• Latest
  • Trending
  • All
Indonesia 2026: Di Antara Peluang Besar dan Tantangan Nyata

Indonesia 2026: Di Antara Peluang Besar dan Tantangan Nyata

Januari 10, 2026

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Januari 18, 2026

Ibadah Syukur ke-89 Tahun Pekabaran Injil, Keluarga Besar A3 Mimika Teguhkan Iman dan Persaudaraan Lewat Ibadah Bersama

Januari 18, 2026

“YESUS – Sang Pencipta Impian” Karya Yulianus Mote Hadirkan Perspektif Rohani tentang Makna Impian

Januari 18, 2026

DPC GMNI Kabupaten Mimika dan Pemerintah Distrik Mimika Barat Jauh Perkuat Sinergi Pembangunan

Januari 18, 2026

MUSRENBANG KAMPUNG NAWARIPI TAHUN 2025 DESA MANDIRI NAWARIPI MENUJU DESA SWASEMBADA NAWARIPI

Januari 15, 2026
Tim Advokasi untuk Demokrasi Melawan Pembungkaman, Merawat Demokrasi: Aktivis dan Konten Kreator Laporkan Teror ke Polisi

Tim Advokasi untuk Demokrasi Melawan Pembungkaman, Merawat Demokrasi: Aktivis dan Konten Kreator Laporkan Teror ke Polisi

Januari 15, 2026

Ketua KNPI Jayawijaya Hengky Hilapok Temui Wapres Gibran, Dorong Pusat Konsolidasi Pemuda di Wamena

Januari 15, 2026

Dari Wamena, Pemuda Papua Pegunungan dan Wapres Gibran Satukan Harapan Pembangunan

Januari 14, 2026

Sinergi Pemerintah Pusat dan Desa, Bantuan Sembako Disalurkan ke Nawaripi Jaya

Januari 15, 2026

Gerbang Tertutup, Cita-Cita Tertahan: Aksi Pemalangan dan Darurat Pendidikan di Mimika

Januari 15, 2026

Musdus Nawaripi, Pemerintah Kampung Ingatkan Program Harus Berpihak ke Warga

Januari 15, 2026
Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Januari 11, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, Januari 18, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Nasional

Indonesia 2026: Di Antara Peluang Besar dan Tantangan Nyata

in Nasional
0
Indonesia 2026: Di Antara Peluang Besar dan Tantangan Nyata
28
SHARES
315
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Oleh: Teguh Anantawikrama, Ketua Dewan Pembina Solidaritas Pemuda Desa.

Memasuki 2026, Indonesia berdiri di persimpangan penting. Secara makro, fondasi ekonomi terlihat solid: likuiditas berlimpah, investasi tetap masuk, pasar domestik besar, dan kekayaan sumber daya alam yang strategis. Namun, di balik angka-angka itu, terdapat persoalan klasik yang belum sepenuhnya terjawab—eksekusi, kepastian, dan produktivitas.

RelatedPosts

DPP IMORI Apresiasi Komitmen Presiden Prabowo, Harap Perlakuan yang Sama Bagi Atlet Asean Para Games

Kaum Muda dan Tahun Bangkit 2026: Mesin Kebangkitan Bangsa

Gubernur Papua Tengah: “Jangan Lagi Nyawa Berjatuhan, Perang Kwamki Narama Harus Berhenti”

Likuiditas Ada, Tapi Belum Sepenuhnya Menjadi Pertumbuhan

Sistem keuangan Indonesia saat ini tidak kekurangan uang. Uang beredar (M2) telah mendekati Rp 10.000 triliun. Bank Indonesia juga aktif melonggarkan likuiditas melalui berbagai instrumen—mulai dari penyesuaian SRBI hingga insentif giro wajib minimum yang melepaskan ratusan triliun rupiah ke sistem perbankan.

Masalahnya bukan pada ketersediaan dana, melainkan pada penyalurannya. Permintaan kredit produktif masih tertinggal. Banyak bank memilih menempatkan dana pada instrumen aman seperti SBN, bukan pada pembiayaan proyek baru. Rasio loan-to-deposit yang masih di kisaran menengah menunjukkan kapasitas ada, tetapi pipeline proyek yang “bankable” belum cukup kuat.

Pelajaran penting untuk 2026 jelas: pertumbuhan tidak akan datang hanya dengan melonggarkan likuiditas. Yang dibutuhkan adalah kesiapan proyek—perizinan yang tuntas, kepastian lahan, kejelasan offtaker, dan skema mitigasi risiko yang membuat bank dan investor percaya diri.

Kegelisahan Investor: Lahan dan Biaya Tenaga Kerja

Indonesia tetap menarik, tetapi investor semakin berhitung.

Di sisi lahan, meski pemerintah telah membangun kerangka kelembagaan seperti Bank Tanah, persepsi risiko belum sepenuhnya hilang. Sengketa, tumpang tindih klaim, dan proses administratif yang panjang masih menjadi cerita berulang di lapangan. Bagi investor, ketidakpastian lahan berarti premi risiko—dan premi risiko berarti biaya modal yang lebih mahal.

