Lombok Utara, Siasat ID – Desa Senaru dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan sumber daya alam serta potensi pertanian yang melimpah. Masyarakat setempat mengelola lahan melalui sistem tumpang sari atau agroforestri, yakni pola budidaya yang mengombinasikan berbagai jenis tanaman dalam satu kawasan guna menjaga keseimbangan ekologi sekaligus meningkatkan pendapatan. Sebagian wilayah Desa Senaru juga termasuk dalam Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang dikelola oleh Universitas Mataram sebagai hutan pendidikan dengan luas sekitar 225 hektare. Pengelolaan kawasan ini diarahkan sebagai ruang kolaborasi antara kegiatan akademik dan aktivitas produktif masyarakat desa.
Di tengah potensi tersebut, masyarakat masih menghadapi tantangan pada tahap pascapanen, khususnya dalam proses pengeringan hasil pertanian. Selama ini, pengeringan masih dilakukan secara konvensional dengan memanfaatkan sinar matahari langsung. Metode ini sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama pada musim hujan dengan tingkat kelembapan tinggi. Dampaknya, waktu pengeringan menjadi lebih lama dan kualitas produk menurun, seperti munculnya jamur, aroma tidak sedap, serta warna produk yang kurang merata. Kondisi ini berpengaruh terhadap mutu dan nilai jual produk olahan tumpang sari.
Menjawab permasalahan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mataram menghadirkan inovasi berupa lemari pengering berbasis teknologi tepat guna. Alat ini dirancang dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat Desa Senaru. Bahan yang digunakan relatif mudah diperoleh, ramah lingkungan, serta berbiaya terjangkau. Desainnya dibuat sederhana agar mudah dioperasikan, dirawat, dan direplikasi secara mandiri oleh masyarakat.

Keberadaan lemari pengering ini terbukti memberikan dampak positif dalam mempercepat proses pengeringan hasil panen sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap kondisi cuaca. Sistem pengeringan yang lebih terkontrol mampu menjaga kebersihan serta mutu produk pertanian, sehingga potensi kerusakan akibat jamur, bau tidak sedap, maupun perubahan warna dapat diminimalkan. Lemari pengering ini dapat digunakan untuk berbagai komoditas hasil tumpang sari, seperti kopi, kakao, pisang, dan sejumlah produk pertanian lainnya yang menjadi andalan masyarakat Desa Senaru. Sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan alat, pada 1 Februari 2026 juga telah dilaksanakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat terkait tata cara penggunaan dan perawatan lemari pengering tersebut.
Salah seorang warga Desa Senaru menyampaikan bahwa keberadaan lemari pengering ini sangat membantu dalam proses pascapanen. “Selama ini kami sangat bergantung pada panas matahari. Dengan adanya lemari pengering ini, hasil panen bisa lebih cepat kering dan kualitasnya lebih terjaga, terutama saat cuaca tidak menentu,” ujarnya. Melalui inovasi teknologi tepat guna ini, diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal, memperkuat perekonomian masyarakat desa, serta mendukung pengelolaan kawasan hutan yang berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya secara bijak.

Selain lemari pemgering dan berbagai olahan produk tumpangsari, kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) juga menghasilkan inovasi produk berupa pupuk organik sederhana berbahan dasar nasi, gula pasir merah, dan campuran air cucian beras. Pupuk organik ini dibuat melalui proses fermentasi dengan mencampurkan seluruh bahan secara proporsional, kemudian disimpan dalam media tertutup selama kurang lebih tujuh hari agar proses fermentasi berlangsung optimal. Produk ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai alternatif pupuk ramah lingkungan yang mudah dibuat dari bahan rumah tangga, sekaligus mendukung praktik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan limbah organik di tingkat desa.











