Di tengah krisis iklim global, pencarian akan sumber energi terbarukan yang mampu menggantikan bahan bakar fosil menjadi prioritas utama. Bioenergi, materi organik yang berasal dari tumbuhan dan hewan, muncul sebagai solusi yang sangat menjanjikan.
Dengan proses yang tepat, bioenergi memiliki dampak positif signifikan terhadap pengurangan emisi karbon global dan menjadikannya pilar penting dalam strategi mitigasi perubahan iklim dan pencapaian target emisi netral (net-zero).
Siklus Karbon Netral
Dampak positif bioenergi terhadap iklim didasarkan pada konsep netralitas karbon atau siklus karbon tertutup. Tanaman-tanaman yang digunakan sebagai biomassa, seperti tebu, jagung atau kayu energi menyerap CO2 dari atmosfer selama proses fotosintesis saat mereka tumbuh.
Kemudian, ketika biomassa diolah menjadi bioenergi dengan cara dibakar untuk listrik atau difermentasi menjadi biofuel seperti bioetanol/biodiesel dan digunakan, maka ia akan melepaskan CO2 kembali ke atmosfer.
Secara teori, CO2 yang dilepaskan saat pembakaran biomassa setara dengan CO2 yang diserap saat tanaman tersebut tumbuh. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang melepaskan karbon yang telah terkunci di dalam bumi selama jutaan tahun, bioenergi hanya melepaskan karbon yang sudah berada dalam siklus alami atmosfer.
Selama biomassa baru ditanam secara berkelanjutan untuk menggantikan yang dipanen, siklus ini dianggap netral karbon.
Bentuk-Bentuk Bioenergi dan Reduksi Emisinya
Bioenergi hadir dalam berbagai bentuk yang memberikan kontribusi unik terhadap dekarbonisasi di berbagai sektor. Beberapa bentuk bioenergi, antara lain:
1. Biofuel untuk Transportasi
Biofuel seperti biodiesel yang berasal dari minyak kelapa sawit, jarak, atau kedelai dan bioetanol yang berasal dari tebu atau singkong adalah pengganti langsung untuk bensin dan diesel.
Dampak reduksi dari penggunaan biofuel terbarukan ini dapat mengurangi emisi GRK dari sektor transportasi hingga 50% hingga 90% dibandingkan dengan bahan bakar fosil konvensional. Program mandatori pencampuran biofuel, seperti B35 di Indonesia, telah secara efektif mengurangi ketergantungan pada minyak mentah sambil mengurangi emisi.
2. Biomassa Padat untuk Pembangkit Listrik
Biomassa padat, seperti pelet kayu, residu pertanian, atau limbah perkebunan dapat digunakan di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) melalui proses co-firing, yaitu pembakaran bersama dengan batu bara atau pembakaran murni.
Dampak reduksi yang bisa dilihat dari penggantian batu bara dengan biomassa melalui co-firing adalah cara cepat dan efektif untuk mengurangi emisi CO2 pembangkit listrik yang sudah ada tanpa perlu membangun infrastruktur baru yang mahal. Proses ini juga memanfaatkan limbah yang jika dibiarkan membusuk akan melepaskan metana (CH4), gas rumah kaca yang lebih kuat.
3. Biogas dan Biometana
Biogas dihasilkan dari proses pencernaan anaerobik limbah organik (limbah pertanian, kotoran ternak, TPA). Biogas dapat dimurnikan menjadi biometana, yang memiliki komposisi mirip dengan gas alam.
Dampak reduksi metana yang paling signifikan dari biogas adalah penangkapan emisi metana. Metana yang dilepaskan dari tempat pembuangan sampah atau peternakan adalah GRK yang sangat kuat puluhan kali lipat lebih kuat daripada CO2 dalam jangka pendek.
Dengan menangkap metana dan membakarnya untuk energi, perusahaan mengubah gas rumah kaca yang kuat menjadi gas rumah kaca yang relatif lemah (CO2), sambil menghasilkan listrik dan panas yang berguna.
Pentingnya Aspek Keberlanjutan
Perlu dipahami bahwa potensi positif bioenergi hanya tercapai jika dikelola secara berkelanjutan.
Hal ini penting mengingat jika ada isu perubahan lahan seperti hutan alami atau lahan gambut dikonversi menjadi lahan budidaya biomassa, CO2 yang dilepaskan dari perubahan lahan ini dapat membatalkan manfaat pengurangan emisi selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Emisi dari perubahan penggunaan lahan adalah tantangan besar yang harus dihindari.
Dibutuhkan keseimbangan energi dalam proses penanaman, pemanenan, pemrosesan, dan transportasi biomassa (life cycle emissions) harus lebih kecil daripada energi yang dihasilkan.
Oleh karena itu, keberhasilan bioenergi terletak pada pemanfaatan lahan marjinal, tanaman non-pangan, dan limbah/residu (seperti tandan kosong sawit, ampas tebu, atau limbah kayu) sebagai bahan baku, bukan pada deforestasi.
Bioenergi menawarkan jalan yang valid dan terukur untuk mencapai dekarbonisasi di sektor-sektor yang sulit dijangkau oleh elektrifikasi langsung, seperti transportasi jarak jauh dan beberapa proses industri.
Dengan memanfaatkan prinsip siklus karbon netral dan berfokus pada sumber biomassa yang berkelanjutan terutama pada limbah, bioenergi dapat secara signifikan mengurangi emisi CO2 dan yang lebih penting emisi metana yang sangat kuat.
Melalui dukungan kebijakan yang bijak dan praktik pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, bioenergi akan memainkan peran kunci dalam membawa Indonesia dan dunia menuju ketahanan energi yang bersih dan masa depan nol emisi karbon.
















