
Timika, Siasat.id – Bung Kafiar Selaku Kader GMNI, Kabid Agatasi Propaganda Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Cabang Mimika Dengan Tegas Menyatakan Dukungannya Terhadap Masyarakat dan Pemuda adat pemilik hak wilayat kampung aindua, yapakopa dan tapormai yang Menolak Masuknya PT. TAS. di distrik Mimika barat jauh ia meminta perhatian penuh oleh pemerintah daerah dan Pemprov untuk segera Mendengar Aspirasi yang di sampaikan oleh masyarakat adat pemilik hak wilayat.
“disanakan alamnya masih asri, air di ambil dari kali langsung di minum hutan sagunya kaya hasil lautnya banyak kenapa musti di tukar pohon sagu dengan kelapa sawit, pohon mangi” dan kepiting dengan limbah sementara sumber daya alamnya kaya seharusnya yang pemerintah lakukan itu bentuk dan buka dinas koprasi di sana atau mendaftarkan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan di dinas perikanan agar mendapat kartu nelayan dan hasil lautnya langsung di stor ke dinas perikanan, agar bisa menampung Hasil SDA Masyarakat di mimika Barat Jauh Bukan Biarkan perusahaan kelapa sawit masuk menjadi perusak hancurkan alamnya, tepat penuh sejarah masyarakat masih kuat dengan adat istiadat tradisi malah mau di gantikan dengan perusahaan kelapa sawit” ucapnya Bung Kafiar
GMNI Kabupaten Mimika Cukup Prihatin atas akan masuk dan beroperasinya PT. TAS. di Mimika Barat Jauh Kami menilai ini bukan Solusi atau tindakan yang tepat maka pemda dan Pemprov harus mengambil langkah konkret untuk mengatasi Problem ini, masyarakat hanya butuh pemerintah hadir lebih dekat bersama mereka dan memberikan sumber penghidupan agar mereka bisa nyaman dan betah di atas tanah mereka, GMNI Kabupaten Mimika menolak dengan tegas Masuknya PT. TAS. perkebunan kelapa sawit, kelapa sawit bukan solusi untuk masyarakat adat tempat bersejarah yang masih kental dengan nilai-nilai adat istiadat yang hakiki.
karena menurut data yang kami dapat masyarakat hanya merasa kurang adanya perhatian dari pemerintah desa distrik dan Pimpinan Daerah maka dengan itu keputusan yang di ambil adalah menerima kelapa sawit sebagai sumber penghidupan.
“Membangun dari kampung ke kota” sesuai dengan visi misi bapa bupati dan wakil bupati kabupaten Mimika kami meminta agar pemerintah jauh hadir lebih dekat lagi kepada masyarakat terutama dua suku besar Mimika, Dan Dengan Tegas Menolak Masuknya Perusahaan Kelapa Sawit Ke Tanah Adat Mereka.








