
Timika, 1 Februari 2026 — Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Kabupaten Mimika menyampaikan masukan dan perhatian serius kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika terkait adanya ketimpangan perhatian dan kebijakan antara sekolah negeri dan sekolah swasta di wilayah Kabupaten Mimika.
Ketua DPC GMNI Kabupaten Mimika, Christo Toffy, menyampaikan bahwa dalam beberapa bulan terakhir wajah Kota Timika mengalami perubahan yang cukup signifikan, khususnya pada sektor pendidikan. Perubahan tersebut bukan disebabkan oleh persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), maupun isu yang mencoreng nama Kabupaten Mimika sebagai daerah yang dikenal dengan sebutan “kota dolar”, melainkan tampak dari pesatnya pembangunan infrastruktur sekolah negeri.
Sekolah-sekolah negeri, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK), kini berdiri megah dengan dominasi warna sesuai jenjang pendidikan dan dilengkapi pagar kokoh setinggi sekitar dua hingga empat meter. DPC GMNI Mimika menilai pembangunan tersebut sebagai langkah positif dan patut diapresiasi sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan.
Namun demikian, , Christo Toffy memandang bahwa pembangunan tersebut perlu diiringi dengan prinsip keadilan dan kesetaraan dalam pengelolaan pendidikan. Ketua DPC GMNI Mimika menegaskan bahwa perhatian Dinas Pendidikan tidak boleh terfokus hanya pada sekolah negeri, sementara kondisi sekolah swasta justru cenderung terabaikan.
“Dana pendidikan yang dikelola oleh pemerintah daerah bersumber dari anggaran publik dan pada prinsipnya diperuntukkan bagi seluruh anak-anak Mimika tanpa terkecuali. Sekolah swasta merupakan bagian integral dari sistem pendidikan yang juga memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Christo Toffy.
Berdasarkan hasil pengamatan dan aspirasi yang dihimpun, DPC GMNI Mimika menilai bahwa masih banyak sekolah swasta di Kabupaten Mimika yang menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana, persoalan kesejahteraan tenaga pendidik, ketidakjelasan status kerja guru, serta minimnya akses terhadap pelatihan dan pengembangan profesional. Kondisi tersebut dinilai belum mendapatkan perhatian dan pengawasan yang memadai dari Dinas Pendidikan.
DPC GMNI Mimika juga menyoroti keberadaan sekolah-sekolah swasta bersejarah, termasuk lembaga pendidikan yang telah lama hadir di wilayah pesisir dan pedalaman Mimika, seperti sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan pendidikan keagamaan. Sekolah-sekolah tersebut selama ini telah berkontribusi besar dalam menyediakan layanan pendidikan, terutama di wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau oleh sekolah negeri.
Ketua DPC GMNI Mimika menegaskan bahwa sikap pembiaran terhadap kondisi sekolah swasta berpotensi menciptakan ketimpangan struktural, baik dalam kualitas pendidikan maupun dalam keadilan perlakuan terhadap tenaga pendidik. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang adil, inklusif, dan pengawasan yang setara antara sekolah negeri dan sekolah swasta.
Selain itu, DPC GMNI Mimika juga mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika untuk meningkatkan peran sosialisasi dengan turun langsung ke sekolah-sekolah serta melibatkan orang tua siswa melalui pendekatan pembelajaran holistik. Pendekatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang komprehensif kepada orang tua mengenai perkembangan dunia pendidikan dan mendorong pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan terintegrasi.
“Pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek intelektual dan akademis, tetapi juga harus mencakup perkembangan emosional, sosial, fisik, etika, dan spiritual, guna membentuk individu yang seimbang, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” tambahnya.
DPC GMNI Kabupaten Mimika menegaskan bahwa pembangunan pendidikan yang berkeadilan tidak semata-mata diukur dari kemegahan infrastruktur, melainkan dari keberpihakan kebijakan yang setara terhadap seluruh lembaga pendidikan.
“Bagi GMNI, keadilan dalam pendidikan bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan demi masa depan generasi Mimika,” tutup Christo Toffy.






