
Merauke — Sekitar 1.500 orang dari etnis Suku Wiyaghar menghadiri Syukuran Natal 25 Desember 2025 dan Tahun Baru 2026 yang digelar oleh Biro Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Suku Wiyaghar Papua Selatan, bertempat di Aula Wojtyla Keuskupan Agung Merauke (Rumah Bina Pangkat), Kelapa Lima, Sabtu (10/01/2026).
Kegiatan syukuran ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan semangat kebersamaan, sekaligus menjadi cerminan kuatnya nilai Toleransi antar umat beragama yang hidup dan terawat di tengah masyarakat Suku Wiyaghar.
Ketua Panitia Pelaksana, Muh. Saleh Sangadji, yang merupakan bagian dari Suku Wiyaghar dan beragama Islam, menyampaikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya merupakan bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang dalam membangun persatuan dan keharmonisan.
> “Kegiatan ini adalah wujud nyata bahwa Suku Wiyaghar menjunjung tinggi nilai toleransi, persaudaraan, dan kebersamaan. Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan agama justru memperkuat ikatan kekeluargaan,” ujar Muh. Saleh Sangadji.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, di antaranya Pemerintah Provinsi Papua Selatan, Pemerintah Kabupaten Merauke, Senator DPD RI Daerah Pemilihan Papua Selatan Bapak Friz Tobo Wakasu, DPRP Afirmasi Suku Wiyaghar, Majelis Rakyat Papua Selatan (MRPS) perwakilan adat Suku Wiyaghar, serta para ASN Suku Wiyaghar di tingkat kabupaten dan provinsi Papua Selatan.
> “Antusiasme masyarakat terlihat dari kehadiran sekitar 1.500 orang yang berasal dari 7 rumpun Suku Wiyaghar yang bermukim di Kabupaten Merauke. Sementara itu, diketahui terdapat 16 rumpun lainnya yang tersebar di empat kabupaten serta wilayah lain di Papua,” Pungkasnya
Syukuran Natal dan Tahun Baru ini mengusung tema umum “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24), dengan tiga subtema utama, yaitu:
1. Dengan kelahiran Yesus Kristus, kita menyatukan harapan baru Suku Wiyaghar.
2. Suku Wiyaghar adalah peziarah harapan yang baru.
3. Suku Wiyaghar sebagai harapan janji perdamaian dan kesejahteraan.

Dalam terang Natal 2025/2026, masyarakat Wiyaghar memandang masa depan dengan iman dan pengharapan yang baru.
Natal tidak hanya dimaknai sebagai perayaan kelahiran Yesus Kristus, tetapi juga sebagai tanda kehadiran Tuhan yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya, termasuk Orang Wiyaghar di tanah leluhur Papua Selatan.
> “Harapan masa depan Orang Wiyaghar digambarkan sebagai masa depan yang dipulihkan oleh kasih Tuhan, di mana anak-anak Wiyaghar bertumbuh dalam iman, memperoleh pendidikan yang baik, serta tetap mengenal adat dan jati diri mereka,” Harapnya
Menurut, Muh. Saleh Sangadji, mereka dipersiapkan menjadi generasi yang cerdas, beriman, dan berani berdiri sejajar dengan suku-suku lain tanpa kehilangan identitas budaya.
Selain itu, keluarga-keluarga Wiyaghar diharapkan hidup dalam damai, saling menopang, saling mengampuni, serta menjauhi perpecahan akibat ego dan kepentingan sempit. Orang tua menjadi teladan, pemuda menjadi harapan, dan anak-anak menjadi janji Tuhan bagi masa depan.
> Melalui momentum Natal dan Tahun Baru ini, Orang Wiyaghar diajak untuk bangkit, mengambil peran aktif dalam pembangunan, menjaga keharmonisan bermasyarakat dan bernegara, serta merawat tanah, hutan, dan laut sebagai anugerah Tuhan demi keberlanjutan generasi mendatang.
Syukuran Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 ini menjadi titik awal lembaran baru bagi Orang Wiyaghar: masyarakat adat yang bermartabat, sejahtera, diberkati, serta konsisten menjaga toleransi antar umat beragama dari lingkup terkecil, yaitu keluarga, sekaligus menolak segala bentuk intoleransi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.








