
Timika, 27 Desember 2025 – Ikatan Pemuda Kwamki Narama (IPKN) menyerukan perdamaian dan meminta intervensi tegas pemerintah daerah untuk menyelesaikan konflik antar keluarga yang telah berlangsung empat bulan terakhir. Seruan ini disampaikan usai kegiatan bersama KNPI dan seluruh pemuda setempat.
Ketua IPKN, Jonis Hagabal, menyatakan bahwa konflik di Distrik Kwamki Narama (disebut juga dalam berita sebagai Kulam Kinarama/Konfinerama) telah menelan korban jiwa sebanyak enam orang. Ia menekankan bahwa situasi ini telah menciptakan ketidakamanan dan ketakutan di tengah masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan oleh Jonis Hagabal selaku Ketua IPKN. Ia juga menyebutkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Kepala Distrik dan Kapolsek setempat. Konflik ini melibatkan warga dari Kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak, sehingga permintaan intervensi ditujukan kepada kedua pemerintah daerah tersebut.
Pernyataan ini disampaikan pada tanggal 27 Desember 2025, bertepatan dengan momen Natal dan menjelang tahun baru.
Lokus konflik berada di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Distrik ini juga disebut dengan sebutan lain seperti Kulam Kinarama atau Konfinerama dalam pernyataan
IPKN menilai konflik yang berkepanjangan ini telah mengancam nyawa dan mengganggu ketenteraman masyarakat. Hagabal mengkritik pembangunan infrastruktur yang dinilai tidak berarti jika keamanan dan kedamaian warga tidak terjamin. Pernyataan ini merupakan bentuk tekanan dari kelompok pemuda agar pemerintah segera turun tangan.
Jonis Hagabal mendeklarasikan komitmen untuk melakukan “dua pemulihan” sebagai langkah awal, dengan fokus menghilangkan hal-hal negatif dan membangun hal-hal positif. Mereka bertekad untuk mengawal program-program pemuda dan terus menyuarakan isu ini jika tidak ada tindakan nyata dari pemerintah. Pada momen Natal dan tahun baru, mereka berharap dapat bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat menciptakan perdamaian dan kesejahteraan di Kwamki Narama.
“Kami harap… pemerintah daerah di Kabupaten Mimika maupun Puncak, jangan berdiam diri saja. Tapi kami mohon dengan hormat pemerintah harus intervensi,” tegas Jonis Hagabal.
“Apa gunanya kita bangun kota mega-mega… tapi kalau daerah sendiri, masyarakat sendiri tidak aman, tidak tenang… saya kira itu percuma,” tambahnya.