Di sisi tenaga kerja, tren kenaikan upah minimum berlanjut. Kenaikan ini wajar secara sosial, tetapi tanpa diimbangi produktivitas, biaya tenaga kerja per unit output akan meningkat. Itu sebabnya, ke depan investor akan semakin menuntut strategi ketenagakerjaan yang berbasis produktivitas: peningkatan keterampilan, adopsi teknologi, otomasi, dan stabilitas hubungan industrial.

Pesannya tegas: Indonesia tetap high-upside market, tetapi hanya akan kompetitif jika risiko lahan dikelola secara sistemik dan kebijakan tenaga kerja diarahkan pada produktivitas, bukan sekadar nominal upah.

Arus Investasi Masih Kuat—Dengan Catatan

Di tengah kehati-hatian global, investasi ke Indonesia tidak surut. Realisasi investasi terus mencetak pertumbuhan dua digit, menyerap jutaan tenaga kerja, dan menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandang sebagai platform skala besar—khususnya di sektor hilirisasi, infrastruktur terkait industri, dan sektor berbasis permintaan domestik.

Namun sinyal dari investor juga jelas: mereka datang, tetapi menuntut kepastian eksekusi. Bukan janji kebijakan, melainkan kepastian di lapangan.

Pasar Domestik: Pilar Ketahanan Ekonomi

Sekitar separuh PDB Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Dengan populasi mendekati 300 juta jiwa, pasar domestik Indonesia adalah bantalan alami terhadap gejolak global—baik siklus komoditas, suku bunga dunia, maupun tensi geopolitik.

Tantangannya adalah kualitas pertumbuhan. Konsumsi harus diiringi penciptaan pekerjaan bernilai tambah lebih tinggi, agar ekonomi tidak hanya bergerak, tetapi juga naik kelas. Tanpa itu, pasar besar hanya akan menjadi mesin impor dan distribusi, bukan produksi bernilai tinggi.

Sumber Daya Alam: Dari Keunggulan Alam ke Keunggulan Industri

Indonesia memiliki posisi unik dalam mineral kritis dan pangan. Dominasi nikel global, posisi utama dalam kelapa sawit, serta basis produksi pangan yang besar memberi Indonesia leverage strategis.

Tantangan 2026 adalah membangun “tangga nilai tambah”:
nikel ke material baterai dan manufaktur,
sawit ke bioenergi dan oleokimia,
pangan ke sistem logistik, cold chain, dan mekanisasi.

Semua itu harus berjalan seiring dengan kredibilitas keberlanjutan dan konsistensi regulasi. Tanpa itu, keunggulan sumber daya bisa berubah menjadi sumber friksi internasional.

Bonus Demografi: Masih Relevan, Tapi Tidak Otomatis

Proporsi penduduk usia produktif Indonesia masih besar. Ini adalah modal sosial-ekonomi yang langka di dunia yang menua. Namun bonus demografi bukan hadiah otomatis. Tanpa investasi serius pada keterampilan, kesehatan, mobilitas tenaga kerja, dan penciptaan kerja formal, bonus ini bisa berubah menjadi tekanan sosial.

Geopolitik Global dan Posisi Indonesia

Dinamika global semakin keras: sengketa wilayah, intervensi militer, dan erosi norma internasional. Ketegangan di Amerika Latin—baik soal klaim teritorial maupun eskalasi militer—menunjukkan bahwa dunia memasuki fase ketidakpastian baru.

Bagi Indonesia sebagai negara menengah (middle power), ini justru peluang. Dengan konsistensi pada diplomasi de-eskalasi, sentralitas ASEAN, dan komitmen pada aturan internasional, Indonesia dapat memosisikan diri sebagai “safe harbor”—baik secara politik maupun ekonomi.

Namun kredibilitas eksternal hanya akan kuat jika ditopang kepastian hukum dan konsistensi kebijakan di dalam negeri.

Penutup

Indonesia 2026 bukan tentang apakah peluang itu ada—peluangnya nyata dan besar. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu mengubah potensi menjadi kinerja. Likuiditas harus menjadi investasi, sumber daya harus menjadi industri, bonus demografi harus menjadi produktivitas, dan stabilitas geopolitik harus menjadi kepercayaan global.

Di sinilah pekerjaan rumah sesungguhnya dimulai.

Tags: Dewan Pembina Solidaritas Pemuda Desa
Share11SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PT. TAS. Gelar Pertemuan Lanjutan dengan Masyarakat Adat Mimika Barat Jauh, Bahas Operasional Perkebunan Kelapa Sawit

Desember 15, 2025
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Januari 18, 2026

Ibadah Syukur ke-89 Tahun Pekabaran Injil, Keluarga Besar A3 Mimika Teguhkan Iman dan Persaudaraan Lewat Ibadah Bersama

Januari 18, 2026

“YESUS – Sang Pencipta Impian” Karya Yulianus Mote Hadirkan Perspektif Rohani tentang Makna Impian

Januari 18, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In