• Latest
  • Trending
  • All

Simfoni Hidup Kaum Rebahan

Februari 26, 2026

“Kisruh KNPI Waropen, GMNI Warning Keras: Tolak Kepengurusan Tanpa SK Kemenkumham”

Maret 26, 2026

“GMNI Biak Numfor Tegaskan: MRP Harus Kembali ke Roh Perjuangan atau Kehilangan Legitimasinya”

Maret 26, 2026

“Hegemoni Pembangunan di Mimika: Antara Klaim Keberhasilan dan Realitas yang Tersembunyi”

Maret 26, 2026

Gereja Baptis West Papua Gelar Komperensi Pilih Pimpinan Wilayah Yang Baru

Maret 25, 2026

GMNI Desak Sanksi Tegas Selly Kareth: Ucapan Rasis Ganggu SARA dan Picu Konflik

Maret 25, 2026

“Gubernur di Persimpangan: Lindungi Rakyat atau Gusur Tanah Adat Demi Polda?”

Maret 25, 2026

PERAN PEREMPUAN DALAM DINAMIKA MODERN:Refleksi dan Gagasan Vinechya D. Munua pada Dies Natalis GMNI ke-72

Maret 23, 2026

Meritokrasi ASN Mimika Dipertanyakan, Cipayung Terbelah: Aktivis Soroti Cacat Prosedur dan Krisis Integritas

Maret 20, 2026

Bupati Mimika Paparkan Mekanisme Rotasi ASN di Forum Alumni Cipayung

Maret 19, 2026

GMNI MERAUKE: PEMBANGUNAN HARUS BERPIHAK, BUKAN MENINGGALKAN RAKYAT

Maret 19, 2026

Personil Koramil 06 Agimuga dan Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXV Kodim 1710/Mimika Menggelar Aksi Berbagi Takjil.

Maret 18, 2026
Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Maret 18, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, Maret 27, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Budaya

Simfoni Hidup Kaum Rebahan

in Budaya, Opini
0
25
SHARES
278
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Arief Rahzen, pekerja budaya

DI HADAPAN raksasa bernama produktivitas, manusia modern sering kali merasa seperti Sisyphus: mendorong batu beban ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya menggelinding kembali ke titik nol. Aksi sia-sia. Namun, di bawah langit Beijing hingga trotoar digital Jakarta, sebuah fragmen pemberontakan sunyi mulai mengkristal. Fenomena itu disebut Tang Ping, sebuah gerakan “kaum rebahan” yang bukan sekadar kemalasan, melainkan sebuah pernyataan filosofis yang menggugat inti dari kapitalisme kontemporer.

RelatedPosts

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Membedah Paradoks Kwamki Narama, Antara Inersia Birokrasi dan Mandat Konstitusional Otsus

Lagu ‘Tau Samawa’: Manifesto Etos Kolektif dan Road Map Kebudayaan Masyarakat Sumbawa Kontemporer

Secara harfiah, Tang Ping berarti “berbaring datar.” Gerakan kaum rebahan ini muncul di Tiongkok sebagai antitesis terhadap budaya kerja 996. Mereka enggan bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam, kerja 6 hari seminggu. Jika Deng Xiaoping melihat mereka sebagai motor pertumbuhan ekonomi, maka Gen Z Tiongkok hari ini memilih untuk menjadi sekrup yang fleksibel.

Secara antropologis, Tang Ping ialah manifestasi dari apa yang disebut sosiolog Tiongkok sebagai Neijuan (involusi). Inilah kondisi di mana persaingan semakin tajam, tetapi tidak menghasilkan kemajuan berarti. Ini tak ubah seperti berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus ditambah namun tetap di titik yang sama. Di sini, teori Byung-Chul Han tentang Masyarakat Kelelahan menemukan wujud paling ekstremnya. Manusia bukan lagi dieksploitasi oleh pihak eksternal, melainkan mengeksploitasi diri sendiri hingga habis (burnout) demi mengejar standar kesuksesan yang semakin tidak masuk akal.

Di Indonesia, gema Tang Ping merayap melalui narasi-narasi “rebahan” di media sosial. Namun, di balik meme yang jenaka, tersimpan data yang pahit. Bagi Gen Z Indonesia, rumah bukan lagi aset, melainkan sebuah abstraksi. Memasuki tahun 2026, rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan di kota besar sudah mencapai angka yang mencemaskan. Artinya, harga hunian mencapai lebih dari 20 kali lipat pendapatan tahunan mereka.

