
TIMIKA, 27 Desember 2025 – Perayaan Natal Pemuda Okumene yang digelar di Distrik Kwamki Narama menjadi momentum strategis untuk membuka jalan perdamaian dan rekonsiliasi antar kelompok yang terlibat dalam konflik horizontal belakangan ini. Ibadah yang berlangsung khidmat ini diharapkan menjadi fondasi mengakhiri “perang saudara” yang melanda wilayah tersebut.
Ini Merupakan Aksi Nyata KNPI dan Gereja sebagai Perekat Ketua KNPI setempat, Awen Magai, menjadi motor penggerak inisiatif perdamaian ini. Melalui perayaan Natal Pemuda, ia berharap dapat menciptakan ruang dialog dan pertobatan bersama. “Natal Pemuda ini kami gagas sebagai jembatan untuk menyatukan kembali semua pihak yang bertikai. Ini tentang memulihkan hubungan kemanusiaan kita,” ujarnya.
Ibadah dipimpin oleh Pendeta Renatohi dengan tema sentral “Allah Hadir untuk Menyelamatkan” yang diambil dari Matius 1:21. Dalam khotbahnya, Pendeta Renatohi menekankan bahwa perdamaian sejati hanya dapat tercapai melalui pengakuan kesalahan dan pertobatan kolektif, bukan melalui penyelesaian adat biasa yang seringkali hanya bersifat transaksional.
Pendeta Renatohi menyampaikan pesan keras namun penuh harapan. Ia mengkritik tindakan-tindakan memalukan yang terjadi selama konflik, seperti pembakaran gereja dan pengambilan paksa barang-barang ibadah, yang ia sebut sebagai “perbuatan yang menutup pintu berkat”.
“Kita harus berani mengaku bahwa ini pernah salah. Hanya dengan pengakuan tulus dan memohon ampun, barulah damai sejati yang membebaskan kita dari kutuk dan siklus balas dendam bisa terwujud,” tegasnya dalam khotbah yang berdurasi panjang.
Ia menegaskan bahwa keselamatan dan perdamaian adalah anugerah yang telah dibayar lunas oleh Yesus Kristus, sehingga semua pihak dipanggil untuk menerimanya dengan rendah hati. “Yesus datang untuk menyelamatkan dari dosa, yang memutuskan hubungan dengan Allah dan sesama. Penyelesaian-Nya final. Kita tinggal mengaku, ‘saya salah’, maka hubungan itu dipulihkan,” jelasnya.
Rencana Tindak Lanjut: Dari Ibadah ke Meja Perdamaian
Yang membedakan inisiatif ini adalah rencana tindak lanjut konkret yang sudah disiapkan. Perayaan Natal ini bukan titik akhir, melainkan pembuka bagi sebuah proses rekonsiliasi bertahap yang disebut “Momen Pasca”.
Rencananya, dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan besar yang melibatkan seluruh kepala kampung, tua-tua adat, dan perwakilan gereja se-Distrik Kwamki Narama. Pertemuan yang akan difasilitasi oleh Awen Magai dan Pendeta Renatohi ini bertujuan untuk mendengarkan pengakuan dari semua pihak yang bertikai, menyatakan permohonan maaf, dan secara simbolis memutus mata rantai kekerasan.
“Kita akan selesaikan semua ‘kutuk’ ini secara bersama. Jika kita mengaku dosa, Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita. Inilah yang akan kita lakukan di meja rekonsiliasi nanti,” pungkas Pendeta Renatohi.
Ibadah Natal Pemuda ini ditutup dengan komitmen bersama untuk mengikuti seluruh rangkaian proses perdamaian tersebut. Semua pihak berharap, semangat Natal yang mengusung kasih dan pengampunan dapat menjadi kekuatan untuk mengakhiri konflik dan membangun masa depan Kwamki Narama yang lebih damai.








