Oleh Suradin, penulis pembelajar.
Siasat.id – Nampaknya waktu terasa begitu cepat berlalu. Banyak lipatan kisah yang berkelindan. Ada yang bisa dikenang lalu mengendap dalam memori, namun tidak sedikit hilang bersama lajunya waktu. Seiring berjalannya waktu kadang kita akan bertemu dengan orang baru, di tempat baru hingga meninggalkan kesan yang mendalam. Suatu saat, kala waktu berpihak hingga bersua kembali dengan orang yang sama kebahagiaan nampak terasa.
Itu yang saya rasakan ketika dapat bersua kembali dengan seorang anak muda yang kini masih menyandang status mahasiswa. Sebut saja namanya Afrin. Ia sedang mengikuti program kuliah kerja nyata (KKN) dari kampusnya di salah satu desa di kecamatan Woha, Kabupaten Bima – NTB, Sabtu, (9/9/23)
Saya dan Afrin sudah setahun tidak pernah bertemu dan berdiskusi. Iya, kami berdua sangat senang berdiskusi dan berbagi pengalaman. Sebagai mahasiswa, Afrin sangat menggandrungi diskusi: tidak hanya di bangku kuliah, tapi juga di luar kampus selain menambah perbendaharaan wawasan juga menambah pertemanan.
Perjumpaan saya dengan anak muda yang masih berusia 22 tahun ini, nampak kebetulan. Sehari sebelumnya saat ingin menunaikan ibadah sholat magrib di Masjid terdekat, kami berjalan beriring ketika memasuki pintu masjid usai mengambil air wudhu. Saya tiba-tiba di sapa dan seketika mengarah ke sumber suara, ternyata Afrin. Setelah perjumpaan yang kebetulan itu, saya pun berjanji akan menyambangi Afrin di poskonya. Tempat dimana ia dan teman sesama KKN menginap selama dua bulan ke depan.
Jadilah hari ini saya datang melihatnya. Anak muda yang mengambil jurusan ekonomi di STKIP Bima ini sedang duduk santai saat saya datang dengan mengendarai kuda besi merek jupiter. Melihat saya turun dari motor ia menyambut hangat dengan senyum merekah yang tak lepas dari mulutnya. Kami salaman sabagai tanda perjumpaan.
Di sore hari yang cerah, kami berbagi kabar. Berbagi cerita tentang masa-masa yang menyibukan seolah tak ada ruang untuk berbagi kabar sebelumnya. Jika Afrin sedang mengikuti program pengabdian masyarakat dari kampusnya, sementara saya ada sini hanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan mengikuti arah semesta. Ketika saya menanyakan tujuan dari kegiatannya, Afrin menjawab singkat.
“Bisa menerapkan pengabdian terhadap masyarakat, dengan sikap sosial yang baik. Sehingga memberikan dampak yang baik pula terhadap diri sendiri maupun masyarakat” terangnya.
Sebagai agen of change, Afrin dan teman-temannya memang menjadi garda terdepan memberikan arah perubahan bagi kehidupan masyarakat dimana pun mereka berada. Dengan embun-embun pengetahuan yang mereka pelajari di kampus, kini saatnya diimplementasikan dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Bahkan ini menjadi momentum yang tepat untuk menyesuaikan segala konsep dan teori yang pernah dipelajari dengan realitas lapangan. Karena kadang kala, apa yang pernah dipelajari di bangku kuliah tidak relevan dengan kondisi riil di masyarakat. Maka dengan penerapan pengabadian masyarakat seperti inilah diharapkan kesesuaian antara teori dengan realitas lapangan.
Di samping itu, perjumpaan saya dengan Afrin kemudian menjurus membahas tentang literasi. Karena Afrin sendiri setahu saya menyukai diskusi tentang literasi, selain topik yang lain. Afrin ingin belajar menulis, bahkan di kampusnya Afrin menggagas unit kegiatan mahasiswa pers mahasiswa. Karena menurutnya, ini penting diwujudkan mengingat pers kampus bisa menjadi corong informasi bagi dunia luar yang tidak mengetahui aktivitas warga kampus.
Namun perjuangan Afrin untuk mewujudkan idenya itu tidaklah mudah. Walau sudah pernah ia presentasikan ke pihak kampus mengenai pentingnya pers mahasiswa, namun sejauh ini belum ada kabar gembira. Namun demikian, ia masih menaruh harap agar pers mahasiswa bisa diwujudkan di masa yang akan datang. Dengan perkembangan teknologi dan era digitalisasi yang semakin masif ini, maka dipandang penting adanya pers mahasiswa.
Setelah sekian menit berdiskusi, kami pun memutuskan untuk mengakhiri. Pasalnya, Afrin segera harus bergabung dengan teman-temannya di sekolah dasar terdekat, karena ada dosen pembimbing lapangannya yang datang. Dan juga ada kegiatan literasi yang sedang dilakukan oleh teman-temannya.
Dan sebelum benar-benar berpisah, kami pun berjanji akan kembali bertemu lagi. Karena ada kisah yang belum selesai wartakan. Tiba-tiba saya teringat lirik lagu band Endank Soekamti.
“Datang akan pergi, lewatkan berlalu ada kan tiada bertemu akan berpisah”














