• Latest
  • Trending
  • All
Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer

Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer

Februari 4, 2026

Aliansi Peduli Pegusaha OAP: Pangan Lokal (KELADI, SINGKONG, SAGU) Harus Jadi Menu MBG

Maret 16, 2026

Pengangkatan DPRK Jalur Otsus Jayawijaya Diminta Sesuai Hasil Pansel, Forum Pribumi KNPI Siap Turun Aksi

Maret 15, 2026

“Ketua PA Alumni GMNI Mimika Justin Homer: Jika Tak Lindungi Hak OAP, MRP Lebih Baik Dievaluasi!”

Maret 15, 2026

MEMBEDAH PARADOKS KWAMKI NARAMA Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Maret 14, 2026

KNPI dan IPKN Gelar Buka Puasa Bersama serta Dialog Interaktif di Kwamki Narama

Maret 14, 2026
Ketua Bidang Kemaritiman DPP GMNI Buka Konfercab GMNI Lombok Timur

Ketua Bidang Kemaritiman DPP GMNI Buka Konfercab GMNI Lombok Timur

Maret 13, 2026
GMNI Lombok Timur Gelar Konferensi Cabang, Hamran: Harap Lahir Pemimpin yang Naik Kelas

GMNI Lombok Timur Gelar Konferensi Cabang, Hamran: Harap Lahir Pemimpin yang Naik Kelas

Maret 13, 2026
Dukung Ketahanan Pangan, Bulog Serap Ribuan Kilogram Gabah Petani Pragaan

Dukung Ketahanan Pangan, Bulog Serap Ribuan Kilogram Gabah Petani Pragaan

Maret 13, 2026
Pimpinan DPR Sahkan RUU PPRT Menjadi RUU Inisiatif DPR

Pimpinan DPR Sahkan RUU PPRT Menjadi RUU Inisiatif DPR

Maret 12, 2026

Dominasi Non-OAP di Jabatan Strategis Picu Kritik: Otonomi Khusus Papua Dianggap Melenceng

Maret 12, 2026

Suara dari KNPI: Kembalikan Fungsi Keamanan Organik, Hentikan Mobilisasi non Organik.

Maret 12, 2026

Papua Tengah Bergejolak, Aktivis GMNI Desak Evaluasi MRP dan Audit Dana Negara

Maret 12, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, Maret 16, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer

in Opini
0
Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer
28
SHARES
309
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

(Sebuah Interpretasi Sosiologis)

Oleh: Imam Sutrisno (Tau Samawa di Perantauan).

RelatedPosts

Simfoni Hidup Kaum Rebahan

Tubuh Kita, Pelajaran Hidup yang Sering Terlupakan

Demokrasi Desa yang Tersesat: Ketika Pemilihan Kepala Desa Hanya Mengejar Jabatan

Selalu ada sesuatu yang melampaui nada pada tiupan Serunai, Ia tak pernah gagal
menghadirkan nuansa magis yang terasa lampau sekaligus sakral. Pun demikian, ketika Ia
bersekongkol dan membahana bersama tabuh Rabana serta serak vokal yang menghentak
pada intro lagu “Tau Samawa”, seolah ingin menarik paksa imajinasi kita mengarungi kepingan- kepingan ingatan kolektif tentang “sapuan ana” yang guyub, yang royong yang intim dan
bersahabat – sebuah potret yang di gambarkan oleh Ferdinand Tönnies sebagai masyarakat
‘gemeinschaft’.

Menariknya, lagu “Tau Samawa” yang di nyanyikan dengan penuh Harmoni oleh Iqbal dan Widi
tak ingin berhenti pada sekedar melantunkan kerinduan atas nilai dan keluhuran dari yang
‘sapuan ana’. Mereka berdua melalui lirik yang menohok, memprovokasi kita untuk melihat
secara objektif realitas antropologis ‘Tana Samawa’ kontemporer dan sekaligus mengajak kita
menancapkan jangkar etos kolektif dalam menghadapi corak sosiologis yang ‘mungkin’ mulai
menunjukkan gejala pergeseran menuju masyarakat ‘Gesellschaft’ — sebuah tatanan
patembayan yang dingin, anonim, dan kerap kali membuat kita kehilangan navigasi moral.

Arketipe Inklusivitas “Tana Samawa” sebagai etos kolektif

Pengungkapan realitas antropologis dimulai sejak lagu ini berusaha mengetengahkan ontologi
muasal “Tana Samawa” dengan frasa “Tau Ka Ada, Tau Ka Datang”. Dan dengan cara ini lagu
“Tau Samawa” mengkalibrasi gelombang kesadaran kita agar beresonansi di frekuensi yang
sama. Frekuensi yang didalamnya terdapat keyakinan akan dua hal mendasar; Pertama, keberagaman yang tediri dari variabel ‘Ka Ada’ dan ‘Ka Datang’ adalah dua entitas yang padu
dan sinergi lalu melebur menjadi satu identitas baru bernama masyarakat sumbawa
kontemporer. Kedua, Identitas baru inilah yang wajib di insafi menjadi bagian dari arketipe
peradaban kita hari ini.

