• Latest
  • Trending
  • All
Parlemen Rakus di Atas Penderitaan Publik

Parlemen Rakus di Atas Penderitaan Publik

September 6, 2025

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Januari 18, 2026

Ibadah Syukur ke-89 Tahun Pekabaran Injil, Keluarga Besar A3 Mimika Teguhkan Iman dan Persaudaraan Lewat Ibadah Bersama

Januari 18, 2026

“YESUS – Sang Pencipta Impian” Karya Yulianus Mote Hadirkan Perspektif Rohani tentang Makna Impian

Januari 18, 2026

DPC GMNI Kabupaten Mimika dan Pemerintah Distrik Mimika Barat Jauh Perkuat Sinergi Pembangunan

Januari 18, 2026

MUSRENBANG KAMPUNG NAWARIPI TAHUN 2025 DESA MANDIRI NAWARIPI MENUJU DESA SWASEMBADA NAWARIPI

Januari 15, 2026
Tim Advokasi untuk Demokrasi Melawan Pembungkaman, Merawat Demokrasi: Aktivis dan Konten Kreator Laporkan Teror ke Polisi

Tim Advokasi untuk Demokrasi Melawan Pembungkaman, Merawat Demokrasi: Aktivis dan Konten Kreator Laporkan Teror ke Polisi

Januari 15, 2026

Ketua KNPI Jayawijaya Hengky Hilapok Temui Wapres Gibran, Dorong Pusat Konsolidasi Pemuda di Wamena

Januari 15, 2026

Dari Wamena, Pemuda Papua Pegunungan dan Wapres Gibran Satukan Harapan Pembangunan

Januari 14, 2026

Sinergi Pemerintah Pusat dan Desa, Bantuan Sembako Disalurkan ke Nawaripi Jaya

Januari 15, 2026

Gerbang Tertutup, Cita-Cita Tertahan: Aksi Pemalangan dan Darurat Pendidikan di Mimika

Januari 15, 2026

Musdus Nawaripi, Pemerintah Kampung Ingatkan Program Harus Berpihak ke Warga

Januari 15, 2026
Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

Januari 11, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, Januari 18, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Nasional

Parlemen Rakus di Atas Penderitaan Publik

in Nasional, Opini
0
Parlemen Rakus di Atas Penderitaan Publik
31
SHARES
349
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Penulis: Ipa Bahya
Dosen Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan.

Negara ini berdiri di atas penderitaan, tapi tak lagi tahu diri. Di tengah jutaan rakyat yang bergulat dengan harga kebutuhan pokok yang melambung, akses pendidikan yang mahal, dan pekerjaan yang tak pasti, para pejabat negara sibuk merancang tunjangan—bukan untuk rakyat, tetapi untuk kenyamanan pribadi mereka. Angka puluhan juta rupiah per bulan hanya untuk tunjangan perumahan, dalam negeri yang masih dipenuhi barak pengungsian dan rumah-rumah reyot, bukan sekadar tak etis—itu penghinaan.

RelatedPosts

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Kedaulatan Rakyat Tak Bisa Diwakilkan: Menjaga Amanat Rakyat sebagai Fondasi Demokrasi yang Berdaulat

DPP IMORI Apresiasi Komitmen Presiden Prabowo, Harap Perlakuan yang Sama Bagi Atlet Asean Para Games

Gedung parlemen yang seharusnya menjadi simbol aspirasi rakyat kini terasa seperti benteng kekuasaan, dibangun bukan untuk mendengar, melainkan untuk menolak suara-suara dari luar. Ketika rakyat memekikkan keadilan di jalanan, yang datang bukan dialog, tetapi tembok, kawat berduri, dan gas air mata. Pemerintah tak hanya kehilangan empati, tetapi juga kehilangan rasa malu.

Seorang pengemudi ojek online tewas tertabrak mobil aparat dalam unjuk rasa damai. Ia bukan nama besar, bukan tokoh politik, bukan pejabat publik. Hanya seorang pekerja harian yang meminjam keberanian dari kemiskinan dan ketidakadilan. Dan ketika nyawanya hilang, negara merespons dengan “penyelidikan.” Seolah kematian rakyat kecil hanya sebatas prosedur administratif. Tak ada pernyataan duka yang tulus. Tak ada penyesalan yang nyata. Hanya penundaan, pengalihan isu, dan retorika.

Kematian itu bukan kecelakaan, tapi akibat langsung dari ketulian penguasa. Ketika kritik dipandang sebagai ancaman, ketika aspirasi dianggap makar, maka negara telah kehilangan akarnya. Negara tidak dibangun untuk memperkaya segelintir orang yang duduk di kursi empuk. Negara berdiri karena rakyat percaya pada janji keadilan sosial. Dan ketika janji itu dilanggar, rakyat hanya punya dua pilihan: diam atau melawan.

Hari ini, diam bukan lagi pilihan. Setiap langkah demonstrasi di jalanan bukan sekadar protes terhadap satu kebijakan, tetapi letupan dari akumulasi luka kolektif: dari korupsi yang tak tersentuh hukum, dari harga pangan yang tak masuk akal, dari layanan publik yang tak pernah maksimal, hingga janji-janji politik yang selalu berakhir sebagai kebohongan elegan.

