• Latest
  • Trending
  • All
Ipa Bahya Jadi Narsum Dialog Keperempuanan, Harap Perempuan Jadi Fondasi Awal Pendidikan

Ipa Bahya Jadi Narsum Dialog Keperempuanan, Harap Perempuan Jadi Fondasi Awal Pendidikan

Desember 11, 2025

Piala Dunia, Bius Massal, dan Refleksi Pembangunan Mimika di Tengah Euforia Piala Dunia 2026

Juni 15, 2026

APBD Rp5,7 TRILIUN MANDEK: Rakyat Papua Menjerit, Birokrasi Mimika Tertidur di Atas Limpahan Anggaran

Juni 15, 2026
Dugaan Penyelewengan Anggaran, Ketua Korak Desak Kejari Sumbawa Turun Tangan Usut Desa Boak

Hilirisasi Unggas Rp1,7 Triliun di Serading: Rakyat Berhak Mendapatkan Penjelasan, Bukan Sekadar Pencitraan

Juni 15, 2026
Ketua Serikat Petani dan Peternak Pulau Sumbawa Minta Pemda Transparan Soal Investasi Hilirisasi Unggas Rp1,7 Triliun

Ketua Serikat Petani dan Peternak Pulau Sumbawa Minta Pemda Transparan Soal Investasi Hilirisasi Unggas Rp1,7 Triliun

Juni 15, 2026

BPA Kejaksaan RI Serahkan Hasil Lelang BPA Fair 2026 dan Penelusuran Aset Edi Tansil ke Kemenkeu Senilai Total Rp1,02 Triliun

Juni 15, 2026

ADU ARGUMEN DI UNDIP VIRAL! Budiman Sudjatmiko Bantah Usir Mahasiswa, Publik Perdebatkan Etika Forum

Juni 14, 2026

Anang Iskandar Pakar Hukum Narkotika Ingatkan DPR: Jangan Ulangi “Kecelakaan Legislasi ke-5” dalam Revisi UU Narkotika

Juni 14, 2026
Jalo Maula: Pejabat Publik Perlu Hati-hati Merespons Dinamika Politik di Ruang Digital

Jalo Maula: Pejabat Publik Perlu Hati-hati Merespons Dinamika Politik di Ruang Digital

Juni 13, 2026

Mesin Pengolah Sampah “Solusi Aksara” Karya Made Hiroki Rampung, Target Uji Operasi 2 Bulan ke Depan

Juni 13, 2026

Gesuri Dalam Diskusi Soal Narkoba: “Kenapa 10 Pemuda Bisa Guncang Dunia”, BNN Catat Prevalensi Narkoba Tangerang Naik ke 4,3

Juni 13, 2026

GMNI FMIPA UNESA Soroti Dampak Kenaikan Harga Pertamax

Juni 13, 2026
Harga BBM Naik di Tengah Pelemahan Dolar: Rakyat Berhak Mendapat Penjelasan

Gerakan 116: Ketika Suara Petani Menuntut Keadilan Kebijakan

Juni 13, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, Juni 15, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Agenda

Ipa Bahya Jadi Narsum Dialog Keperempuanan, Harap Perempuan Jadi Fondasi Awal Pendidikan

in Agenda, Edukasi
0
Ipa Bahya Jadi Narsum Dialog Keperempuanan, Harap Perempuan Jadi Fondasi Awal Pendidikan
34
SHARES
381
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Makassar, Siasat ID – Dialog keperempuanan yang diselenggarakan oleh Himassila-Makassar itu menghadirkan suasana yang penuh energi intelektual sekaligus emosional pada Sabtu (6/12/2025) di Mau.co. Caffe. Dalam ruangan yang dipenuhi mahasiswa, aktivis organisasi perempuan, dan berbagai kalangan muda, Ipa Bahya tampil sebagai narasumber pertama—sebuah posisi yang tidak hanya menandai pembukaan diskusi, tetapi juga mewarnai arah pembicaraan selanjutnya. Dengan ketenangan yang kokoh dan argumentasi yang terstruktur, Ipa menegaskan bahwa pembahasan tentang perempuan dan pendidikan pada era digitalisasi bukanlah sekadar wacana, melainkan sebuah urgensi yang menentukan masa depan bangsa.

Ia memulai pemaparan dengan merujuk pada pandangan Bung Hatta, bahwa “Jika kita mendidik seorang laki-laki, maka hanya satu orang yang terdidik. Tetapi jika kita mendidik seorang perempuan, maka satu generasi ikut terdidik,” ucap Ipa, Kamis (11/12/2025).

RelatedPosts

‎SPPG Jerowaru Ekas Buana Gelar Sosialisasi Gizi dan Menabung untuk Anak Usia Dini

Kunker Baleg DPR RI di NTB, AMAN NTB Sampaikan Masukan Strategis untuk Penguatan Substansi RUU Masyarakat Adat

Mengapa Pemuda Harus Bergabung dengan Ansor? Ini Jawaban Ketua GP Ansor Sumbawa

Bagi Ipa, kutipan ini bukan sekadar kalimat historis, melainkan representasi dari realitas sosial yang hingga kini tetap relevan. Perempuan, tegasnya, adalah fondasi awal dari proses pendidikan yang paling dasar—pendidikan di rumah, pendidikan nilai, dan pendidikan karakter. Ketika perempuan memperoleh akses pendidikan yang memadai, kualitas generasi yang dihasilkan pun meningkat—dan di titik inilah arah bangsa ditentukan.

