Oleh: Ayoeb Taufani Zaman,
Kepala Madrasah Aliyah Khomsani Nur Klanting Lumajang.
Selama ini, puasa sering dipahami hanya sebagai latihan menahan lapar dan haus. Banyak orang mengira tubuh akan melemah karena tidak mendapat asupan makanan selama berjam-jam.
Namun, temuan ilmiah modern justru menunjukkan hal sebaliknya: puasa mengaktifkan sistem perbaikan alami dalam tubuh manusia.
Fenomena ini dikenal dalam dunia sains sebagai autophagy—sebuah mekanisme biologis yang menjadi kunci kesehatan sel, daya tahan tubuh, bahkan umur panjang.
Apa yang Terjadi Saat Kita Berpuasa?
Dalam kondisi normal, ketika kita makan secara terus-menerus, tubuh sibuk memproses gula, lemak, dan protein. Energi lebih banyak digunakan untuk pencernaan. Akibatnya, sistem pembersihan dan perbaikan sel jarang bekerja maksimal.
Namun saat seseorang berpuasa selama beberapa jam:
Kadar gula darah menurun
Hormon insulin ikut turun
Tubuh kehabisan sumber energi cepat
Pada titik inilah tubuh beralih ke mode bertahan hidup dan mengaktifkan mekanisme penting: autophagy.
Apa Itu Autophagy?
Secara sederhana, autophagy adalah sistem “daur ulang” sel dalam tubuh.
Ibarat sebuah kota:
Sel rusak adalah sampah
Autophagy adalah petugas kebersihan
Melalui autophagy, tubuh:
Menghancurkan sel-sel yang rusak
Membuang zat beracun
Memperbaiki jaringan
Membentuk sel baru yang lebih sehat.
Proses ini sangat penting untuk mencegah peradangan kronis, penyakit degeneratif, dan penurunan fungsi organ.
Diakui Dunia: Nobel Kedokteran 2016
Pentingnya autophagy bukan sekadar teori.
Pada tahun 2016, ilmuwan Jepang Yoshinori Ohsumi meraih Nobel Prize in Physiology or Medicine atas penelitiannya yang membuktikan bahwa autophagy adalah sistem vital bagi kesehatan sel dan kelangsungan hidup manusia.
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism oleh Valter Longo dan Mark Mattson juga menyebutkan bahwa puasa terkontrol dapat menurunkan risiko diabetes, penyakit jantung, dan gangguan metabolik.
Korelasi yang Jelas: Puasa → Autophagy → Tubuh Lebih Sehat
Secara logis, hubungan antara puasa dan autophagy dapat diringkas sebagai berikut:
Puasa gula darah turun insulin turun, autophagy aktif, tubuh diperbaiki.
Dengan kata lain, puasa bukan membuat tubuh rusak, tetapi justru menyalakan sistem pemeliharaan internal yang jarang aktif ketika kita makan tanpa jeda.
Selaras dengan Ajaran Islam
Menariknya, konsep ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
(HR. Thabrani)
Hadis ini kini mendapat pembenaran ilmiah. Apa yang diajarkan secara spiritual, ternyata juga berdampak biologis bagi tubuh manusia.
Kesimpulan
Puasa bukan sekadar ritual atau tradisi. Ia adalah mekanisme alami yang mengaktifkan perbaikan sel, membersihkan tubuh dari kerusakan, dan menjaga kesehatan jangka panjang.
Sains modern baru membuktikannya hari ini.
Namun hikmahnya telah diajarkan sejak berabad-abad lalu.
Sumber:
Ohsumi, Y. (2016). Nobel Prize in Physiology or Medicine
Longo, V. D. & Mattson, M. P. (2014). Cell Metabolism
National Institute on Aging (nia.nih.gov). (Atz)















