
(Organisasi mahasiswa nasionalis itu menyerukan intervensi segera dari delapan pemerintah kabupaten, Pemprov Papua Pegunungan, MRP, dan DPRP sebelum jatuh lebih banyak korban jiwa dan fasilitas publik luluh lantak.)
WAMENA — Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jayawijaya secara resmi mengeluarkan pernyataan kritis dan mendesak pemerintah di semua tingkatan untuk segera turun tangan menghentikan perang suku yang tengah berkecamuk di Wamena, Papua Pegunungan.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis, 15 Mei 2026, DPC GMNI Jayawijaya secara tegas meminta Pemerintah delapan Kabupaten di wilayah Papua Pegunungan, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Majelis Rakyat Papua (MRP), serta Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) untuk segera memfasilitasi pertemuan antara kedua belah pihak yang berkonflik.
Organisasi mahasiswa nasionalis tersebut menegaskan bahwa perang suku ini merupakan ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat Papua itu sendiri. “Perang suku ini tidak ada artinya bagi kami Masyarakat Papua, hanya mempercepat kepunahan Bangsa Papua itu sendiri di atas tanah leluhur kami,” demikian bunyi pernyataan mereka.
“Papua adalah tanah damai — dan itu sudah dibuktikan dengan masuknya Injil Kristus di atas tanah ini. STOP Perang Suku.”

Lebih jauh, DPC GMNI Jayawijaya juga mengutuk dengan keras pihak-pihak yang diduga menjadi aktor di balik provokasi dan penyebaran propaganda yang memecah belah sesama bangsa Papua. Mereka menilai ada tangan-tangan tersembunyi yang secara sistematis mengadu-domba masyarakat adat untuk saling bermusuhan dan bahkan saling membunuh.
Desakan ini muncul di tengah kekhawatiran mendalam atas potensi bertambahnya korban jiwa serta hancurnya fasilitas publik akibat konflik horizontal yang terus berlanjut. DPC GMNI Jayawijaya berharap pernyataan ini menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bersatu dan mengambil langkah konkret demi perdamaian di Bumi Cenderawasih.
Seruan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tanah Papua, yang sejak lama dikenal sebagai tanah yang disinari nilai-nilai kedamaian dan spiritualitas, tidak selayaknya dijadikan arena pertumpahan darah atas nama kepentingan kelompok maupun provokasi pihak luar.
Papua Pegunungan GMNI Konflik Sosial Perdamaian Wamena · 15.05.2026










