Oleh: Teguh Anantawikrama, Ketua Dewan Pembina Solidaritas Pemuda Desa.
Memasuki 2026, Indonesia berdiri di persimpangan penting. Secara makro, fondasi ekonomi terlihat solid: likuiditas berlimpah, investasi tetap masuk, pasar domestik besar, dan kekayaan sumber daya alam yang strategis. Namun, di balik angka-angka itu, terdapat persoalan klasik yang belum sepenuhnya terjawab—eksekusi, kepastian, dan produktivitas.
Likuiditas Ada, Tapi Belum Sepenuhnya Menjadi Pertumbuhan
Sistem keuangan Indonesia saat ini tidak kekurangan uang. Uang beredar (M2) telah mendekati Rp 10.000 triliun. Bank Indonesia juga aktif melonggarkan likuiditas melalui berbagai instrumen—mulai dari penyesuaian SRBI hingga insentif giro wajib minimum yang melepaskan ratusan triliun rupiah ke sistem perbankan.
Masalahnya bukan pada ketersediaan dana, melainkan pada penyalurannya. Permintaan kredit produktif masih tertinggal. Banyak bank memilih menempatkan dana pada instrumen aman seperti SBN, bukan pada pembiayaan proyek baru. Rasio loan-to-deposit yang masih di kisaran menengah menunjukkan kapasitas ada, tetapi pipeline proyek yang “bankable” belum cukup kuat.
Pelajaran penting untuk 2026 jelas: pertumbuhan tidak akan datang hanya dengan melonggarkan likuiditas. Yang dibutuhkan adalah kesiapan proyek—perizinan yang tuntas, kepastian lahan, kejelasan offtaker, dan skema mitigasi risiko yang membuat bank dan investor percaya diri.
Kegelisahan Investor: Lahan dan Biaya Tenaga Kerja
Indonesia tetap menarik, tetapi investor semakin berhitung.
Di sisi lahan, meski pemerintah telah membangun kerangka kelembagaan seperti Bank Tanah, persepsi risiko belum sepenuhnya hilang. Sengketa, tumpang tindih klaim, dan proses administratif yang panjang masih menjadi cerita berulang di lapangan. Bagi investor, ketidakpastian lahan berarti premi risiko—dan premi risiko berarti biaya modal yang lebih mahal.
Di sisi tenaga kerja, tren kenaikan upah minimum berlanjut. Kenaikan ini wajar secara sosial, tetapi tanpa diimbangi produktivitas, biaya tenaga kerja per unit output akan meningkat. Itu sebabnya, ke depan investor akan semakin menuntut strategi ketenagakerjaan yang berbasis produktivitas: peningkatan keterampilan, adopsi teknologi, otomasi, dan stabilitas hubungan industrial.
Pesannya tegas: Indonesia tetap high-upside market, tetapi hanya akan kompetitif jika risiko lahan dikelola secara sistemik dan kebijakan tenaga kerja diarahkan pada produktivitas, bukan sekadar nominal upah.
Arus Investasi Masih Kuat—Dengan Catatan
Di tengah kehati-hatian global, investasi ke Indonesia tidak surut. Realisasi investasi terus mencetak pertumbuhan dua digit, menyerap jutaan tenaga kerja, dan menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandang sebagai platform skala besar—khususnya di sektor hilirisasi, infrastruktur terkait industri, dan sektor berbasis permintaan domestik.
Namun sinyal dari investor juga jelas: mereka datang, tetapi menuntut kepastian eksekusi. Bukan janji kebijakan, melainkan kepastian di lapangan.
Pasar Domestik: Pilar Ketahanan Ekonomi
Sekitar separuh PDB Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Dengan populasi mendekati 300 juta jiwa, pasar domestik Indonesia adalah bantalan alami terhadap gejolak global—baik siklus komoditas, suku bunga dunia, maupun tensi geopolitik.
Tantangannya adalah kualitas pertumbuhan. Konsumsi harus diiringi penciptaan pekerjaan bernilai tambah lebih tinggi, agar ekonomi tidak hanya bergerak, tetapi juga naik kelas. Tanpa itu, pasar besar hanya akan menjadi mesin impor dan distribusi, bukan produksi bernilai tinggi.
Sumber Daya Alam: Dari Keunggulan Alam ke Keunggulan Industri
Indonesia memiliki posisi unik dalam mineral kritis dan pangan. Dominasi nikel global, posisi utama dalam kelapa sawit, serta basis produksi pangan yang besar memberi Indonesia leverage strategis.
Tantangan 2026 adalah membangun “tangga nilai tambah”:
nikel ke material baterai dan manufaktur,
sawit ke bioenergi dan oleokimia,
pangan ke sistem logistik, cold chain, dan mekanisasi.
Semua itu harus berjalan seiring dengan kredibilitas keberlanjutan dan konsistensi regulasi. Tanpa itu, keunggulan sumber daya bisa berubah menjadi sumber friksi internasional.
Bonus Demografi: Masih Relevan, Tapi Tidak Otomatis
Proporsi penduduk usia produktif Indonesia masih besar. Ini adalah modal sosial-ekonomi yang langka di dunia yang menua. Namun bonus demografi bukan hadiah otomatis. Tanpa investasi serius pada keterampilan, kesehatan, mobilitas tenaga kerja, dan penciptaan kerja formal, bonus ini bisa berubah menjadi tekanan sosial.
Geopolitik Global dan Posisi Indonesia
Dinamika global semakin keras: sengketa wilayah, intervensi militer, dan erosi norma internasional. Ketegangan di Amerika Latin—baik soal klaim teritorial maupun eskalasi militer—menunjukkan bahwa dunia memasuki fase ketidakpastian baru.
Bagi Indonesia sebagai negara menengah (middle power), ini justru peluang. Dengan konsistensi pada diplomasi de-eskalasi, sentralitas ASEAN, dan komitmen pada aturan internasional, Indonesia dapat memosisikan diri sebagai “safe harbor”—baik secara politik maupun ekonomi.
Namun kredibilitas eksternal hanya akan kuat jika ditopang kepastian hukum dan konsistensi kebijakan di dalam negeri.
Penutup
Indonesia 2026 bukan tentang apakah peluang itu ada—peluangnya nyata dan besar. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu mengubah potensi menjadi kinerja. Likuiditas harus menjadi investasi, sumber daya harus menjadi industri, bonus demografi harus menjadi produktivitas, dan stabilitas geopolitik harus menjadi kepercayaan global.
Di sinilah pekerjaan rumah sesungguhnya dimulai.










