• Latest
  • Trending
  • All
Musim Hujan dan Ancaman Banjir di Bima

Musim Hujan dan Ancaman Banjir di Bima

November 11, 2025

Penangguhan Pelantikan Kepala Kampung Reni Dinilai Langgar Asas Hukum Administrasi

Mei 16, 2026

Norman Ditubun Tegaskan Komitmen Bangun Kampung Nawaripi dan Desa Wisata Paieve Merah Putih Mil 21

Mei 16, 2026

ASPIRASI MASYARAKAT KAMPUNG RENI MENDESAK AGAR KEPALA KAMPUNG TERPILIH SEGERA DILANTIK

Mei 16, 2026

Antara Pembaharuan dan Jerat Kekuasaan: Ketika Reformasi Birokrasi Berhadapan dengan Mafia Sistem

Mei 16, 2026

Nation and Character Building ala Bung Karno: Menyelamatkan Arah Peradaban Indonesia

Mei 16, 2026

Ahli Waris Minta Komisi II Kawal Audit HGB Lahan Sengketa Bintaro Exchange

Mei 16, 2026

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah di Rp 17.597 per Dolar AS

Mei 16, 2026

INISIATOR Dorong Pemeritah Tingkatan Kesejahteraan Jaksa

Mei 16, 2026

Warga Kamoro Nawaripi Tuntut Hak Galian C dari PT Freeport Indonesia, Ini Landasan Hukumnya

Mei 16, 2026

DPC GMNI Jayawijaya Desak Pemerintah Fasilitasi Penghentian Perang Suku di Wamena

Mei 15, 2026

Malfungsi Negara di Tembagapura: Membedah Nekropolitik, Ekosida, dan Jerat Solusi PalsuOleh: Louis Fernando Afeanpah

Mei 15, 2026

Karateker KNPI Mimika Gelar Konsolidasi Bersama OKP Cipayung, Siap Mendukung  Pelaksanaan Rapimpurda Dan Musda KNPI Kabupaten Mimika

Mei 14, 2026
  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, Mei 16, 2026
  • Login
Siasat
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya
No Result
View All Result
Siasat
No Result
View All Result
Home Opini

Musim Hujan dan Ancaman Banjir di Bima

in Opini
0
Musim Hujan dan Ancaman Banjir di Bima
28
SHARES
315
VIEWS
Share on FacebookShare on Whatsapp

Musim hujan selalu membawa dua wajah bagi wilayah-wilayah di Indonesia: berkah air dan risiko bencana. Namun di Bima, Nusa Tenggara Barat, musim hujan telah berubah menjadi periode kecemasan yang berulang. Setiap awan gelap yang menggantung di atas pegunungan, masyarakat hampir pasti bertanya-tanya: “Desa mana yang akan terendam berikutnya?” Di daerah ini, hujan tidak lagi semata-mata fenomena alam—ia adalah pemicu kepanikan sosial, terutama sejak gunung-gunung yang dahulu menghijau kini berubah menjadi bukit gersang tak bercakar akar.

Kerusakan tutupan hutan menjadi faktor utama yang mengubah karakter hujan. Dulu, saat pepohonan masih lebat, air hujan jatuh seperti meresap di antara rimbunnya daun dan tertahan oleh sistem akar yang menumbuhkan kehidupan. Namun ketika gunung-gunung ditebang dan lahan-lahan direnggut untuk kepentingan sesaat, tanah kehilangan kemampuannya menahan air. Kini, hujan hanya butuh beberapa jam untuk mengubah sungai menjadi monster yang mengamuk dan menyeret lumpur turun ke perkampungan.

RelatedPosts

Anomali LPG di Timika: Antara Kelumpuhan Teknokratis dan Anarki Pasar

Perang dan Senjakala Kemanusiaan

Mudik dari Bali: ke Jawa, ke Lombok

Fenomena ini bukan lagi rahasia atau sesuatu yang tak terduga. Para peneliti lingkungan, lembaga swadaya masyarakat, bahkan warga sendiri telah lama memperingatkan bahwa hilangnya tutupan hutan akan menjadikan Bima sebagai wilayah rawan banjir bandang. Namun suara-suara itu sering tenggelam di tengah kepentingan ekonomi, pembiaran birokrasi, dan lemahnya pengawasan hukum. Ironisnya, setiap kali banjir melanda, pernyataan resmi pemerintah selalu terdengar sama: bencana alam, cuaca ekstrem, dan ketidakberuntungan. Padahal kerusakan lingkungan adalah ulah manusia.

