
TIMIKA – Pemuda lintas denominasi gereja di Distrik Kwamki Narama, Mimika, menggelar Perayaan Natal Oikumene dengan tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan” berdasarkan Matius 1:20, pada Sabtu (27/12/2025). Ibadah yang berjalan dengan baik ini menjadi simbol persatuan sekaligus media menyuarakan harapan akan perdamaian dan perhatian serius terhadap konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Perayaan Natal bersama ini diinisiasi oleh para pemuda dari enam denominasi gereja, yaitu GIDI, Baptis, GKI, dan Katolik. Kegiatan ini bertujuan memulihkan kebebasan beribadah dan merayakan Natal yang dinilai tertekan selama 4-5 bulan terakhir akibat konflik sosial di daerah Kuala Kencana (Kelama). Acara dihadiri oleh perwakilan pemuda, Ketua IPKN, KNPI, perwakilan pemerintah distrik, Kapolsek, serta tokoh-tokoh gereja penting.
Ketua Panitia, Painus Magai, S.Pd., menjelaskan bahwa ide perayaan bersama muncul dari diskusi antar pemuda dan organisasi kepemudaan. “Kami melihat ada konflik yang terjadi selama 4-5 bulan ini membuat pemuda tertekan dan tidak bisa merayakan Natal dengan bebas. Banyak pemuda yang tidak merayakan,” ujarnya. Ia menekankan, ibadah ini adalah bentuk solidaritas dan upaya menjadi terang di tengah tantangan.
Perayaan dilaksanakan pada Sabtu, 27 Desember 2025, di Distrik Kwamki Narama, Timika, Papua.
Menurut Painus, kegiatan ini lebih dari sekadar perayaan keagamaan. Ini merupakan respons atas tekanan dan ketakutan yang melanda masyarakat akibat konflik yang belum terselesaikan. “Orang mau ke kebun takut, ke pasar takut, jualan takut, kerja takut. Semua tertekan,” katanya. Perayaan Natal bersama menjadi momentum untuk membangun kembali kohesi sosial, kolaborasi pelayanan pemuda, dan mengalihkan perhatian generasi muda dari aktivitas negatif ke pengembangan bakat melalui olahraga dan kesenian.
Para pemuda menyatakan tidak akan tinggal diam. Mereka berencana mengajukan surat audiensi dan permintaan tanggung jawab serius kepada Bupati Mimika untuk penanganan konflik. “Kalau memang belum ada [penanganan serius] sampai lewat tahun baru dan Februari, kami akan buat tahapan-tahapan aksi, mungkin aksi damai, dengan melibatkan semua elemen,” tegas Painus. Selain aksi advokasi, mereka juga berkomitmen memperkuat jaringan oikumene pemuda gereja untuk tetap menjadi garam dan terang bagi masyarakat.
Painus juga menyampaikan kritik dan harapan kepada pemangku kepentingan. “Kami melihat pemerintah lagi tutup mata dan tutup telinga, pura-pura tidak tahu. Padahal ini berbicara tentang manusia dan hak hidup,” ujarnya. Ia mendesak pemerintah daerah, distrik, kampung, serta semua elemen masyarakat untuk mendukung dan bersinergi dengan kaum muda dalam membangun generasi Papua, khususnya di wilayah Kuala Kencana, untuk masa depan yang lebih baik.
Perayaan ini menegaskan peran pemuda sebagai agen perdamaian dan penggerak perubahan sosial di tengah situasi konflik, dengan fondasi iman dan semangat kebersamaan.


