Oleh : Mohammad Nur Al Rafi
Salah satu anggota KKWP ( Keluh Kesah Wibu Pantura ) dari Tim Shiro ( Region Tegal-Brebes ) si Bung Rafi mengulas pandangannya terkait Makima dan RA Kartini. Yuk simak ulasan beliau dari tulisannya.
Makima adalah salah satu karakter penting dalam anime dan manga Chainsawman. Kehadirannya di episode awal Chainsawman menyita perhatian penonton. Bagaimana tidak seorang wanita yang memiliki jiwa dominan, feminis dan memiliki jiwa kepemimpinan tinggi.
Tak khayal banyak orang yang terutama penonton Chainsawman menyukai karakter satu ini. Walau di sisi lain banyak juga yang tak menyukai nya karena sifatnya begitu Manipulatif seakan akan menjadikan teman-temannya hanya sebuah alat untuk dirinya yang memiliki hasrat untuk menjadi iblis terkuat dan mengalahkan “Four Horseman” lainnya.
Karakter Makima begitu ikonik di dunia Anime, karena sifatnya yang jarang ada di karakter wanita di anime anime lainnya. Di sisi lain penampilan yang simpel seperti rambut merah, ponytail, serta baju hitam putih seperti orang kantoran membuat nya begitu disukai banyak kalangan penonton karena mudah untuk di Cosplay.
Berbicara tentang Makima, ada salah satu karakter yang cukup mirip dengan Makima, bukan dari sifat Manipulatif nya namun sifat Berani, Kuat dan Feminis. Tak lain dan tak bukan ialah Raden Ajeng Kartini salah satu tokoh pahlawan Nasional Indonesia yang memperjuangkan Hak Hak wanita pada masa kolonial belanda.
Kartini hidup dalam lingkungan adat dan kolonialisme. Ia tidak memegang kekuasaan formal, tidak memiliki pasukan, dan tidak pula ditakuti secara fisik. Namun seperti Makima, Kartini memahami satu hal penting, yaitu pengaruh tidak selalu lahir dari kekerasan. Kartini memilih kata-kata sebagai senjata. Surat-suratnya menjadi bentuk perlawanan yang tenang, sopan, namun menghantam langsung akar ketidakadilan.
Jika Makima mengendalikan lewat struktur dan rasa takut, Kartini bergerak lewat kesadaran dan harapan. Keduanya sama sama sadar akan posisi mereka sebagai perempuan di dunia yang dikendalikan laki-laki dan kekuasaan. Bedanya, Makima memilih menjadi pusat kendali, sementara Kartini memilih membuka jalan bagi orang lain agar kelak bisa berdiri sejajar.
Dalam konteks ini, Makima dapat dibaca sebagai bayangan gelap dari perjuangan Kartini. Ia adalah kemungkinan lain: perempuan yang memiliki kebebasan penuh, tetapi menggunakan kebebasan itu untuk menguasai, bukan membebaskan. Kartini memperjuangkan hak perempuan agar menjadi manusia seutuhnya, sedangkan Makima melihat manusia lain sebagai alat yang harus patuh.
Namun justru dari kontras itulah keduanya terasa saling merefleksikan. Kartini dan Makima sama-sama kuat, sama-sama cerdas, dan sama sama lahir dari dunia yang keras. Perbedaannya terletak pada arah. Kartini menatap masa depan dengan harapan, sementara Makima menatap dunia dengan kendali dingin tanpa empati.
Dan mungkin, di sanalah kita bisa membaca Makima bukan sekadar sebagai antagonis, tetapi sebagai peringatan bahwa kekuatan tanpa kemanusiaan hanya akan melahirkan dominasi. Bukan pembebasan sesuatu yang sejak awal diperjuangkan Kartini dengan sunyi sepi.














