• Latest
  • Trending
  • All

Antara Pembaharuan dan Jerat Kekuasaan: Ketika Reformasi Birokrasi Berhadapan dengan Mafia Sistem

Mei 16, 2026
NGO Desak Kapolda NTB Perintahkan Penahanan Adik Mantan Gubernur

NGO Desak Kapolda NTB Perintahkan Penahanan Adik Mantan Gubernur

Juni 8, 2026

Haul Akbar Syeikh Yusuf dan Syeikh Samman Satukan Ulama dan Umara di Maros

Juni 8, 2026

Marhaenisme Bung Karno: Obat Rakyat Kecil Lawan Ketimpangan & Hoax di Era Digital

Juni 7, 2026

Soekarno: Titik Koordinat Bangsa yang, Menyatukan Seluruh Ideologi demi Satu Tujuan — Indonesia Merdeka

Juni 7, 2026

Rupiah Melemah, Dapur Desa Tertekan: Anatomi Krisis Pangan di Ujung Rantai Pasok

Juni 7, 2026

“Mantan Ketua Pokja Adat MRPB ingatkan UU Otsus Papua. Tiga Raperdasus inisiatif DPR Papua Barat Daya wajib dapat persetujuan Majelis Rakyat Papua Barat Daya sebelum disahkan”.

Juni 7, 2026

Senator asal Papua Barat Daya dorong Prabowo evaluasi kabinet ekonomi. Sri Mulyani disebut sebagai opsi pengganti Purbaya untuk menjaga stabilitas rupiah dan memperluas kerja sama global

Juni 7, 2026

DPP GMNI Kawal Perjuangan Guru Jawa Timur, Tuntut Pencairan Tambahan 100% TPG

Juni 7, 2026

Perpisahan PAUD Paruak Sejawa: Partisipasi Semesta Desa Baodesa

Juni 7, 2026
Torehkan Prestasi, INISIATOR Apresiasi Kejati Sumsel Berantas Korupsi

Torehkan Prestasi, INISIATOR Apresiasi Kejati Sumsel Berantas Korupsi

Juni 7, 2026

Gerakan Nyata di Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Satu Langkah untuk Iklim, Ketahanan Pangan, dan Pencegahan Stunting

Juni 5, 2026

DAD MIMIKA: ASPIRASI KE FREEPORT BOLEH SAJA, NAMUN MASYARAKAT ORANG PAPUA ASLI ( OPA) JANGAN TERPENGARUH “PENUMPANG GELAP”

Juni 5, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, Juni 8, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Antara Pembaharuan dan Jerat Kekuasaan: Ketika Reformasi Birokrasi Berhadapan dengan Mafia Sistem

in Uncategorized
0
27
SHARES
302
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Siasat.id | Negeri ini sering kali memiliki cara yang paradoks dalam memperlakukan orang-orang yang mencoba membawa perubahan. Ketika seorang pejabat hadir dengan gagasan baru—membongkar pola lama, memangkas birokrasi berbelit, mendorong digitalisasi pelayanan publik, memperkuat transparansi, hingga melakukan reformasi kelembagaan—sesungguhnya ia sedang memasuki wilayah penuh ranjau kepentingan.

Di balik meja-meja kementerian yang tampak rapi, tersimpan jejaring lama yang telah bertahun-tahun hidup nyaman dalam sistem. Ada mafia proyek, broker anggaran, pemain tender, calo kebijakan, hingga elit birokrasi yang menjadikan negara sebagai ruang akumulasi keuntungan pribadi. Mereka mungkin tidak selalu tampak di layar televisi, tetapi pengaruhnya sangat nyata—menyusup dalam administrasi, regulasi, bahkan pembentukan opini publik.

RelatedPosts

Marhaenisme Bung Karno: Obat Rakyat Kecil Lawan Ketimpangan & Hoax di Era Digital

Soekarno: Titik Koordinat Bangsa yang, Menyatukan Seluruh Ideologi demi Satu Tujuan — Indonesia Merdeka

Rupiah Melemah, Dapur Desa Tertekan: Anatomi Krisis Pangan di Ujung Rantai Pasok

Karena itu, jangan heran apabila pejabat yang terlalu cepat melakukan perubahan justru berpotensi menjadi sasaran. Ketika kebijakan mulai mengganggu jalur rente dan kepentingan lama, sejak saat itu pula perlawanan diam-diam mulai dibangun.