Ipa menyoroti bahwa perempuan hari ini berada dalam persimpangan strategis di tengah derasnya arus digitalisasi. Teknologi membuka ruang-ruang baru pengetahuan, mempercepat akses informasi, dan memungkinkan perempuan dari berbagai latar belakang untuk belajar tanpa batas. Namun ia juga mengingatkan bahwa digitalisasi tidak serta merta menghadirkan kesetaraan. Justru, bagi banyak perempuan, terutama yang hidup di wilayah pinggiran dan pedesaan, digitalisasi bisa menjadi tembok baru yang semakin mengokohkan ketimpangan, jika aksesnya tidak diperluas.

Pada sesi tanya jawab, seorang peserta mengangkat isu krusial: bagaimana perempuan di daerah yang sulit mendapatkan akses internet bisa merasakan pemerataan pendidikan? Pertanyaan itu menggugah, bukan hanya karena relevansinya, tetapi karena menyentuh akar dari ketidakadilan struktural yang selama ini sering terabaikan. Ipa menjawab dengan ketegasan yang menggambarkan pemahamannya tentang dinamika kebijakan publik. Ia menyatakan bahwa pemerataan pendidikan tidak mungkin tercapai tanpa keberpihakan pemerintah.

“Setiap kebijakan pemerintah memengaruhi kehidupan masyarakat, bahkan sampai kehidupan di dapur,” ujarnya.

Pernyataan itu memuat pesan yang lebih luas: bahwa kebijakan bukan sekadar dokumen administratif, tetapi keputusan yang menentukan apakah seseorang makan atau tidak, sekolah atau tidak, berkembang atau terpinggirkan. Dengan demikian, kesenjangan pendidikan bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan politik kemauan dan keberpihakan.

Menurut Ipa, pembangunan infrastruktur digital harus dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan perempuan dapat mengakses pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Tanpa itu, perempuan di wilayah-wilayah tertentu akan tertinggal lebih jauh. Ia menyoroti bahwa di banyak tempat, perempuan masih berjuang melampaui hambatan-hambatan ganda: ekonomi, budaya, geografis, hingga stigma sosial. Oleh sebab itu, kebijakan pemerintah harus hadir bukan sebagai slogan, tetapi sebagai intervensi nyata yang mampu menjangkau mereka.

Namun Ipa tidak berhenti pada kritik terhadap struktur. Ia juga mengarahkan peserta untuk melihat ruang-ruang peluang yang sering terabaikan. Salah satu yang ia tekankan adalah pentingnya kesadaran dan keberanian perempuan untuk mencari informasi tentang beasiswa. Menurutnya, banyak kesempatan belajar yang disediakan oleh pemerintah, lembaga swasta, bahkan organisasi internasional, tetapi kerap tidak dimanfaatkan karena minimnya pengetahuan atau rasa percaya diri. Ipa mendorong perempuan untuk tidak hanya menunggu, tetapi aktif menjemput peluang—karena dalam era digital, informasi adalah kekuatan yang dapat mengubah hidup.

Ia menegaskan bahwa beasiswa bukan hanya bantuan finansial, tetapi jembatan menuju peningkatan kapasitas diri. Ketika perempuan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, mereka mampu berbicara, berkompetisi, dan berkontribusi dalam ruang publik dengan posisi yang lebih kuat. Mereka juga mampu membangun lingkungan keluarga yang lebih kritis, lebih sadar, dan lebih progresif. Dengan kata lain, pendidikan perempuan bukan hanya investasi pada individu, tetapi investasi pada transformasi sosial.

Menutup sesi dialog, Ipa menyampaikan pesan yang mengikat seluruh pembahasan. Pendidikan, menurutnya, adalah alat pembebasan. Bagi perempuan, pendidikan adalah cara untuk membongkar batasan-batasan struktural, mengubah pola pikir yang mengekang, dan membuka ruang bagi peluang yang setara. Era digital membawa harapan baru, tetapi juga tantangan yang menuntut kesadaran kolektif. Dan dalam proses itu, perempuan tidak boleh ditempatkan sebagai objek, melainkan subjek yang aktif, kritis, dan berdaya.

Tepuk tangan panjang yang mengakhiri sesinya seolah mengonfirmasi bahwa pesan tersebut tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan. Para peserta pulang dengan pemahaman bahwa perjuangan perempuan dalam dunia pendidikan bukan hanya persoalan akses, tetapi persoalan martabat dan masa depan bangsa. Dengan pendidikan yang kuat, perempuan bergerak; dan ketika perempuan bergerak, bangsa ikut maju.

Tags: Dialog KeperempuananHimassila-Makassar
Share14SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Piala Dunia, Bius Massal, dan Refleksi Pembangunan Mimika di Tengah Euforia Piala Dunia 2026

Juni 15, 2026

APBD Rp5,7 TRILIUN MANDEK: Rakyat Papua Menjerit, Birokrasi Mimika Tertidur di Atas Limpahan Anggaran

Juni 15, 2026
Dugaan Penyelewengan Anggaran, Ketua Korak Desak Kejari Sumbawa Turun Tangan Usut Desa Boak

Hilirisasi Unggas Rp1,7 Triliun di Serading: Rakyat Berhak Mendapatkan Penjelasan, Bukan Sekadar Pencitraan

Juni 15, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In