
Jakarta, 23 Maret 2026 – Dalam momentum Dies Natalis ke-72 Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Ketua DPP GMNI Bidang Pergerakan Sarinah (Perempuan), Vinechya D. Munua, menyampaikan refleksi kritis sekaligus gagasan strategis terkait posisi dan tantangan perempuan di era modern yang terus berkembang.
Menurut Vinechya D. Munua, perubahan zaman yang begitu cepat tidak serta-merta menghapus persoalan perempuan, melainkan hanya mengubah bentuk tantangannya. Ia menyoroti fenomena yang disebut sebagai “beban ganda digital dan sosial.”
Perempuan masa kini, jelasnya, dihadapkan pada standar ganda yang melelahkan. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk cerdas secara intelektual, adaptif terhadap teknologi, dan mandiri secara ekonomi. Namun di sisi lain, ekspektasi domestik tradisional masih melekat kuat.
Selain itu, ia juga menyoroti adanya komodifikasi diri perempuan di era media sosial. Tekanan untuk tampil sempurna sesuai standar global dinilai berpotensi menjauhkan perempuan dari jati diri serta akar budaya lokalnya.
Tak hanya itu, percepatan dinamika zaman turut menciptakan kesenjangan baru, khususnya bagi perempuan yang memiliki keterbatasan akses terhadap informasi. Hal ini semakin memperlebar jarak antara perempuan di wilayah perkotaan dan daerah.
Dalam pandangannya, solusi strategis bagi perempuan adat, khususnya perempuan Papua, terletak pada konsep “kedaulatan berbasis pengetahuan.”
Ia menekankan pentingnya pendidikan yang kontekstual, yakni pendidikan yang tidak mencabut perempuan dari identitas budaya mereka. Perempuan Papua harus mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai ke-Papua-annya.
Selain itu, perlindungan terhadap ruang hidup menjadi hal yang krusial. Vinechya menegaskan bahwa pengakuan terhadap hak ulayat merupakan fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan kehidupan perempuan adat. Hilangnya tanah dan hutan adat akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi dan sosial perempuan.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya kolaborasi lintas generasi. Sinergi antara kearifan lokal para mama-mama di kampung dengan kapasitas intelektual mahasiswi di kampus dinilai penting dalam membangun gerakan perempuan yang kuat dan berakar.
Sebagai pimpinan nasional, Vinechya D. Munua menyampaikan kesan positif terhadap perkembangan Pergerakan Sarinah di tubuh GMNI. Ia mengaku bangga melihat perempuan GMNI kini semakin berani bersuara dan mengambil peran strategis, tidak lagi sekadar pelengkap organisasi.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai perjuangan sebagaimana yang diwariskan oleh Soekarno, bahwa Sarinah adalah fondasi dalam membangun peradaban bangsa. Oleh karena itu, perempuan harus tetap mengakar pada realitas sosial dan tidak terjebak pada eksistensi semu.
Sebagai penutup, ia menyampaikan harapan agar GMNI, khususnya melalui bidang Pergerakan Sarinah, mampu melahirkan kepemimpinan perempuan yang otentik dan progresif. Ia juga menegaskan bahwa perempuan Papua dan perempuan adat lainnya harus menjadi subjek utama dalam pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.
Merdeka!!!






