• Latest
  • Trending
  • All
Ipa Bahya Jadi Narsum Kajian Rutin HMT FAI UMI Usung Tema Sejarah Feminisme

Ipa Bahya Jadi Narsum Kajian Rutin HMT FAI UMI Usung Tema Sejarah Feminisme

Desember 18, 2025

Syamsul Hariyanto DPRD Tangsel Fraksi PDIP: RTRW Tangsel Harus Jadi Kontrak Sosial 20 Tahun untuk Warga

Mei 1, 2026

Amin Napitupulu Di Hari Buruh: Setiap Keringat Pekerja adalah Bagian dari Pembangunan Negeri

Mei 1, 2026
PNM Akan Dikelola Kementerian Keuangan, GMNI : PNM Harus Tetap Dengan Wajah Aslinya

PNM Akan Dikelola Kementerian Keuangan, GMNI : PNM Harus Tetap Dengan Wajah Aslinya

April 30, 2026

Gandeng Pemprov Bali, PT Aksara Cristy Legal Siap Luncurkan Mesin Olah Sampah Tanpa Asap

April 30, 2026

Atasi Krisis Sampah, PT Aksara Cristy Legal Siapkan Mesin Pirolisis Tanpa Pembakaran

April 30, 2026

Kuasa Hukum Dr. Togar Situmorang Sebut Vonis Tendensius, Ungkap DM ‘Siap Dipenjara’ Sebelum Palu Diketuk

April 30, 2026

“Perpustakaan Merah Putih Nawaripi Dapat Perhatian, Dinas Perpustakaan Mimika Lakukan Peninjauan”

April 30, 2026

“Akar Kegagalan Jakarta di Papua: Mengapa Aktivis Cipayung, BEM, dan KNPI Mulai Suarakan Papua Merdeka?”

April 29, 2026

YLBH Papua Tengah Desak Presiden Prabowo Minta Maaf Kepada Pihak Keuskupan Timika

April 29, 2026

DAD dan Korem 173/PVB Perkuat Ketahanan Pangan di Papua Tengah, Dorong Pangan Lokal dalam Program MBG

April 29, 2026

Salah satu Bakal Calon Ketua KNPI MIMIKA buka suara terkait Aksi agresif yang menghantui pemuka agama di mimika

April 29, 2026

TK/PAUD Merah Putih Nawaripi Terima Bantuan Printer dan ATK dari Pemerintah Kampung

April 29, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, Mei 1, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Edukasi

Ipa Bahya Jadi Narsum Kajian Rutin HMT FAI UMI Usung Tema Sejarah Feminisme

in Edukasi
0
Ipa Bahya Jadi Narsum Kajian Rutin HMT FAI UMI Usung Tema Sejarah Feminisme
41
SHARES
456
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Makassar, Siasat ID – Kegiatan Kajian Rutin bertema “Sejarah Feminisme” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Tarbiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muslim Indonesia (HMT FAI UMI) telah terlaksana dengan lancar dan penuh antusiasme pada Selasa, 16 Desember 2025, bertempat di Aula FAI UMI Lantai 2. Sejak siang hari, aula mulai dipadati oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan latar belakang disiplin ilmu yang datang dengan semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi. Kehadiran peserta yang beragam menunjukkan bahwa isu feminisme tidak lagi dipahami sebagai wacana eksklusif kelompok tertentu, melainkan sebagai pengetahuan bersama yang relevan dengan realitas sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.

Kegiatan ini menghadirkan, Ipa Bahya, S.S., M.A., Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin sekaligus penulis novel “Your Departure”, sebagai pemateri utama. Diskusi dipandu oleh Nur Aissyah S., Anggota Departemen Pendidikan HMT FAI UMI, yang dengan gaya moderasi komunikatif mampu menjaga alur kajian tetap hidup dan interaktif. Kajian dimulai dengan pengantar mengenai pentingnya membaca sejarah feminisme secara utuh dan kritis, tidak hanya berangkat dari narasi Barat, tetapi juga dengan menelusuri jejak-jejak perjuangan perempuan di Indonesia.

RelatedPosts

GSNI Lumajang Kobarkan Semangat Nasionalisme Melalui Seminar “Rise of Young Patriots

UMKABA Gelar Job Fair, Perkuat Skema Kuliah Sambil Kerja bagi Lulusan SMA/SMK

GMNI Lombok Timur Gelar Konferensi Cabang, Hamran: Harap Lahir Pemimpin yang Naik Kelas

Dalam pemaparannya, Ipa Bahya menguraikan bahwa feminisme lahir dari pengalaman ketidakadilan yang konkret dan berlapis.

