
TIMIKA, 3 Desember 2025 – Ribuan umat Katolik dari Suku Amungme merayakan dua momen bersejarah sekaligus di Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada Selasa (3/12/2025). Usai mengikuti Ibadah Rekonsiliasi akbar yang penuh khidmat, masyarakat bersama para pemimpin gereja dan adat melanjutkan perayaan dengan sukacita memperingati 72 tahun masuknya Gereja Katolik ke Agimuga, yang ditandai dengan pemotongan kue bersama.
Ibadah tobat dan rekonsiliasi yang dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., menjadi inti dari perayaan ini. Bertema “Berdamai Dengan Masa Lalu Dalam Terang Kristus”, ibadah ini dirancang sebagai momentum bersejarah untuk memutus mata rantai dendam dan luka yang diwariskan turun-temurun antarkeluarga dan marga dalam Suku Amungme.
Dalam khotbahnya, Uskup Bernardus menegaskan bahwa rekonsiliasi adalah panggilan untuk bersatu. “Kita harus bersatu, jangan bermusuhan dan membunuh, melainkan menjadi satu tubuh… Hari ini menjadi momentum bersejarah untuk melepaskan tali-tali pengikat dosa, kebencian, dan amarah,” tegasnya. Prosesi yang mengharukan pun menyusul. Perwakilan dari berbagai marga, seperti Kilangin, Kemong, dan Kuum, maju secara bergantian untuk mengungkapkan penyesalan dan memohon pengampunan atas kesalahan masa lalu, baik terhadap sesama, alam, maupun Tuhan. Sebagai simbol pembersihan, catatan dosa yang ditulis umat kemudian dibakar dalam sebuah wadah.
Acara yang telah dipersiapkan secara matang sejak Oktober 2025 ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat, antara lain Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, yang turut aktif dalam kepanitiaan, serta perwakilan dari Majelis Rakyat Papua (MRP) dan DPRD setempat. Kehadiran TNI melalui Koramil Agimuga juga berperan dalam memastikan keamanan dan kelancaran acara sakral ini.
Usai rangkaian ibadah rekonsiliasi yang mendalam, suasana beralih menjadi penuh sukacita untuk memperingati HUT ke-72 masuknya Gereja Katolik ke Agimuga. Perayaan ini menjadi tanda syukur atas perjalanan panjang iman di tanah Amungsa. Puncak perayaan ditandai dengan “pemotongan kue ulang tahun secara bersama-sama oleh umat, para pastor, dan tokoh masyarakat, mencerminkan kebersamaan dan kegembiraan”.
Dalam pesannya kepada seluruh umat, para pastor mengingatkan bahwa setiap individu, baik yang disebutkan namanya maupun tidak, adalah tokoh masyarakat yang penting dalam membangun Agimuga ke depan. “Semua merupakan bagian dari tokoh masyarakat untuk membangun Agimuga.. mari meriahkan HUT ini dengan damai di hati,” demikian pesan yang disampaikan, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergandeng tangan tanpa kecemburuan sosial, melanjutkan perjuangan para leluhur dengan semangat baru.
Perayaan dua hari ini tidak hanya berisi kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam simbol-simbol fisik pembaruan. Uskup Bernardus memberkati **air dan garam** yang kemudian dipercikkan kepada umat sebagai tanda kesucian dan perlindungan baru. Selain itu, sebuah salib besar juga diberkati dan akan ditancapkan di Pelabuhan Kiliarma —gerbang utama akses laut menuju Agimuga. Salib ini dimaknai sebagai simbol perdamaian, perlindungan Ilahi, dan penegasan kehadiran Kristus yang akan menyinari setiap langkah perjalanan masyarakat Agimuga ke depan.
Perpaduan antara rekonsiliasi yang khidmat dan perayaan ulang tahun yang meriah menciptakan sebuah narasi utuh: penyembuhan masa lalu sekaligus penuh harapan untuk masa depan. Acara yang berjalan lancar dan tertib hingga selesai ini diyakini menjadi tonggak baru bagi kehidupan sosial dan iman masyarakat Suku Amungme di Agimuga. Dengan ditutupnya lembaran lama, masyarakat kini bergandengan tangan memulai perjalanan baru membangun Agimuga yang lebih damai dan bersatu, dipandu oleh iman yang telah mengakar selama 72 tahun.









