Arief Rahzen, pekerja budaya
DI HADAPAN raksasa bernama produktivitas, manusia modern sering kali merasa seperti Sisyphus: mendorong batu beban ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya menggelinding kembali ke titik nol. Aksi sia-sia. Namun, di bawah langit Beijing hingga trotoar digital Jakarta, sebuah fragmen pemberontakan sunyi mulai mengkristal. Fenomena itu disebut Tang Ping, sebuah gerakan “kaum rebahan” yang bukan sekadar kemalasan, melainkan sebuah pernyataan filosofis yang menggugat inti dari kapitalisme kontemporer.
Secara harfiah, Tang Ping berarti “berbaring datar.” Gerakan kaum rebahan ini muncul di Tiongkok sebagai antitesis terhadap budaya kerja 996. Mereka enggan bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam, kerja 6 hari seminggu. Jika Deng Xiaoping melihat mereka sebagai motor pertumbuhan ekonomi, maka Gen Z Tiongkok hari ini memilih untuk menjadi sekrup yang fleksibel.
Secara antropologis, Tang Ping ialah manifestasi dari apa yang disebut sosiolog Tiongkok sebagai Neijuan (involusi). Inilah kondisi di mana persaingan semakin tajam, tetapi tidak menghasilkan kemajuan berarti. Ini tak ubah seperti berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus ditambah namun tetap di titik yang sama. Di sini, teori Byung-Chul Han tentang Masyarakat Kelelahan menemukan wujud paling ekstremnya. Manusia bukan lagi dieksploitasi oleh pihak eksternal, melainkan mengeksploitasi diri sendiri hingga habis (burnout) demi mengejar standar kesuksesan yang semakin tidak masuk akal.
Di Indonesia, gema Tang Ping merayap melalui narasi-narasi “rebahan” di media sosial. Namun, di balik meme yang jenaka, tersimpan data yang pahit. Bagi Gen Z Indonesia, rumah bukan lagi aset, melainkan sebuah abstraksi. Memasuki tahun 2026, rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan di kota besar sudah mencapai angka yang mencemaskan. Artinya, harga hunian mencapai lebih dari 20 kali lipat pendapatan tahunan mereka.
Ketidakmampuan memiliki ruang fisik ini melahirkan fenomena Doom Spending, sebuah perilaku menghabiskan uang untuk kepuasan jangka pendek. Contohnya, seperti kopi artisan atau konser mahal, karena tujuan jangka panjang seperti rumah dianggap sudah mustahil. Jika pemuda Tiongkok memilih untuk “berbaring datar” sebagai protes, Gen Z Indonesia memilih untuk “membelanjakan keputusasaan” mereka. Mereka terjepit di antara tuntutan ekonomi gig yang tidak pasti dan jeratan “lintah darat algoritma” berupa pinjaman online yang kini totalnya menembus angka puluhan triliun rupiah di kalangan anak muda.
Secara puitis, Tang Ping adalah sebuah bentuk Wu Wei (non-aksi) modern. Inilah seni untuk tidak melakukan apa-apa agar harmoni kembali tercipta. Namun, dalam kacamata sosiologis, ada risiko nihilisme yang membayangi. Ketika struktur sosial tidak lagi menawarkan harapan akan masa depan, diam menjadi satu-satunya senjata yang tersisa.
Indonesia menghadapi ancaman “Generasi yang Layu” (The Withering Generation). Ketahanan sosial kita yang biasanya disangga oleh tawa dan spiritualitas, kini mulai menunjukkan retakan. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan “pupuk kimia” berupa angka pertumbuhan PDB yang kering untuk menyirami generasi ini.
Untuk memitigasi risiko ini, negara harus bertransformasi menjadi “tukang kebun” yang sabar, bukan sekadar mandor pabrik. Dibutuhkan strategi kebijakan yang menyentuh akar ontologis yakni Revolusi Spasial. Di sini, perlu menjinakkan spekulasi properti dengan pajak progresif yang agresif dan membangun social housing vertikal milik negara dengan sistem sewa jangka panjang, agar pemuda memiliki kepastian tempat bernaung tanpa jeratan utang seumur hidup. Kemudian, Jaring Pengaman Abad ke-21. Di sini perlu adanya jaminan universal basic services (akses gratis pada transportasi, internet, dan layanan kesehatan mental), juga menciptakan jaminan sosial yang portabel bagi pekerja lepas (gig workers). Lalu, strategi Literasi Kesejahteraan. Perlu upaya menggeser orientasi pendidikan untuk membentuk warga negara yang memiliki resiliensi emosional dan kemampuan berpikir kritis di tengah kepungan AI. Bukan pendidikan yang membentuk buruh.
Pemerintah harus berani beralih dari dogma “Pertumbuhan adalah Panglima” menuju Ekonomi Kesejahteraan (Well-being Economy). Kebijakan publik tidak lagi hanya diukur dari seberapa banyak investasi yang masuk. Tetapi perlu juga melihat seberapa rendah angka depresi pemuda, dan seberapa tinggi rasa aman mereka akan masa depan.
Kembali lagi, Tang Ping merupakan interupsi dalam simfoni bising kemajuan. Gerakan ini mengingatkan kita bahwa tubuh manusia bukanlah komoditas yang bisa diperas tanpa batas. Di Indonesia, fenomena ini mungkin tampil sebagai arus bawah yang tenang, sebuah perubahan prioritas hidup yang lebih membumi.
Terkadang, untuk melihat kejernihan cakrawala, seseorang tidak perlu memanjat puncak tertinggi. Ia hanya perlu merebahkan diri. Kemudian membiarkan dunia melambat di sekitarnya. Santai dan refleksi sejenak. Jika sejarah mencatat peradaban dibangun oleh mereka yang bergegas, mungkin masa depan malah diselamatkan oleh mereka yang berani berhenti sejenak untuk memanusiakan dirinya sendiri. [S]