Ketidakmampuan memiliki ruang fisik ini melahirkan fenomena Doom Spending, sebuah perilaku menghabiskan uang untuk kepuasan jangka pendek. Contohnya, seperti kopi artisan atau konser mahal, karena tujuan jangka panjang seperti rumah dianggap sudah mustahil. Jika pemuda Tiongkok memilih untuk “berbaring datar” sebagai protes, Gen Z Indonesia memilih untuk “membelanjakan keputusasaan” mereka. Mereka terjepit di antara tuntutan ekonomi gig yang tidak pasti dan jeratan “lintah darat algoritma” berupa pinjaman online yang kini totalnya menembus angka puluhan triliun rupiah di kalangan anak muda.

Secara puitis, Tang Ping adalah sebuah bentuk Wu Wei (non-aksi) modern. Inilah seni untuk tidak melakukan apa-apa agar harmoni kembali tercipta. Namun, dalam kacamata sosiologis, ada risiko nihilisme yang membayangi. Ketika struktur sosial tidak lagi menawarkan harapan akan masa depan, diam menjadi satu-satunya senjata yang tersisa.

Indonesia menghadapi ancaman “Generasi yang Layu” (The Withering Generation). Ketahanan sosial kita yang biasanya disangga oleh tawa dan spiritualitas, kini mulai menunjukkan retakan. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan “pupuk kimia” berupa angka pertumbuhan PDB yang kering untuk menyirami generasi ini.

Untuk memitigasi risiko ini, negara harus bertransformasi menjadi “tukang kebun” yang sabar, bukan sekadar mandor pabrik. Dibutuhkan strategi kebijakan yang menyentuh akar ontologis yakni Revolusi Spasial. Di sini, perlu menjinakkan spekulasi properti dengan pajak progresif yang agresif dan membangun social housing vertikal milik negara dengan sistem sewa jangka panjang, agar pemuda memiliki kepastian tempat bernaung tanpa jeratan utang seumur hidup. Kemudian,  Jaring Pengaman Abad ke-21. Di sini perlu adanya jaminan universal basic services (akses gratis pada transportasi, internet, dan layanan kesehatan mental), juga menciptakan jaminan sosial yang portabel bagi pekerja lepas (gig workers). Lalu, strategi Literasi Kesejahteraan. Perlu upaya menggeser orientasi pendidikan untuk membentuk warga negara yang memiliki resiliensi emosional dan kemampuan berpikir kritis di tengah kepungan AI. Bukan pendidikan yang membentuk buruh.

Pemerintah harus berani beralih dari dogma “Pertumbuhan adalah Panglima” menuju Ekonomi Kesejahteraan (Well-being Economy). Kebijakan publik tidak lagi hanya diukur dari seberapa banyak investasi yang masuk. Tetapi perlu juga melihat seberapa rendah angka depresi pemuda, dan seberapa tinggi rasa aman mereka akan masa depan.

Kembali lagi, Tang Ping merupakan interupsi dalam simfoni bising kemajuan. Gerakan ini mengingatkan kita bahwa tubuh manusia bukanlah komoditas yang bisa diperas tanpa batas. Di Indonesia, fenomena ini mungkin tampil sebagai arus bawah yang tenang, sebuah perubahan prioritas hidup yang lebih membumi.

Terkadang, untuk melihat kejernihan cakrawala, seseorang tidak perlu memanjat puncak tertinggi. Ia hanya perlu merebahkan diri. Kemudian membiarkan dunia melambat di sekitarnya. Santai dan refleksi sejenak. Jika sejarah mencatat peradaban dibangun oleh mereka yang bergegas, mungkin masa depan malah diselamatkan oleh mereka yang berani berhenti sejenak untuk memanusiakan dirinya sendiri. [S]

Tags: Gen Zkaum rebahanTang Ping
Share10SendShare
Siasat ID

Siasat ID

surel: siasatindonesia [at] gmail.com

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Rolling Jabatan di Mimika Dipertanyakan, GMNI: Dimana Keterlibatan OAP Dimana Hak Kesulungan Amungme, Kamoro, dan 5 Suku Kerabat

Maret 11, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

“Kisruh KNPI Waropen, GMNI Warning Keras: Tolak Kepengurusan Tanpa SK Kemenkumham”

Maret 26, 2026

“GMNI Biak Numfor Tegaskan: MRP Harus Kembali ke Roh Perjuangan atau Kehilangan Legitimasinya”

Maret 26, 2026

“Hegemoni Pembangunan di Mimika: Antara Klaim Keberhasilan dan Realitas yang Tersembunyi”

Maret 26, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In