Efek banjir di Bima tidak hanya merusak rumah dan lahan pertanian. Ia menghancurkan struktur kehidupan: pendidikan terhenti, jalan terputus, ekonomi lumpuh, dan masyarakat terjebak dalam pusaran kerugian. Air yang berlimpah saat musim hujan tidak pernah tersimpan sebagai cadangan—sehingga ketika kemarau tiba, Bima justru kekurangan air bersih. Inilah paradoks ekologis yang paling brutal: kebanjiran saat hujan, kehausan saat kemarau.

Langkah solusi kerap terdengar sebagai wacana. Reboisasi hanya berjalan saat proyek berjalan. Penertiban penebangan liar sering kali berhenti pada kampanye, bukan penindakan. Masyarakat kecil diminta bersabar, sementara pengambil keuntungan dari eksploitasi hutan tetap melangkah tanpa konsekuensi. Bahkan jika penanaman pohon dilakukan, tanpa pengawasan dan perawatan, bibit itu mati sia-sia.

Menelisik lebih jauh persoalan ini berarti mengakui bahwa banjir di Bima bukan sekadar datang dari langit—ia datang dari kebijakan yang lemah. Pemerintah membutuhkan keberanian politik untuk menindak perusak hutan, mengembalikan fungsi ekologis gunung, dan melibatkan masyarakat dalam pemulihan. Tanpa langkah-langkah konkret, Bima akan terus hidup dalam ketakutan setiap kali musim hujan datang.

Pada akhirnya, hujan bukan musuh. Hujan tetap berkah jika alam dibiarkan bekerja sebagaimana mestinya. Yang menjadi musuh adalah ketidakpedulian. Jika Bima ingin kembali aman, hijau, dan berdaya, maka hutan harus kembali berdiri, sungai harus kembali bersih, dan manusia harus kembali menghormati alam yang selama ini menjadi penopang kehidupan. Sebab selama gunung tetap gundul, bencana hanya menunggu giliran.

Penulis: Ipa Bahya
Editor: Hamran

Tags: Fenomena Alam
Share11SendShare
Redaksi

Redaksi

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Mahasiwa KKL UNSA Desa Pemasar Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Agustus 1, 2023
Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Che Guevara: Jika Anda Bergetar dan Geram Setiap Melihat Ketidakadilan, Maka Anda Adalah Kawan Saya

Agustus 26, 2022

PERNYATAAN SIKAP ATAS TINDAKAN OKNUM APARAT YANG MEMASUKI PASTORAN KATEDRAL TIGA RAJA MIMIKA TANPA IZIN DAN ETIKA

April 28, 2026
DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

DPD PSI Pemalang Apresiasi langkah KPK dalam OTT terhadap Sejumlah Pejabat Pemkab Pemalang

1
Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

Ramaikan Hari Kemerdekaan, Karang Taruna Limbangan Adakan Lomba Layang-layang

1
Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

Wujud Solidaritas, IKA SMANCO galangkan Santunan Muharam Anak Yatim

1

Penangguhan Pelantikan Kepala Kampung Reni Dinilai Langgar Asas Hukum Administrasi

Mei 16, 2026

Norman Ditubun Tegaskan Komitmen Bangun Kampung Nawaripi dan Desa Wisata Paieve Merah Putih Mil 21

Mei 16, 2026

ASPIRASI MASYARAKAT KAMPUNG RENI MENDESAK AGAR KEPALA KAMPUNG TERPILIH SEGERA DILANTIK

Mei 16, 2026
Siasat

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Navigate Site

  • Pengelola
  • Pedoman Pemberitaan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Nusantara
  • Ekonomi Bisnis
  • Budaya

Copyright © 2023 Siasat.ID.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In