• Latest
  • Trending
  • All

Menulis di Tengah Bisu: Ketika Pena Menjadi Perlawanan di Papua

Mei 13, 2026
NGO Desak Kapolda NTB Perintahkan Penahanan Adik Mantan Gubernur

NGO Desak Kapolda NTB Perintahkan Penahanan Adik Mantan Gubernur

Juni 8, 2026

Haul Akbar Syeikh Yusuf dan Syeikh Samman Satukan Ulama dan Umara di Maros

Juni 8, 2026

Marhaenisme Bung Karno: Obat Rakyat Kecil Lawan Ketimpangan & Hoax di Era Digital

Juni 7, 2026

Soekarno: Titik Koordinat Bangsa yang, Menyatukan Seluruh Ideologi demi Satu Tujuan — Indonesia Merdeka

Juni 7, 2026

Rupiah Melemah, Dapur Desa Tertekan: Anatomi Krisis Pangan di Ujung Rantai Pasok

Juni 7, 2026

“Mantan Ketua Pokja Adat MRPB ingatkan UU Otsus Papua. Tiga Raperdasus inisiatif DPR Papua Barat Daya wajib dapat persetujuan Majelis Rakyat Papua Barat Daya sebelum disahkan”.

Juni 7, 2026

Senator asal Papua Barat Daya dorong Prabowo evaluasi kabinet ekonomi. Sri Mulyani disebut sebagai opsi pengganti Purbaya untuk menjaga stabilitas rupiah dan memperluas kerja sama global

Juni 7, 2026

DPP GMNI Kawal Perjuangan Guru Jawa Timur, Tuntut Pencairan Tambahan 100% TPG

Juni 7, 2026

Perpisahan PAUD Paruak Sejawa: Partisipasi Semesta Desa Baodesa

Juni 7, 2026
Torehkan Prestasi, INISIATOR Apresiasi Kejati Sumsel Berantas Korupsi

Torehkan Prestasi, INISIATOR Apresiasi Kejati Sumsel Berantas Korupsi

Juni 7, 2026

Gerakan Nyata di Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Satu Langkah untuk Iklim, Ketahanan Pangan, dan Pencegahan Stunting

Juni 5, 2026

DAD MIMIKA: ASPIRASI KE FREEPORT BOLEH SAJA, NAMUN MASYARAKAT ORANG PAPUA ASLI ( OPA) JANGAN TERPENGARUH “PENUMPANG GELAP”

Juni 5, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, Juni 8, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Menulis di Tengah Bisu: Ketika Pena Menjadi Perlawanan di Papua

in Uncategorized
0
30
SHARES
329
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

RelatedPosts

Marhaenisme Bung Karno: Obat Rakyat Kecil Lawan Ketimpangan & Hoax di Era Digital

Soekarno: Titik Koordinat Bangsa yang, Menyatukan Seluruh Ideologi demi Satu Tujuan — Indonesia Merdeka

Rupiah Melemah, Dapur Desa Tertekan: Anatomi Krisis Pangan di Ujung Rantai Pasok

Oleh : Gembala Dr. A.G. Sochrates Yoman

Jakarta,- Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman kembali menulis. Ia tidak sedang menyusun khotbah. Ia sedang menyalakan lilin. Dalam esai terbarunya, _Saya Tahu dan Mengerti Penderitaan Bangsku, Karena Itu Saya Terus Berbicara dengan Menulis_, Yoman menegaskan posisi: menulis adalah cara melawan.

Ia mengutip Mayon Sutrisno dalam _Arus Pusaran Sukarno_: “Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara.” Kutipan itu bukan pemanis. Ia menjadi doktrin. “Kitipan ini menginspirasi saya untuk menulis dan menulis dan terus menulis untuk martabat bangsaku,” tulis Yoman.

Di titik ini, Yoman bukan sekadar penulis. Ia memposisikan diri sebagai penyambung lidah dari mereka yang disebutnya “bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu”. Ia mensejajarkan langkahnya dengan Kartini, Multatuli, Hatta, Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo. Tokoh-tokoh yang, dalam narasinya, “menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan”.

Yoman punya target waktu. Ia menulis, “Melalui buku ini, saya bermimpi dan mempunyai doa dan harapan bahwa 5 sampai 10 tahun ke depan tepatnya tahun 2031 atau 2036, sejarah palsu Indonesia di atas TANAH ini akan hilang sendirinya. Generasi muda bangsa Papua Barat akan berdiri dengan kebenaran sejarah dan ideologinya sendiri.”

