Makassar, Siasat ID – Kegiatan Kajian Rutin bertema “Sejarah Feminisme” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Tarbiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muslim Indonesia (HMT FAI UMI) telah terlaksana dengan lancar dan penuh antusiasme pada Selasa, 16 Desember 2025, bertempat di Aula FAI UMI Lantai 2. Sejak siang hari, aula mulai dipadati oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan latar belakang disiplin ilmu yang datang dengan semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi. Kehadiran peserta yang beragam menunjukkan bahwa isu feminisme tidak lagi dipahami sebagai wacana eksklusif kelompok tertentu, melainkan sebagai pengetahuan bersama yang relevan dengan realitas sosial, keagamaan, dan kemanusiaan.
Kegiatan ini menghadirkan, Ipa Bahya, S.S., M.A., Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin sekaligus penulis novel “Your Departure”, sebagai pemateri utama. Diskusi dipandu oleh Nur Aissyah S., Anggota Departemen Pendidikan HMT FAI UMI, yang dengan gaya moderasi komunikatif mampu menjaga alur kajian tetap hidup dan interaktif. Kajian dimulai dengan pengantar mengenai pentingnya membaca sejarah feminisme secara utuh dan kritis, tidak hanya berangkat dari narasi Barat, tetapi juga dengan menelusuri jejak-jejak perjuangan perempuan di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Ipa Bahya menguraikan bahwa feminisme lahir dari pengalaman ketidakadilan yang konkret dan berlapis.
“Gerakan feminisme pertama di Amerika Serikat pada Konvensi Seneca Falls tahun 1848 menjadi tonggak awal yang penting, terutama melalui Deklarasi Sentimen yang menegaskan kesetaraan perempuan dan laki-laki. Namun, sejarah feminisme global juga menyimpan catatan kritis, terutama terkait eksklusi terhadap perempuan kulit hitam dan perempuan dari kelas sosial tertindas. Hal ini menjadi refleksi bahwa feminisme bukanlah gerakan tunggal, melainkan ruang pergulatan gagasan yang terus berproses dan berbenah,” jelas Ipa Bahya, Selasa (16/12/2025).
Kajian kemudian bergerak pada pembahasan gelombang kedua feminisme yang dipengaruhi oleh terbitnya “The Feminine Mystique” karya Betty Friedan pada 1963. Buku tersebut membuka kesadaran bahwa pengekangan perempuan dalam peran domestik semata bukanlah kodrat, melainkan hasil konstruksi sosial. Diskusi ini memantik respons peserta, terutama dalam mengaitkan kritik feminisme terhadap peran gender dengan realitas masyarakat Indonesia yang masih kuat memegang nilai patriarki, termasuk dalam ruang keluarga, pendidikan, dan institusi keagamaan.
Pada sesi berikutnya, Ipa Bahya menekankan bahwa feminisme di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang.

“Mengacu pada studi “Seratus Tahun Feminisme di Indonesia”, dijelaskan bahwa gagasan feminisme telah hadir sejak masa kolonialisme. Perempuan Indonesia tidak hanya berjuang melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui tulisan. R.A. Kartini menjadi figur sentral yang dikenang karena keberaniannya menggugat tradisi dan budaya yang membelenggu perempuan melalui surat-surat yang kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”,” jelasnya.
Dari sini, peserta diajak melihat bahwa literasi dan pengetahuan merupakan alat perjuangan yang sangat strategis.
Pembahasan berlanjut ke periode pascakemerdekaan, khususnya kemunculan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) pada 1950-an. “Gerwani dipaparkan sebagai gerakan feminis-sosialis yang progresif dan masif, dengan agenda advokasi yang menyentuh langsung kehidupan perempuan, seperti penolakan undang-undang perkawinan yang diskriminatif, tuntutan upah adil bagi buruh perempuan, serta pembagian kerja domestik yang setara. Namun, tragedi politik 1965 menjadi titik balik yang kelam, ketika Gerwani dilenyapkan melalui propaganda dan kekerasan, meninggalkan stigma panjang terhadap gerakan perempuan di Indonesia,” tambahnya.
Bagian ini memunculkan diskusi yang cukup emosional dan reflektif di kalangan peserta. Menariknya, kajian ini tidak berhenti pada sejarah masa lalu, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas perjuangan perempuan kontemporer. Pemateri menyoroti perlawanan perempuan Loeha Raya di Luwu Timur terhadap ancaman tambang nikel, serta aksi Jejaring Perempuan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nusantara di Pantai Losari Makassar pada 29 Desember 2023. Kedua contoh ini menunjukkan bahwa feminisme hari ini hadir dalam bentuk perjuangan mempertahankan ruang hidup, lingkungan, dan keberlanjutan masa depan. Perempuan tampil sebagai subjek utama yang menyuarakan keadilan ekologis dan sosial.
Sesi tanya jawab berlangsung dinamis. Peserta mengajukan pertanyaan seputar relasi feminisme dan Islam, tantangan membangun kesadaran gender di lingkungan kampus, hingga strategi melawan stigma negatif terhadap feminisme. Diskusi ini memperlihatkan bahwa kajian rutin bukan sekadar forum akademik, tetapi juga ruang aman untuk berdialog dan bertukar perspektif secara kritis dan beradab.
Kegiatan Kajian Rutin “Sejarah Feminisme” ini berhasil memperkaya wawasan peserta dan membuka ruang refleksi yang lebih luas mengenai perjuangan perempuan dari masa ke masa. HMT FAI UMI melalui kegiatan ini menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan diskusi-diskusi yang progresif, kontekstual, dan berorientasi pada nilai keadilan. Kajian ini diharapkan menjadi pemantik kesadaran bahwa memahami sejarah feminisme berarti memahami perjuangan panjang menuju masyarakat yang setara, manusiawi, dan berkeadilan bagi semua.











