• Latest
  • Trending
  • All
Ipa Bahya Jadi Narsum Dialog Keperempuanan, Harap Perempuan Jadi Fondasi Awal Pendidikan

Ipa Bahya Jadi Narsum Dialog Keperempuanan, Harap Perempuan Jadi Fondasi Awal Pendidikan

Desember 11, 2025

Soroti Dana Kompensasi KLH Rp10 Miliar, Tokoh Intelektual Raja Ampat Minta MRP PBD Beberkan Rincian

April 20, 2026

Pemuda Adat Kamoro Apresiasi Kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Dorong Agenda Strategis Pembangunan Berbasis Adat

April 20, 2026
Ketum DPP IMORI: Ketum PB IPSI Sugiono Sosok Tepat Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Ketum DPP IMORI: Ketum PB IPSI Sugiono Sosok Tepat Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

April 19, 2026

KNPI Desak Bupati Jayawijaya Segera Evaluasi Jabatan Direktur RSUD Wamena dan Kapus Asologaima.

April 18, 2026

OPINI: GUGATAN ETIS DARI PUNCAK; POTRET BURAM NEKROPOLITIK DI PAPUA TENGAH

April 18, 2026

PENGURUS DAERAH KARANG TARUNA MIMIKA Apresiasi Dukungan Dinas Sosial dan Koorwil Papua

April 17, 2026

GMNI Mimika Apresiasi Dinas Koperasi dan BRIDA, Dorong Kolaborasi Riset untuk UMKM

April 17, 2026

GSNI Lumajang Kobarkan Semangat Nasionalisme Melalui Seminar “Rise of Young Patriots

April 16, 2026

“Terkuak! Dugaan ‘Permainan Kotor’ di Balik Proyek Jila, Nama OAP Diduga Dipakai!”

April 16, 2026

DEWAN ADAT DAERAH MIMIKA PAPUA TENGAH PERSIAPKAN KONFERENSI WILAYAH MEEPAGO TAHUN 2026

April 15, 2026

Menuju Lomba Dayung, Pembersihan Kolam Nawaripi Masuki Tahap Akhir

April 15, 2026

“Kami Bukan Objek!” Aliansi OAP Semprot Keras Sosialisasi Perda UMKM Mimika

April 15, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, April 20, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Agenda

Ipa Bahya Jadi Narsum Dialog Keperempuanan, Harap Perempuan Jadi Fondasi Awal Pendidikan

in Agenda, Edukasi
0
Ipa Bahya Jadi Narsum Dialog Keperempuanan, Harap Perempuan Jadi Fondasi Awal Pendidikan
34
SHARES
378
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Makassar, Siasat ID – Dialog keperempuanan yang diselenggarakan oleh Himassila-Makassar itu menghadirkan suasana yang penuh energi intelektual sekaligus emosional pada Sabtu (6/12/2025) di Mau.co. Caffe. Dalam ruangan yang dipenuhi mahasiswa, aktivis organisasi perempuan, dan berbagai kalangan muda, Ipa Bahya tampil sebagai narasumber pertama—sebuah posisi yang tidak hanya menandai pembukaan diskusi, tetapi juga mewarnai arah pembicaraan selanjutnya. Dengan ketenangan yang kokoh dan argumentasi yang terstruktur, Ipa menegaskan bahwa pembahasan tentang perempuan dan pendidikan pada era digitalisasi bukanlah sekadar wacana, melainkan sebuah urgensi yang menentukan masa depan bangsa.

Ia memulai pemaparan dengan merujuk pada pandangan Bung Hatta, bahwa “Jika kita mendidik seorang laki-laki, maka hanya satu orang yang terdidik. Tetapi jika kita mendidik seorang perempuan, maka satu generasi ikut terdidik,” ucap Ipa, Kamis (11/12/2025).

RelatedPosts

GSNI Lumajang Kobarkan Semangat Nasionalisme Melalui Seminar “Rise of Young Patriots

‎Dies Natalis ke-72 GMNI, Teguhkan Semangat Gotong Royong dan Perjuangan Ideologis Bangsa

DPP GMNI Gelar Bakti Sosial Ekologis di Cilegon, Tegaskan Komitmen Lingkungan dan Ekonomi Kerakyatan

Bagi Ipa, kutipan ini bukan sekadar kalimat historis, melainkan representasi dari realitas sosial yang hingga kini tetap relevan. Perempuan, tegasnya, adalah fondasi awal dari proses pendidikan yang paling dasar—pendidikan di rumah, pendidikan nilai, dan pendidikan karakter. Ketika perempuan memperoleh akses pendidikan yang memadai, kualitas generasi yang dihasilkan pun meningkat—dan di titik inilah arah bangsa ditentukan.

Ipa menyoroti bahwa perempuan hari ini berada dalam persimpangan strategis di tengah derasnya arus digitalisasi. Teknologi membuka ruang-ruang baru pengetahuan, mempercepat akses informasi, dan memungkinkan perempuan dari berbagai latar belakang untuk belajar tanpa batas. Namun ia juga mengingatkan bahwa digitalisasi tidak serta merta menghadirkan kesetaraan. Justru, bagi banyak perempuan, terutama yang hidup di wilayah pinggiran dan pedesaan, digitalisasi bisa menjadi tembok baru yang semakin mengokohkan ketimpangan, jika aksesnya tidak diperluas.

