
Timika, Sabtu, 27 Desember 2025 — Nuansa damai Natal dan Tahun Baru (Nataru) di Kabupaten Mimika, khususnya di Distrik Kwamki Narama, nyaris tak terasa. Suasana yang seharusnya dipenuhi doa, sukacita, dan kebersamaan justru tergantikan oleh teriakan pembunuhan, bunyi tembakan, tarikan panah, serta simbol-simbol konflik yang mencederai nilai kemanusiaan dan kesakralan perayaan keagamaan.
Peristiwa bentrokan antarkelompok masyarakat yang kembali pecah di wilayah tersebut menimbulkan keresahan luas dan kekhawatiran akan bertambahnya korban jiwa. Situasi ini mendapat sorotan tajam dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Mimika.
Bung Kafiar, selaku kader GMNI Kabupaten Mimika, menyampaikan duka dan keprihatinan mendalam atas kondisi keamanan yang memburuk di Kota Timika. Ia menilai Pemerintah Daerah (Pemda) bersama aparat keamanan terkesan melakukan pembiaran, sehingga konflik terus berulang dan menelan korban.
“Situasi ini sangat miris. Ketika masyarakat membutuhkan kehadiran negara, justru yang terlihat adalah pembiaran. Pemda bukannya mencari solusi, malah membiarkan perang suku terus terjadi. Ini menunjukkan kegagalan pihak keamanan dan pimpinan daerah dalam mengawal stabilitas keamanan,” tegas Bung Kafiar, Sabtu (27/12).
Menurutnya, kondisi sosial saat ini berada pada titik yang tidak baik, terlebih terjadi di momentum sakral Nataru. Ia mempertanyakan peran konkret aparat keamanan dan Pemda dalam mencegah konflik sejak dini.
“Kemana pihak keamanan? Kemana Pemda? Apakah harus menunggu korban semakin banyak baru turun tangan? Jabatan yang dipercayakan kepada pimpinan daerah itu seharusnya digunakan untuk melindungi rakyat,” ujarnya dengan nada kritis.
GMNI Kabupaten Mimika menilai bahwa konflik horizontal yang terus dibiarkan tidak hanya mengancam keselamatan masyarakat, tetapi juga masa depan orang Papua itu sendiri. Bung Kafiar mengingatkan bahwa berdasarkan data statistik, populasi Orang Asli Papua semakin menurun, sehingga perang antarsaudara harus segera dihentikan.
“Kitong sudah sedikit, jangan baku perang lagi. Mari bergandeng tangan, ciptakan suasana damai di bulan yang sakral ini, menyambut kelahiran Tuhan Yesus dengan hati yang penuh damai dan suka cita,” katanya.
Sebagai organisasi kader nasionalis, GMNI Kabupaten Mimika mendesak pimpinan daerah agar segera bertindak sebagai “orang tua” bagi seluruh masyarakat dengan mengambil langkah tegas, terukur, dan humanis untuk menghentikan konflik di Distrik Kwamki Narama.
GMNI juga meminta aparat keamanan untuk segera mengamankan situasi dan mencegah meluasnya konflik agar tidak kembali menelan korban jiwa.
“Kami keluarga besar GMNI Kabupaten Mimika meminta kepada Pemda dan pihak keamanan agar tidak lagi mendiamkan situasi ini. Negara harus hadir untuk menjamin keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat,” pungkas Bung Kafiar.