“Gerakan feminisme pertama di Amerika Serikat pada Konvensi Seneca Falls tahun 1848 menjadi tonggak awal yang penting, terutama melalui Deklarasi Sentimen yang menegaskan kesetaraan perempuan dan laki-laki. Namun, sejarah feminisme global juga menyimpan catatan kritis, terutama terkait eksklusi terhadap perempuan kulit hitam dan perempuan dari kelas sosial tertindas. Hal ini menjadi refleksi bahwa feminisme bukanlah gerakan tunggal, melainkan ruang pergulatan gagasan yang terus berproses dan berbenah,” jelas Ipa Bahya, Selasa (16/12/2025).

Kajian kemudian bergerak pada pembahasan gelombang kedua feminisme yang dipengaruhi oleh terbitnya “The Feminine Mystique” karya Betty Friedan pada 1963. Buku tersebut membuka kesadaran bahwa pengekangan perempuan dalam peran domestik semata bukanlah kodrat, melainkan hasil konstruksi sosial. Diskusi ini memantik respons peserta, terutama dalam mengaitkan kritik feminisme terhadap peran gender dengan realitas masyarakat Indonesia yang masih kuat memegang nilai patriarki, termasuk dalam ruang keluarga, pendidikan, dan institusi keagamaan.

Pada sesi berikutnya, Ipa Bahya menekankan bahwa feminisme di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang.

“Mengacu pada studi “Seratus Tahun Feminisme di Indonesia”, dijelaskan bahwa gagasan feminisme telah hadir sejak masa kolonialisme. Perempuan Indonesia tidak hanya berjuang melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui tulisan. R.A. Kartini menjadi figur sentral yang dikenang karena keberaniannya menggugat tradisi dan budaya yang membelenggu perempuan melalui surat-surat yang kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”,” jelasnya.

Dari sini, peserta diajak melihat bahwa literasi dan pengetahuan merupakan alat perjuangan yang sangat strategis.

Pembahasan berlanjut ke periode pascakemerdekaan, khususnya kemunculan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) pada 1950-an. “Gerwani dipaparkan sebagai gerakan feminis-sosialis yang progresif dan masif, dengan agenda advokasi yang menyentuh langsung kehidupan perempuan, seperti penolakan undang-undang perkawinan yang diskriminatif, tuntutan upah adil bagi buruh perempuan, serta pembagian kerja domestik yang setara. Namun, tragedi politik 1965 menjadi titik balik yang kelam, ketika Gerwani dilenyapkan melalui propaganda dan kekerasan, meninggalkan stigma panjang terhadap gerakan perempuan di Indonesia,” tambahnya.

Bagian ini memunculkan diskusi yang cukup emosional dan reflektif di kalangan peserta. Menariknya, kajian ini tidak berhenti pada sejarah masa lalu, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas perjuangan perempuan kontemporer. Pemateri menyoroti perlawanan perempuan Loeha Raya di Luwu Timur terhadap ancaman tambang nikel, serta aksi Jejaring Perempuan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nusantara di Pantai Losari Makassar pada 29 Desember 2023. Kedua contoh ini menunjukkan bahwa feminisme hari ini hadir dalam bentuk perjuangan mempertahankan ruang hidup, lingkungan, dan keberlanjutan masa depan. Perempuan tampil sebagai subjek utama yang menyuarakan keadilan ekologis dan sosial.

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis. Peserta mengajukan pertanyaan seputar relasi feminisme dan Islam, tantangan membangun kesadaran gender di lingkungan kampus, hingga strategi melawan stigma negatif terhadap feminisme. Diskusi ini memperlihatkan bahwa kajian rutin bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang aman untuk berdialog dan bertukar perspektif secara kritis dan beradab.

Kegiatan Kajian Rutin “Sejarah Feminisme” ini berhasil memperkaya wawasan peserta dan membuka ruang refleksi yang lebih luas mengenai perjuangan perempuan dari masa ke masa. HMT FAI UMI melalui kegiatan ini menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskusi-diskusi yang progresif, kontekstual, dan berorientasi pada nilai keadilan. Kajian ini diharapkan menjadi pemantik kesadaran bahwa memahami sejarah feminisme berarti memahami perjuangan panjang menuju masyarakat yang setara, manusiawi, dan berkeadilan bagi semua.

Tags: FeminismeIpa BahyaUniversitas HasanuddinUniversitas Muslim Indonesia
Share16SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Syamsul Hariyanto DPRD Tangsel Fraksi PDIP: RTRW Tangsel Harus Jadi Kontrak Sosial 20 Tahun untuk Warga

Mei 1, 2026

Amin Napitupulu Di Hari Buruh: Setiap Keringat Pekerja adalah Bagian dari Pembangunan Negeri

Mei 1, 2026
PNM Akan Dikelola Kementerian Keuangan, GMNI : PNM Harus Tetap Dengan Wajah Aslinya

PNM Akan Dikelola Kementerian Keuangan, GMNI : PNM Harus Tetap Dengan Wajah Aslinya

April 30, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In