Pada sesi tanya jawab, seorang peserta mengangkat isu krusial: bagaimana perempuan di daerah yang sulit mendapatkan akses internet bisa merasakan pemerataan pendidikan? Pertanyaan itu menggugah, bukan hanya karena relevansinya, tetapi karena menyentuh akar dari ketidakadilan struktural yang selama ini sering terabaikan. Ipa menjawab dengan ketegasan yang menggambarkan pemahamannya tentang dinamika kebijakan publik. Ia menyatakan bahwa pemerataan pendidikan tidak mungkin tercapai tanpa keberpihakan pemerintah.

“Setiap kebijakan pemerintah memengaruhi kehidupan masyarakat, bahkan sampai kehidupan di dapur,” ujarnya.

Pernyataan itu memuat pesan yang lebih luas: bahwa kebijakan bukan sekadar dokumen administratif, tetapi keputusan yang menentukan apakah seseorang makan atau tidak, sekolah atau tidak, berkembang atau terpinggirkan. Dengan demikian, kesenjangan pendidikan bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan politik kemauan dan keberpihakan.

Menurut Ipa, pembangunan infrastruktur digital harus dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan perempuan dapat mengakses pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Tanpa itu, perempuan di wilayah-wilayah tertentu akan tertinggal lebih jauh. Ia menyoroti bahwa di banyak tempat, perempuan masih berjuang melampaui hambatan-hambatan ganda: ekonomi, budaya, geografis, hingga stigma sosial. Oleh sebab itu, kebijakan pemerintah harus hadir bukan sebagai slogan, tetapi sebagai intervensi nyata yang mampu menjangkau mereka.

Namun Ipa tidak berhenti pada kritik terhadap struktur. Ia juga mengarahkan peserta untuk melihat ruang-ruang peluang yang sering terabaikan. Salah satu yang ia tekankan adalah pentingnya kesadaran dan keberanian perempuan untuk mencari informasi tentang beasiswa. Menurutnya, banyak kesempatan belajar yang disediakan oleh pemerintah, lembaga swasta, bahkan organisasi internasional, tetapi kerap tidak dimanfaatkan karena minimnya pengetahuan atau rasa percaya diri. Ipa mendorong perempuan untuk tidak hanya menunggu, tetapi aktif menjemput peluang—karena dalam era digital, informasi adalah kekuatan yang dapat mengubah hidup.

Ia menegaskan bahwa beasiswa bukan hanya bantuan finansial, tetapi jembatan menuju peningkatan kapasitas diri. Ketika perempuan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, mereka mampu berbicara, berkompetisi, dan berkontribusi dalam ruang publik dengan posisi yang lebih kuat. Mereka juga mampu membangun lingkungan keluarga yang lebih kritis, lebih sadar, dan lebih progresif. Dengan kata lain, pendidikan perempuan bukan hanya investasi pada individu, tetapi investasi pada transformasi sosial.

Menutup sesi dialog, Ipa menyampaikan pesan yang mengikat seluruh pembahasan. Pendidikan, menurutnya, adalah alat pembebasan. Bagi perempuan, pendidikan adalah cara untuk membongkar batasan-batasan struktural, mengubah pola pikir yang mengekang, dan membuka ruang bagi peluang yang setara. Era digital membawa harapan baru, tetapi juga tantangan yang menuntut kesadaran kolektif. Dan dalam proses itu, perempuan tidak boleh ditempatkan sebagai objek, melainkan subjek yang aktif, kritis, dan berdaya.

Tepuk tangan panjang yang mengakhiri sesinya seolah mengonfirmasi bahwa pesan tersebut tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan. Para peserta pulang dengan pemahaman bahwa perjuangan perempuan dalam dunia pendidikan bukan hanya persoalan akses, tetapi persoalan martabat dan masa depan bangsa. Dengan pendidikan yang kuat, perempuan bergerak; dan ketika perempuan bergerak, bangsa ikut maju.

Tags: Dialog KeperempuananHimassila-Makassar
Share14SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

Rolling Jabatan di Mimika Dipertanyakan, GMNI: Dimana Keterlibatan OAP Dimana Hak Kesulungan Amungme, Kamoro, dan 5 Suku Kerabat

Maret 11, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Soroti Dana Kompensasi KLH Rp10 Miliar, Tokoh Intelektual Raja Ampat Minta MRP PBD Beberkan Rincian

April 20, 2026

Pemuda Adat Kamoro Apresiasi Kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Dorong Agenda Strategis Pembangunan Berbasis Adat

April 20, 2026
Ketum DPP IMORI: Ketum PB IPSI Sugiono Sosok Tepat Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Ketum DPP IMORI: Ketum PB IPSI Sugiono Sosok Tepat Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

April 19, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In