Dalam beberapa tahun terakhir, publik menyaksikan hadirnya tokoh-tokoh pemerintahan yang membawa pendekatan baru: digitalisasi pendidikan, modernisasi birokrasi, efisiensi pelayanan publik, transformasi tata kelola keagamaan, pembangunan infrastruktur sosial, hingga pembaruan sistem administrasi negara. Terlepas dari berbagai kontroversi dan kekurangannya, keberanian keluar dari pola stagnasi patut dicatat sebagai bagian dari semangat reformasi birokrasi Indonesia.

Namun, di negeri dengan kultur birokrasi yang masih dibayangi kepentingan transaksional, perubahan sering dianggap ancaman. Mereka yang mencoba mempercepat masa depan justru dapat tersandung oleh sistem yang tidak siap kehilangan kenyamanan masa lalu.

Di titik inilah publik mulai bertanya: apakah seluruh kasus yang menyeret pejabat publik benar-benar murni bagian dari penegakan hukum? Ataukah ada pertarungan kepentingan besar di belakang layar yang sedang memainkan skenario penataan ulang kekuasaan?

Pertanyaan seperti itu wajar muncul. Rakyat terlalu sering menyaksikan hukum tampak tajam kepada sebagian orang, tetapi tumpul terhadap sebagian lainnya. Ada perkara yang begitu cepat diproses dan digiring opini, sementara kasus lain yang melibatkan lingkar kekuasaan besar justru mengendap tanpa kepastian.

Ironisnya, tidak sedikit pejabat yang datang dengan semangat perubahan akhirnya terjebak dalam lumpur birokrasi warisan masa lalu. Sebab seorang menteri belum tentu sepenuhnya mengendalikan struktur di bawahnya. Di dalam kementerian terdapat lapisan-lapisan kekuasaan administratif yang telah berurat akar melintasi pergantian rezim, menteri, bahkan partai politik.

Kadang, seorang menteri hanya menjadi wajah di permukaan. Sementara permainan anggaran dan pengaruh justru dikendalikan kelompok-kelompok yang jauh lebih piawai membaca celah sistem. Inilah yang kerap disebut publik sebagai “mafia birokrasi”—kekuatan tak kasat mata yang mampu bertahan di tengah pergantian kekuasaan nasional.

Mereka dapat mendekati siapa saja. Mereka memuji ketika seseorang berkuasa. Mereka menjadi saksi saat keadaan berubah. Dan sering kali, merekalah pihak yang paling cepat menyelamatkan diri ketika badai politik datang.

Akibatnya, negeri ini seperti terjebak dalam lingkaran yang terus berulang: orang baik masuk sistem lalu dilemahkan, mereka yang berani dibenturkan dengan skandal, sementara pihak yang lihai bermain aman justru bertahan paling lama.

Padahal, Indonesia membutuhkan pemimpin dan pejabat publik yang berani mengambil keputusan besar demi masa depan bangsa. Tanpa keberanian melakukan lompatan perubahan, reformasi birokrasi hanya menjadi slogan, sementara negara terus dikendalikan oleh oligarki birokrasi yang rakus dan anti pembaruan.

Tentu, jika ada pejabat yang terbukti korupsi, hukum wajib ditegakkan tanpa pandang bulu. Tidak boleh ada kekebalan hukum atas nama jasa, jabatan, maupun kedekatan politik. Namun di saat yang sama, publik juga berhak bersikap kritis terhadap kemungkinan adanya permainan kekuasaan yang menjadikan hukum sebagai instrumen untuk menata ulang peta pengaruh.

Karena dalam realitas politik Indonesia, terkadang yang dihukum bukan hanya mereka yang bersalah—tetapi juga mereka yang kalah dalam pertarungan kepentingan.

Dan sejarah terus mengajarkan satu hal: ketika mafia birokrasi lebih kuat dibanding semangat reformasi, maka yang pertama tumbang biasanya bukan para pemain lama—melainkan mereka yang mencoba mengubah permainan.

Editor : Suratmin Ragil

Share11SendShare
Redaksi Papua

Redaksi Papua

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1
NGO Desak Kapolda NTB Perintahkan Penahanan Adik Mantan Gubernur

NGO Desak Kapolda NTB Perintahkan Penahanan Adik Mantan Gubernur

Juni 8, 2026

Haul Akbar Syeikh Yusuf dan Syeikh Samman Satukan Ulama dan Umara di Maros

Juni 8, 2026

Marhaenisme Bung Karno: Obat Rakyat Kecil Lawan Ketimpangan & Hoax di Era Digital

Juni 7, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In