Dengan demikian, lagu “Tau Samawa” dalam batasan tertentu dapat pula dimaknai sebagai
sebuah upaya serius untuk mengaktivasi landasan etos baru yang lebih objektif dan realistis, juga inklusif. Etos yang mengakui secara tegas bahwa keberagaman adalah bagian dari “yang
ontologis”. Sebuah ikhtiar yang krusial, mengingat upaya pembangunan peradaban (kini dan
kedepannya) — jika hendak mengarah pada pencapaian yang adiluhung — mensyaratkan
tersedianya algoritma sosial yang akurat dan relevan. Yang membuka kemungkinan dan menggerakkan setiap individu dalam masyarakat untuk “Sasopo Diri – Sasopo Riri”, yakni yang
berpijak pada realitas objektif yang inklusif dan fleksibel—bukan hanya pada ilusi standart
modernitas yang bias (footloose).

Mantra “Restorasi Nilai” yang Preskriptif

Bait ke-tiga hingga akhir, lagu “Tau Samawa” nampak melampaui batas-batas seni dan
kesusastraan dalam pengertian umum, Ia menjelma rapalan mantra restorasi nilai, merajutnya
kembali persis di pusat hamparan zaman, membisikkannya kepada para pelaku dan penerus
kebudayaan dalam bentuk Ethnomusicology yang seimbang. Penggubahnya bak “Sandro
Peradaban” yang mengangkat kembali kepusakaan “pasatotang tau sapuan/balo tolo” (nasehat/pitutur nenek moyang) tentang bagaimana semestinya “pikir dan laku” menempatkan
tiga pilar utama; pangeto, ila, ke saling satingi (pengetahuan, kehormatan, saling support)
sebagai nilai yang wajib di atributkan pada diri. Selayaknya ‘sandro’ (tabib), Ia memang di tuntut
untuk mampu membaca gejala ‘penyakit’ zaman, sekaligus juga meresepkan “penawar” (Road
Map) yang presisi. Disanalah letak preskripsi dari lirik dalam lagu “Tau Samawa”, pada ‘nilai
lama’ yang di introdusir ulang agar menjadi perangkat norma sebagai bagian dari rancang
bangun/konstruksi masa depan yang diharapkan lebih baik.

Tentang Sebuah Seruan Aksi dan Harapan Keberlanjutan

Bait keempat dan kelima secara teknis bisa dikatakan merupakan ujung dari senandung “Tau
Samawa”, namun sejatinya ia hanyalah permulaan dari sebuah seruan untuk bergerak. Jika
melalui lagu ini Iqbal bermaksud mendeklarasikan sebuah sistem restorasi nilai dan seruan
moral yang melampaui batas-batas lirik dan nada, maka ia telah berhasil sepenuhnya. Sebaliknya, jika kita (para pendengar) hanya berhenti pada ke-terbuai-an
(Semacam’songorgasm’ : pemuasan emosional sesaat melalui harmoni lirik dan nada), maka
tentu patut disayangkan. Frasa ‘Sakompal Satego Gama’, ‘Na Sangilang Na Sanonda’, disamping
menegaskan bahwa lagu ini lebih nampak sebagai sebuah ‘provokasi3 melodik’ ketimbang
sekedar menyajikan ‘katharsis melodik’, juga menekankan bahwa hanya dengan komitment
soliditas dan kasatuan harmonik (kompal,tego) yang secara konsisten dilestarikan dan
diaktifkan (Na Ilang, Na Nonda), kita (Tau Samawa) akan tiba pada masa depan yang lebih
menjanjikan kemajuan dalam makna yang sebenarnya.

Last But Not Least, melalui penggunaan istilah “maris”4
, Sang Penggubah nampak ingin
mengingatkan kita bahwa menjadi Tau Samawa adalah proses panjang yang sebaiknya tidak
terputus dari “yang ontologis” (asal-usul yang beragam dan inklusif), terus perpegang pada
“pasatotang sapauan” (pilar pangeto, ila dan saling satingi) sembari tanpa ragu memandang
jauh ke depan dan melangkah menuju pencapaian cita-cita menuju Sumbawa yang Sama
Balong dan Sama Lewa.
…. He hee he heee eee ee (ho ham) He heee eee eee he (ho ham) He heee eee eee…. (Bunyi
Vokal pada Bridge transisi dari bait keempat ke bait kelima)

Tags: Budaya SamawaKontemporer
Share11SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Ketua Dewan Adat Suku Abun SE Sorong Raya Kecam dan Ancam Tindak Tegas Oknum Pelecehan Adat Wofle

Februari 14, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Aliansi Peduli Pegusaha OAP: Pangan Lokal (KELADI, SINGKONG, SAGU) Harus Jadi Menu MBG

Maret 16, 2026

Pengangkatan DPRK Jalur Otsus Jayawijaya Diminta Sesuai Hasil Pansel, Forum Pribumi KNPI Siap Turun Aksi

Maret 15, 2026

“Ketua PA Alumni GMNI Mimika Justin Homer: Jika Tak Lindungi Hak OAP, MRP Lebih Baik Dievaluasi!”

Maret 15, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In