• Latest
  • Trending
  • All
Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

Januari 7, 2026

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Januari 18, 2026

Ibadah Syukur ke-89 Tahun Pekabaran Injil, Keluarga Besar A3 Mimika Teguhkan Iman dan Persaudaraan Lewat Ibadah Bersama

Januari 18, 2026

“YESUS – Sang Pencipta Impian” Karya Yulianus Mote Hadirkan Perspektif Rohani tentang Makna Impian

Januari 18, 2026

DPC GMNI Kabupaten Mimika dan Pemerintah Distrik Mimika Barat Jauh Perkuat Sinergi Pembangunan

Januari 18, 2026

MUSRENBANG KAMPUNG NAWARIPI TAHUN 2025 DESA MANDIRI NAWARIPI MENUJU DESA SWASEMBADA NAWARIPI

Januari 15, 2026
Tim Advokasi untuk Demokrasi Melawan Pembungkaman, Merawat Demokrasi: Aktivis dan Konten Kreator Laporkan Teror ke Polisi

Tim Advokasi untuk Demokrasi Melawan Pembungkaman, Merawat Demokrasi: Aktivis dan Konten Kreator Laporkan Teror ke Polisi

Januari 15, 2026

Ketua KNPI Jayawijaya Hengky Hilapok Temui Wapres Gibran, Dorong Pusat Konsolidasi Pemuda di Wamena

Januari 15, 2026

Dari Wamena, Pemuda Papua Pegunungan dan Wapres Gibran Satukan Harapan Pembangunan

Januari 14, 2026

Sinergi Pemerintah Pusat dan Desa, Bantuan Sembako Disalurkan ke Nawaripi Jaya

Januari 15, 2026

Gerbang Tertutup, Cita-Cita Tertahan: Aksi Pemalangan dan Darurat Pendidikan di Mimika

Januari 15, 2026

Musdus Nawaripi, Pemerintah Kampung Ingatkan Program Harus Berpihak ke Warga

Januari 15, 2026
Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Januari 11, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, Januari 18, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer

in Opini
0
Hantu Lebih Rasional dari Bulldozer
32
SHARES
358
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

IPA BAHYA
Alumni Universitas Gadjah Mada.

Doro Londa di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, sering dipuji sebagai anomali ekologis: sebuah kawasan perbukitan yang masih hijau, dipenuhi pepohonan besar, dan relatif bebas dari alih fungsi lahan. Namun pujian ini kerap berhenti pada kekaguman visual, tanpa keberanian mengkritik mengapa kelestarian itu bisa terjadi dan apa yang sesungguhnya dipertaruhkan di baliknya. Fakta bahwa Doro Londa tetap lestari bukan terutama karena kesadaran ekologis modern, melainkan karena ketakutan kolektif terhadap mitos hantu dan jin, justru membuka ironi besar dalam cara manusia modern memahami alam.

RelatedPosts

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Kaleidoskop 2025: Tahun Fondasi, Bukan Tahun Seremonial

Mitos tentang jin dan makhluk halus yang mendiami Doro Londa sering dicemooh sebagai takhayul. Namun jika dilihat secara kritis, mitos ini justru berfungsi lebih efektif daripada berbagai kebijakan lingkungan formal. Ketika negara gagal menghadirkan perlindungan ekologis yang tegas, mitos mengambil alih peran tersebut. Dalam konteks ini, hantu dan jin bukan sekadar entitas supranatural, melainkan alat kontrol sosial yang mengekang keserakahan manusia. Ketakutan menjadi mekanisme disipliner yang menjaga hutan tetap utuh. Ini memperlihatkan paradoks: rasionalitas modern yang mengklaim diri lebih maju justru sering menjadi aktor utama kerusakan lingkungan.

Melalui lensa ekologi politik (political ecology), kelestarian Doro Londa dapat dibaca sebagai hasil absennya kepentingan ekonomi berskala besar, bukan karena komitmen moral kolektif terhadap alam. Selama Doro Londa belum sepenuhnya “bernilai” secara kapital—misalnya untuk tambang, properti, atau infrastruktur—ia dibiarkan hidup di bawah selubung mitos. Namun sejarah di banyak tempat menunjukkan bahwa ketika nilai ekonomi muncul, mitos akan segera didelegitimasi. Jin dianggap khayalan, hantu dianggap kebodohan, dan bulldozer pun masuk tanpa rasa bersalah. Dengan demikian, mitos hanya bertahan selama ia tidak mengganggu kepentingan kuasa dan modal.

Dari sudut antropologi kritis, mitos Doro Londa berfungsi sebagai bentuk perlawanan kultural yang tidak disadari. Ia menciptakan batas simbolik terhadap eksploitasi, terutama oleh masyarakat lokal sendiri. Namun batas ini rapuh, karena tidak dilindungi oleh sistem hukum yang kuat. Ketika negara dan pasar hadir dengan bahasa “pembangunan”, mitos kehilangan legitimasi. Di sinilah letak tragedinya: pengetahuan lokal yang selama ini terbukti menjaga ekologi justru disingkirkan oleh narasi kemajuan yang eksploitatif.

Pendekatan rasionalisasi Max Weber juga relevan untuk membaca fenomena ini. Modernitas berupaya “menyihir ulang” dunia dengan logika kalkulasi dan efisiensi, menyingkirkan yang dianggap irasional. Tetapi dalam prosesnya, dunia menjadi “tercerabut dari makna”. Doro Londa, yang sebelumnya dilihat sebagai ruang hidup penuh makna spiritual, direduksi menjadi objek ekonomi. Hasilnya bukan kesejahteraan ekologis, melainkan kerusakan sistematis. Ironisnya, apa yang disebut irasional—ketakutan terhadap hantu—justru lebih rasional secara ekologis dibanding logika pembangunan modern.

Lebih tajam lagi, mitos Doro Londa juga mengungkap kemunafikan diskursus lingkungan kontemporer. Kampanye pelestarian sering datang dari luar, berbalut bahasa ilmiah dan proyek donor, tetapi mengabaikan sistem kepercayaan lokal yang telah bekerja selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ketika hutan rusak, masyarakat lokal disalahkan; ketika hutan lestari, kontribusi mereka tidak diakui karena dianggap berbasis takhayul.

Doro Londa pada akhirnya menjadi cermin kegagalan manusia modern dalam merawat alam tanpa rasa takut. Ia bertahan bukan karena cinta ekologis, melainkan karena horor kultural. Pertanyaannya bukan apakah mitos itu benar atau salah, melainkan: mengapa manusia membutuhkan ketakutan terhadap makhluk gaib untuk menahan hasrat merusaknya sendiri? Selama pertanyaan ini tidak dijawab secara jujur, maka Doro Londa hanyalah jeda sementara sebelum nalar eksploitatif kembali menang—dan hantu pun akan terusir, bersama pepohonan yang selama ini mereka “jaga”.

Tags: EkologisIpa BahyaUniversitas Gadjah Mada
Share13SendShare
Redaksi

Redaksi

Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In