
Timika, 28 Maret 2026 — Menjelang perayaan Paskah, pesan kasih, pengampunan, dan harapan menggema dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B SP 5, Kabupaten Mimika. Di tengah keterbatasan ruang dan kebebasan, hadir secercah terang yang menguatkan jiwa-jiwa yang tengah menjalani masa pembinaan.
Kepala Kampung Nawaripi sekaligus Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia, Norman Ditubun, bersama pelayanan Jaringan Pria Kristen Timika, mengunjungi warga binaan dengan membawa lebih dari sekadar bantuan. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata kepedulian dan pelayanan iman, yang menembus sekat-sekat sosial dan stigma.
Dalam pesannya, Norman Ditubun menegaskan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah dan bangkit.
“Perubahan hidup dimulai dari dalam diri. Iman dan kedekatan dengan Tuhan akan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi setiap cobaan,” ujarnya penuh keyakinan.

Ia juga mengajak warga binaan untuk tidak terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, melainkan menjadikan masa pembinaan sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih baik. Baginya, jeruji bukanlah akhir, melainkan awal dari proses pembentukan diri menuju masa depan yang lebih bermakna.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda formal. Di balik dinding pembatas kebebasan, suasana haru terasa saat doa bersama dipanjatkan. Warga binaan larut dalam refleksi mendalam, merasakan damai yang mungkin telah lama hilang. Ibadah sederhana itu berubah menjadi ruang pemulihan batin—menguatkan, menenangkan, sekaligus menyalakan harapan baru.
Sementara itu, anggota CMN, Herman Resubun, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari panggilan iman. Ia menegaskan bahwa pria Kristen memiliki tanggung jawab moral untuk berbagi kasih sesuai talenta yang dianugerahkan Tuhan. Kehadiran mereka di Lapas menjadi bukti bahwa kasih tidak mengenal batas.

Sebagai bentuk nyata kepedulian, Norman Ditubun turut menyerahkan buku rohani “Buku Orasi” kepada warga binaan sebagai bekal dalam memperkuat fondasi iman selama masa pembinaan. Diharapkan, pemberian tersebut dapat menjadi sumber penguatan spiritual sekaligus penuntun dalam proses perubahan diri.
Kegiatan ini menjadi refleksi mendalam makna Paskah—tentang kebangkitan, pengampunan, dan kesempatan kedua. Di tengah keterbatasan, tumbuh keyakinan bahwa setiap manusia berhak untuk bangkit dan memulai kembali.
Dengan sentuhan kasih dan iman, kunjungan ini tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga menyalakan api semangat dalam diri warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat suatu hari nanti sebagai pribadi yang lebih kuat, bijak, dan penuh harapan.