Tak sedikit politisi yang tersinggung ketika dikritik. Mereka menuntut penghormatan tanpa mau dihormati karena kinerja. Mereka menginginkan legitimasi tanpa akuntabilitas. Padahal, kekuasaan yang lahir dari suara rakyat semestinya tunduk pada rakyat. Sayangnya, banyak dari mereka lebih nyaman melayani kepentingan oligarki daripada menyelami realitas kehidupan masyarakat yang mereka wakili.

Negara ini tak kekurangan sumber daya. Tak kekurangan tenaga kerja. Tak kekurangan generasi cerdas dan penuh potensi. Yang hilang hanyalah integritas. Yang dirusak adalah sistem. Ketika jabatan menjadi alat untuk memperkaya diri dan memperluas jaringan kekuasaan, maka rakyat hanya dilihat sebagai angka statistik: sekadar jumlah dalam laporan pembangunan, bukan manusia dengan kebutuhan dan martabat.

Lihat saja bagaimana kasus korupsi dibiarkan membusuk. Skandal Pertamina, yang nilainya hampir seribu triliun, diperlakukan dengan keheningan mematikan. Tak ada penangkapan besar, tak ada pengunduran diri, tak ada akuntabilitas. Yang ada justru pengalihan opini publik, seolah-olah masalah terbesar negeri ini hanyalah kemacetan lalu lintas atau konten viral.

Media pun tak lepas dari permainan. Beberapa media besar memilih diam atau menyamarkan kenyataan dalam eufemisme. Kebebasan pers secara de facto mulai terkikis oleh tekanan halus, iklan pemerintah, dan ancaman tidak langsung. Jurnalis yang berani membongkar kebenaran dibungkam, diseret ke ranah hukum, atau dibiarkan tanpa perlindungan.

Sementara itu, rakyat terus diminta bersabar. Diminta memahami “situasi fiskal negara.” Diminta tidak menciptakan keresahan. Tapi di sisi lain, pejabat terus menciptakan alasan untuk menaikkan gaji, tunjangan, dan fasilitas. Kesabaran rakyat dijadikan tameng untuk melanggengkan privilese. Seolah-olah pengorbanan hanya boleh datang dari bawah, sementara kenyamanan adalah hak eksklusif penguasa.

Yang paling menyedihkan adalah bagaimana ketidakadilan perlahan menjadi normal. Ketika rakyat mulai terbiasa ditindas, ketika suara-suara kecil dibungkam satu per satu, maka yang tersisa hanya apatisme yang mematikan. Dan saat rasa percaya pada negara benar-benar hilang, tak ada kekuasaan yang cukup kuat untuk membendung kekacauan yang akan lahir dari kehampaan itu.

Banyak yang mencoba menenangkan situasi dengan jargon: “Ini hanya masa transisi,” atau “Pemerintah akan mengevaluasi.” Tapi realitas tidak menunggu evaluasi. Realitas menuntut perubahan nyata. Dan perubahan tidak akan datang dari mereka yang menikmati sistem rusak ini.

Demonstrasi yang merebak di berbagai kota bukanlah bentuk anarkisme, seperti yang dituduhkan sebagian elite. Justru, itu adalah bentuk paling jujur dari demokrasi—ketika saluran formal sudah buntu, jalanan menjadi forum terbuka terakhir. Jangan heran jika barisan demonstran dipenuhi oleh mahasiswa, buruh, guru, bahkan orang-orang tua yang tak lagi bisa membeli obat. Bukan karena mereka ingin menciptakan kekacauan, tetapi karena mereka sudah muak hidup dalam kepura-puraan.

Mereka tidak gila hormat. Tidak minta dilayani. Mereka hanya ingin hidup yang wajar. Upah yang cukup. Layanan publik yang manusiawi. Pemimpin yang bisa dipercaya. Sistem hukum yang adil. Permintaan itu sederhana. Tapi tampaknya terlalu mahal untuk sebuah negara yang anggaran makannya saja bisa menembus miliaran rupiah per rapat.

Tak ada negara yang hancur karena demonstrasi. Tapi banyak negara runtuh karena mengabaikan peringatan dari rakyatnya. Ketika suara dari jalanan hanya dianggap bising, bukan panggilan untuk sadar, maka kerusakan itu bukan lagi soal kapan, tetapi hanya soal waktu.

Negara ini tak sedang diuji oleh oposisi. Negara ini sedang diuji oleh nuraninya sendiri. Apakah masih punya malu? Atau sudah kehilangan segalanya, kecuali rakus dan kuasa?

Tags: ParlemenRakyat
Share12SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PT. TAS. Gelar Pertemuan Lanjutan dengan Masyarakat Adat Mimika Barat Jauh, Bahas Operasional Perkebunan Kelapa Sawit

Desember 15, 2025
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Junk Fee: Ilusi Angka dan Remah Konsumsi Digital

Januari 18, 2026

Ibadah Syukur ke-89 Tahun Pekabaran Injil, Keluarga Besar A3 Mimika Teguhkan Iman dan Persaudaraan Lewat Ibadah Bersama

Januari 18, 2026

“YESUS – Sang Pencipta Impian” Karya Yulianus Mote Hadirkan Perspektif Rohani tentang Makna Impian

Januari 18, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In