Kalimat itu keras. Ia menyebut ada “sejarah palsu” dan membayangkan lenyapnya narasi itu dalam satu dekade. Ia menutup proposisinya dengan keyakinan: “Sebab, yang palsu tidak pernah berumur panjang.”

Apa yang hendak dilawan Yoman dengan tulisan? Daftarnya panjang. Ia menulis untuk “menghapus air mata dan penderitaan bangsaku”. Untuk “kemuliaan dan kehormatan bangsaku”. Untuk “martabat bangsaku”. Ia ingin “umumkan secara terbuka kepada semua orang tentang krisis dan tragedi kemanusiaan berkepanjangan yang dialami bangsaku”.

Ia merinci sumber tulisannya: dari apa yang ia tahu, mengerti, lihat, saksikan, alami, pikir, dan rasakan. Ia menulis untuk “bangsaku yang tertindas dan terjajah”, “yang terabaikan”, “yang dibuat tidak berdaya”, “yang terpinggirkan dari tanah leluhur mereka”. Dalam diksinya, ia menyebut penguasa Indonesia sebagai “Firaun dan Goliat moderen” dan menyatakan menulis untuk “menyelamatkan bangsaku yang sedang dimusnahkan”.

Di sini esai Yoman bergerak dari personal ke politikal. Ia tidak hanya bicara soal ekspresi. Ia bicara soal eksistensi. Tentang sejarah, harga diri, identitas, dan harapan masa depan “bangsaku Melanesia di West Papua”.

Namun Yoman juga memberi batas. Ia sadar menulis punya pagar. “Saya tahu, sadar dan mengerti menulis tidak melukai dan tidak membunuh, menulis adalah menyalakan lilin kecil untuk menerangi lorong-lorong kecil yang gelap.” Baginya, menulis adalah “pertanggungjawaban iman dan ilmu pengetahuan serta panggilan hati nurani”.

Tujuannya spesifik: “Tugas dan kewajiban saya dengan jalan menulis dapat mengubah cara pandang dan berpikir orang Melayu Indonesia, terutama penguasa, TNI-Polri yang menduduki dan menjajah bangsaku.”

Terlepas dari setuju atau tidak pada diksi dan klaim Yoman, esainya memotret satu hal yang tak bisa dibantah: ada sebagian warga Papua yang memilih pena sebagai jalan. Di tengah tudingan kekerasan dari berbagai pihak, Yoman menawarkan narasi lain. Bahwa perlawanan tidak selalu lewat peluru. Bisa lewat paragraf.

Sejarah Indonesia sendiri mencatat itu. Kartini menulis dari Jepara. Hatta menulis dari pengasingan. Pramoedya menulis dari Pulau Buru. Tulisan mengendap. Lalu meledak jadi kesadaran.

Yoman kini mengambil peran itu. Ia menulis dari Ita Wakhu Purom, 17 Februari 2026. Ia mencantumkan nomor telepon di akhir esai: 08124888458. Seolah berkata: saya bertanggung jawab atas kata-kata saya.

Negara punya dua pilihan merespons tulisan seperti ini. Pertama, membungkam. Kedua, mendengar. Pilihan pertama tidak pernah menyelesaikan masalah. Ia hanya menunda ledakan. Pilihan kedua pahit, tapi perlu. Mendengar bukan berarti membenarkan. Mendengar berarti mengakui bahwa ada luka yang belum sembuh, ada cerita yang belum selesai.

Menulis, seperti kata Yoman, memang tidak membunuh. Tapi diam terlalu lama bisa.(DW)

Share12SendShare
Redaksi Papua

Redaksi Papua

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1
NGO Desak Kapolda NTB Perintahkan Penahanan Adik Mantan Gubernur

NGO Desak Kapolda NTB Perintahkan Penahanan Adik Mantan Gubernur

Juni 8, 2026

Haul Akbar Syeikh Yusuf dan Syeikh Samman Satukan Ulama dan Umara di Maros

Juni 8, 2026

Marhaenisme Bung Karno: Obat Rakyat Kecil Lawan Ketimpangan & Hoax di Era Digital

Juni 7, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In