
Timika – Aksi pemalangan gedung SMA Negeri 1 Mimika dan SMA Negeri 7 Mimika oleh sekelompok warga mengakibatkan seluruh aktivitas belajar mengajar terhenti, Rabu (14/02). Aksi tersebut dilakukan sejak pagi hari, bertepatan dengan jam masuk sekolah, sehingga siswa dan guru tidak dapat menjalankan proses pendidikan sebagaimana mestinya.
Pemalangan dilakukan dengan menutup akses masuk sekolah menggunakan spanduk, yang membuat kegiatan belajar mengajar lumpuh total selama aksi berlangsung. Situasi ini memicu keresahan di kalangan orang tua murid dan tenaga pendidik karena berdampak langsung pada hak anak untuk memperoleh pendidikan.
Menanggapi peristiwa itu, Kepala Kampung Nawaripi yang juga Ketua Komite SMA Negeri 1 Mimika, Norman Ditubun, mengecam keras aksi tersebut. Ia menilai pemalangan sekolah sebagai tindakan premanisme yang tidak dapat dibenarkan karena telah menghalangi dan membatasi proses pendidikan anak-anak di Kabupaten Mimika.
“Oknum-oknum yang melakukan pemalangan ini adalah tindakan premanisme. Mereka secara sadar membatasi dan menghalangi anak-anak untuk beraktivitas dalam proses belajar mengajar. Ini tindakan sangat buruk dan merusak masa depan pendidikan,” ujar Norman kepada wartawan, Rabu (14/02).
Norman juga menyampaikan apresiasi kepada para guru dan orang tua murid yang dengan sigap membuka spanduk yang dipasang di pintu masuk sekolah, sehingga aktivitas sekolah dapat kembali berjalan.
Ia menegaskan, sebagai Kepala Kampung Nawaripi, pihaknya bertanggung jawab penuh atas keamanan di wilayah administrasi kampung, termasuk lingkungan sekolah yang menjadi bagian dari wilayah hukum Pemerintah Kampung Nawaripi.
“Saya berterima kasih kepada guru dan orang tua murid yang berani membuka palang. Sebagai Ketua Komite Sekolah sekaligus Kepala Kampung Nawaripi, saya menegaskan persoalan ini terjadi di wilayah saya. Ke depan, kami akan membentuk tim keamanan dari orang tua murid dan Karang Taruna Nawaripi, bekerja sama dengan aparat keamanan untuk mengontrol dan menjaga aktivitas sekolah agar berjalan aman dan normal,” tegasnya.
Peristiwa ini menambah daftar gangguan terhadap dunia pendidikan di Mimika, sekaligus menjadi alarm serius bagi semua pihak agar konflik dan kepentingan tertentu tidak lagi menjadikan sekolah sebagai sasaran tekanan.








