam pengertian umum, Ia menjelma rapalan mantra restorasi nilai, merajutnya
kembali persis di pusat hamparan zaman, membisikkannya kepada para pelaku dan penerus
kebudayaan dalam bentuk Ethnomusicology yang seimbang. Penggubahnya bak “Sandro
Peradaban” yang mengangkat kembali kepusakaan “pasatotang tau sapuan/balo tolo” (nasehat/pitutur nenek moyang) tentang bagaimana semestinya “pikir dan laku” menempatkan
tiga pilar utama; pangeto, ila, ke saling satingi (pengetahuan, kehormatan, saling support)
sebagai nilai yang wajib di atributkan pada diri. Selayaknya ‘sandro’ (tabib), Ia memang di tuntut
untuk mampu membaca gejala ‘penyakit’ zaman, sekaligus juga meresepkan “penawar” (Road
Map) yang presisi. Disanalah letak preskripsi dari lirik dalam lagu “Tau Samawa”, pada ‘nilai
lama’ yang di introdusir ulang agar menjadi perangkat norma sebagai bagian dari rancang
bangun/konstruksi masa depan yang diharapkan lebih baik.

Tentang Sebuah Seruan Aksi dan Harapan Keberlanjutan

Bait keempat dan kelima secara teknis bisa dikatakan merupakan ujung dari senandung “Tau
Samawa”, namun sejatinya ia hanyalah permulaan dari sebuah seruan untuk bergerak. Jika
melalui lagu ini Iqbal bermaksud mendeklarasikan sebuah sistem restorasi nilai dan seruan
moral yang melampaui batas-batas lirik dan nada, maka ia telah berhasil sepenuhnya. Sebaliknya, jika kita (para pendengar) hanya berhenti pada ke-terbuai-an
(Semacam’songorgasm’ : pemuasan emosional sesaat melalui harmoni lirik dan nada), maka
tentu patut disayangkan. Frasa ‘Sakompal Satego Gama’, ‘Na Sangilang Na Sanonda’, disamping
menegaskan bahwa lagu ini lebih nampak sebagai sebuah ‘provokasi3 melodik’ ketimbang
sekedar menyajikan ‘katharsis melodik’, juga menekankan bahwa hanya dengan komitment
soliditas dan kasatuan harmonik (kompal,tego) yang secara konsisten dilestarikan dan
diaktifkan (Na Ilang, Na Nonda), kita (Tau Samawa) akan tiba pada masa depan yang lebih
menjanjikan kemajuan dalam makna yang sebenarnya.

Last But Not Least, melalui penggunaan istilah “maris”4
, Sang Penggubah nampak ingin
mengingatkan kita bahwa menjadi Tau Samawa adalah proses panjang yang sebaiknya tidak
terputus dari “yang ontologis” (asal-usul yang beragam dan inklusif), terus perpegang pada
“pasatotang sapauan” (pilar pangeto, ila dan saling satingi) sembari tanpa ragu memandang
jauh ke depan dan melangkah menuju pencapaian cita-cita menuju Sumbawa yang Sama
Balong dan Sama Lewa.
…. He hee he heee eee ee (ho ham) He heee eee eee he (ho ham) He heee eee eee…. (Bunyi
Vokal pada Bridge transisi dari bait keempat ke bait kelima)

Tags: Budaya SamawaKontemporer
Share11SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Rolling Jabatan di Mimika Dipertanyakan, GMNI: Dimana Keterlibatan OAP Dimana Hak Kesulungan Amungme, Kamoro, dan 5 Suku Kerabat

Maret 11, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

PENGURUS DAERAH KARANG TARUNA MIMIKA Apresiasi Dukungan Dinas Sosial dan Koorwil Papua

April 17, 2026

GMNI Mimika Apresiasi Dinas Koperasi dan BRIDA, Dorong Kolaborasi Riset untuk UMKM

April 17, 2026

GSNI Lumajang Kobarkan Semangat Nasionalisme Melalui Seminar “Rise of Young Patriots

April 16, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In